"Kembali Ke Dasar Elektronika Digital ... "

Sabtu, 08 Mei 2021

Tantangan Teknis Implementasi DVB-T2 di Indonesia (Part 3 - Kondisi Sebelum UU Cipta Kerja)



Indonesia adalah negara besar di perbatasan Pasifik Utara dan Samudra Hindia. Itu juga terletak di antara dua benua besar: Asia dan Australia. Indonesia terdiri dari kawasan Asia Tenggara dan berbatasan darat dengan Malaysia, Timor Leste, dan Papua Nugini. Indonesia merupakan wilayah daratan terluas ke-14.244 (1.811.570 km (Bank Dunia, 2011) dan jumlah penduduk terbesar ke-4 (246.864.191) (Bank Dunia, 2012c). Ditambah dengan PDB per kapita sebesar US $ 3.557 (Bank Dunia, 2012b), penurunan pertumbuhan PDB dari 6,5% menjadi 6,2% pada tahun 2011 dan 2012 masing-masing (Bank Dunia, 2012a), dan jumlah perusahaan penyiaran televisi sebanyak 500 (infoasaid.org, 2012), itulah beberapa tantangan utama yang dihadapi Indonesia. 



Part 5 - Pembahasan


Perumusan, penetapan, dan implementasi kebijakan di bidang komunikasi dan informatika, termasuk transisi penyiaran digital, dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Menkominfo, 2013a). Indonesia menggelar uji coba siaran digital pertama pada tahun 2006 ( Putra, 2006) Uji coba menggunakan frekuensi UHF 27 untuk menguji Digital Terrestrial Multimedia Broadcasting (DTMB) yang dikembangkan oleh China dan UHF 34 untuk menguji DVB-T dan DVB-H (DVB untuk penerima Genggam seperti telepon seluler dan PDA) (dvb. Or g, 2011; Menkominfo, 2006). 


DTMB menggunakan 500 watt dan 16 antena panel transmitter, sedangkan DVB-T / H menggunakan 425 watt dan 4 antena panel transmitter. Kedua pemancar tersebut berada di tempat yang sama dan terdapat pemancar lain yang terletak di wilayah berbeda untuk menguji Jaringan Frekuensi Tunggal (SFN) - jaringan di mana sejumlah pemancar bekerja pada frekuensi radio yang sama (dvb.org, 2012 ). 




Dalam uji coba ini, Indonesia berhasil melakukan Overlay Multiplexing baik pada sinyal DVB-T maupun DVB-H dan sinyal tersebut dapat dipancarkan dalam satu spektrum frekuensi UHF 34 (578 MHz) pada bandwidth 8MHz. Ini membuktikan efisiensi penggunaan kanal frekuensi yang dapat digunakan oleh tiga program untuk DVB-T (MPEG-2 streaming pada 2Mbps) dan 8 program untuk DVB-H (MPEG-4at 384 Mbps). Indonesia melakukan uji coba lagi untuk DVB-T di lokasi berbeda pada tahun 2008 (Menkominfo, 2012a). 


Dan setelah rilis DVB-T2 pada tahun 2009, Indonesia melakukan uji coba teknologi baru pada tahun yang sama dan juga berhasil. Kemudian Indonesia memutuskan adopsi standar transmisi baru ini pada tahun 2012. Jalan penyiaran digital Yusuf (2012) juga menyebutkan bahwa DVB-T dipilih karena jaminan hemat bandwidth yang dapat dicapai melalui teknologi multiplexing. Yusuf (2012) juga mengutip penjelasan MCIT bahwa DVB-T2 dipilih untuk menggantikan DVB-T karena adanya peningkatan teknologi baru di dalamnya, seperti penggunaan MPEG-4, hemat energi, dan kemampuan memuat 12 konten. program sementara DVB-T hanya mengizinkan 6 program konten (Yusuf, 2012). 




Roadmap transisi penyiaran digital terbagi menjadi 3 tahap yaitu Tahap I tahun 2009-2013, Tahap II tahun 2014-2017, dan Tahap III tahun 2018. Tahap pertama berkonsentrasi pada uji coba lapangan dan pemilihan perizinan baru untuk penyiaran digital dan pelaksanaan siaran langsung. Fase ini juga berupaya mendorong industri lokal untuk memproduksi set-top-box. Fase kedua akan melanjutkan periode siaran langsung dan mempercepat perizinan baru di distrik ekonomi yang kurang berkembang. Fase terakhir adalah analog switch off di seluruh wilayah Indonesia (Menkominfo, 2012a). 




Terdapat 718 stasiun transmisi televisi terestrial analog dan 79 pemegang izin siaran di Indonesia. Dan itu terus meningkat meski isu tentang penyiaran digital sudah diangkat. Ada lima jenis perusahaan atau lembaga penyiaran di Indonesia: publik, swasta, komunitas, langganan, dan perusahaan penyiaran asing (Presiden Republik Indonesia, 2002). Masyarakat membuat beberapa asosiasi berdasarkan jenis-jenis ini, seperti Asosiasi Televisi Lokal Indonesia, Asosiasi Televisi Demokrasi Indonesia, Asosiasi Televisi Komunitas Indonesia, dan Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (asteki.com , 2013; atvki.com, 2013; atvli.com, 2013; p3ipusat.com, 2013). 




Transisi dari penyiaran analog ke digital membutuhkan perubahan model bisnis. Indonesia menyatakan bahwa perubahan tersebut dari vertikal ke horizontal. Dalam siaran analog, penyiar mengatur konten dan penggunaan frekuensi, memiliki infrastruktur dan menara. Namun dalam siaran digital, ada fungsi lain, yaitu penyelenggara broadcast multiplexing (BMO) atau LPPPM (dalam bahasa Indonesia). BMO memiliki ijin frekuensi, menyediakan menara dan infrastruktur multipleks. Isi program akan disediakan oleh penyelenggara program siaran (BPO) atau LPPPS (dalam bahasa Indonesia). 




Indonesia membagi wilayahnya yang luas menjadi 15 zona transisi penyiaran digital. Gambar diatas menunjukkan peta zona-zona ini. Setelah melakukan beberapa kali uji coba pada tahun 2006 hingga 2009 dan berubah dari DVB-T menjadi DVB-T2, Indonesia juga telah melakukan mekanisme sosialisasi melalui internet, konferensi, talkshow, dan survey audience. Pada tahun 2010, Indonesia meluncurkan pemancar digital di tiga kota metropolitan (MCIT, 2012a). Menkominfo meluncurkan beberapa regulasi pada tahun 2011 hingga 2012. Dan hingga 2013, Menkominfo telah menyeleksi BMO di 7 zona: zona 1, 4, 5, 6, 7, 14, dan 15 (ak, 2013) dan seluruh BMO telah membangun infrastruktur sebagai komitmen (Menkominfo, 2013b). 




Indonesia sudah mengatur parameter teknis DVB-T2 yang harus menjadi arahan untuk membangun infrastruktur atau perangkat dalam penyiaran digital. Tabel 3 menunjukkan parameter teknis. Regulasi yang mengatur parameter teknis untuk pemancar sudah diotorisasi tetapi belum untuk penerima.


Dari Penelitian : Tri Anggraeni  - Sekolah Tinggi Multi Media MMTC -Yogyakarta -  2014

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Kontak Penulis



12179018.png (60×60)
+628155737755

HP: 081331339072
Mail : ahocool@gmail.com

Site View

Categories

555 (8) 7 segmen (3) adc (4) amplifier (2) analog (13) android (12) antares (3) arduino (16) artikel (5) attiny (2) attiny2313 (18) blog (1) bluetooth (1) cmos (2) crypto (2) dasar (41) display (3) esp8266 (3) euro2020 (11) gcc (1) iklan (1) infrared (2) Input Output (3) iot (23) jam (6) jualan (12) kereta api (1) keyboard (1) keypad (3) kios pulsa (2) kit (6) komponen (15) komputer (3) komunikasi (1) kontrol (7) lain-lain (8) lcd (2) led (13) led matrix (6) line tracer (1) lm35 (1) memory (1) metal detector (4) microcontroller (56) mikrokontroller (10) mikrotik (5) ninmedia (2) ntp (1) paket belajar (19) palang pintu otomatis (1) parabola (66) pcb (2) praktek (2) project (33) proyek (1) python (1) radio (13) raspberry pi (4) remote (1) revisi (1) rfid (1) robot (1) rpm (2) rs232 (1) script break down (3) sdcard (3) sensor (1) sharing (3) signage (1) sinyal (1) sms (6) software (18) solar (1) solusi (1) tachometer (2) technology (1) teknologi (2) telepon (9) televisi (135) television (21) transistor (2) troubleshoot (3) tulisan (81) tutorial (80) tvri (2) vu meter (2) vumeter (2) wav player (3) wayang (1) wifi (3)

Arsip Blog

Diskusi


kaskus
Forum Hobby Elektronika