Semua Tentang Belajar Teknologi Digital Dalam Kehidupan Sehari - Hari

  • IC Timer 555 yang Multifungsi

    IC timer 555 adalah sirkuit terpadu (chip) yang digunakan dalam berbagai pembangkit timer, pulsa dan aplikasi osilator. Komponen ini digunakan secara luas, berkat kemudahan dalam penggunaan, harga rendah dan stabilitas yang baik

  • Ayo Migrasi TV Digital

    Kami bantu anda untuk memahami lebih jelas mengenai migrasi tv digital, apa sebabnya dan bagaimana efek terhadap kehidupan. Jasa teknisi juga tersedia dan siap membantu instalasi - setting perangkat - pengaturan antena dan distribusi televisi digital ke kamar kos / hotel

  • Bermain DOT Matrix - LOVEHURT

    Project Sederhana dengan Dot Matrix dan Attiny2313. Bisa menjadi hadiah buat teman atau pacarmu yang ulang tahun dengan tulisan dan animasi yang dapat dibuat sendiri.

  • JAM DIGITAL 6 DIGIT TANPA MICRO FULL CMOS

    Jika anda pencinta IC TTL datau CMOS maka project jam digital ini akan menunjukkan bahwa tidak ada salahnya balik kembali ke dasar elektronika digital , sebab semuanya BISA dibuat dengan teknologi jadul

  • Node Red - Kontrol Industri 4.0

    Teknologi kontrol sudah melampaui ekspektasi semua orang dan dengan kemajuan dunia elektronika, kini semakin leluasa berkreasi melalui Node Red

Tampilkan postingan dengan label parabola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parabola. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2024

Cara Upgrade Receiver Ninmedia Menjadi Nusantara Transvision





Kabar gembira bagi pemilik receiver legendaris seri Oracle yang dulu dipakai menonton ninmedia di satelit chinasat 11 atau kugosky di asiasat 9,  kini dapat di upgrade menjadi Nusantara Transvision dengan langkah berikut :








Jika sinyal sudah bagus ke satelit  measat di 3 transponder 12603V, 12603H dan 12643V (Symbol Rate 30000), lakukan upgrade OTA di receiver oracle kamu, atau upgrade dengan file usb yg bisa diunduh di :





Masuk ke menu OTA :
  • Pencet remote cari tombol  menu
  • Geser ke kanan cari menu Instalasi
  • Pilih Upgrade OTA lalu tekan OK
  • Masukkan parameter dibawah 
  • Tekan Mulai




Parameter OTA :
  • Satelit : Measat 3b
  • Frekuensi : 12603
  • Symbol Rate : 30000
  • Polaritas : Vertikal
  • PID : 04000, 05000, 06000, 07000 (pilih salah satu)










Jika sudah selesai upgrade maka oracle kamu akan rebooting. Untuk mendapatkan  SMC ID / STB ID bisa dengan pencet tombol merah pada remote atau menuju menu NES => SMC INFO. Jika SMC muncul 0, Lakukan aktivasi di :





Gunakan nomer smartcard id yg diambil dari chip id / chip id dec tanpa 00 didepan.


Setelah sukses maka anda bisa menyaksikan siaran lokal terbuka 1 hari saja, selanjutnya bisa beli paket seperti biasa,  via aplikasi tanaka, aplikasi pulsa synet atau lewat web :
 



Selamat mencoba...
Share:

Rabu, 24 Januari 2024

TV Digital : Solusi Borosnya Penggunaan Bandwidth TV Streaming di Hotel



Dalam menghadapi era hiburan digital, hotel kini dihadapkan pada tantangan baru terkait manajemen bandwidth akibat peningkatan penggunaan Smart TV dan layanan TV streaming di kamar. Sebagai salah satu alternatif hiburan modern, TV streaming memang memberikan berbagai pilihan konten kepada tamu, namun pada saat yang sama, dapat menimbulkan beban signifikan terhadap infrastruktur jaringan hotel.


Pandangan Umum:


Saat tamu hotel menggunakan layanan TV streaming, ini tidak hanya memerlukan koneksi internet yang cepat tetapi juga menghabiskan sejumlah besar bandwidth Internet. Dalam konteks ini, perbandingan dengan TV Digital UHF terestrial dan MATV / Parabola menjadi krusial untuk memahami sejauh mana penggunaan bandwidth TV streaming dapat menjadi faktor boros dalam lingkungan hotel.


Dalam tulisan ini, kita akan mengeksplorasi dampak borosnya penggunaan bandwidth TV streaming di hotel dan bagaimana hal ini memengaruhi pengalaman tamu serta ketersediaan sumber daya jaringan.


Perbandingan Bandwidth:


  • TV Terestrial (UHF): Menyediakan saluran lokal tanpa memerlukan bandwidth internet tambahan. Namun, dapat memiliki batasan dalam hal variasi konten.
  • TV Streaming: Memerlukan bandwidth internet yang signifikan untuk menyampaikan konten dengan kualitas tinggi. Pilihan konten yang luas dapat menambah beban pada infrastruktur jaringan hotel.
  • MATV / Parabola: Sistem distribusi ini memanfaatkan satu antena (parabola) di pusat untuk menyampaikan saluran TV, mengurangi kebutuhan bandwidth internet. Namun, mungkin kurang fleksibel dalam menyediakan konten on-demand.



Sistem MATV Hotel berbasis parabola yang banyak perangkat dan butuh perawatan berkala



Tantangan Manajemen Bandwidth:


  • Kecepatan Internet: Hotel perlu memastikan kecepatan internet yang memadai untuk menangani penggunaan TV streaming tanpa mengorbankan kualitas layanan lainnya.
  • Infrastruktur Jaringan: Perluasan dan pemeliharaan infrastruktur jaringan menjadi penting untuk mengakomodasi peningkatan penggunaan bandwidth, terutama saat terdapat banyak tamu yang menggunakan layanan streaming secara bersamaan.
  • Biaya dan Keberlanjutan: Borosnya penggunaan bandwidth dapat berdampak pada biaya operasional hotel. Hotel perlu mengevaluasi model bisnis yang berkelanjutan dan efisien dalam menyediakan layanan hiburan.


Mengapa Ini Penting?


Dalam menghadapi tantangan ini, hotel perlu memahami sejauh mana penggunaan TV streaming dapat memberikan dampak signifikan pada manajemen bandwidth. Dengan mengevaluasi opsi seperti TV terestrial dan MATV, hotel dapat mencari keseimbangan yang optimal antara penyediaan hiburan berkualitas dan pengelolaan sumber daya jaringan yang efisien. Mari kita eksplorasi lebih lanjut untuk memahami bagaimana hotel dapat menyediakan hiburan yang unggul tanpa mengorbankan ketersediaan bandwidth.



Apakah Siaran Digital UHF Menjadi Solusi ?


Dalam mengejar solusi yang efisien dan ekonomis untuk menyajikan hiburan kepada tamu hotel, TV UHF digital terestrial muncul sebagai alternatif yang menarik. Sementara TV streaming dan MATV memang memberikan berbagai opsi, pilihan ini dapat memberikan keseimbangan yang optimal antara kualitas hiburan dan manajemen biaya di lingkungan hotel.





TV UHF digital terestrial menyediakan saluran TV lokal dengan menggunakan antena terestrial, tanpa perlu mengandalkan koneksi internet atau biaya langganan. Dengan kualitas gambar yang tajam dan suara yang jernih, solusi ini memberikan pengalaman menonton yang dapat memenuhi harapan tamu, sambil tetap meminimalkan beban pada infrastruktur jaringan hotel.


Dalam tulisan ini, kita telah membahas tantangan penggunaan bandwidth TV streaming dan pertimbangan terkait TV terestrial. Sebagai solusi yang lebih hemat biaya, TV UHF digital terestrial memberikan opsi yang layak bagi hotel untuk memberikan pengalaman hiburan yang memuaskan tanpa meningkatkan beban finansial.





Keuntungan TV UHF Digital Terestrial:


  • Biaya Langganan: Tanpa biaya langganan bulanan (Free To Air) yang diperlukan untuk menonton TV. Bandingkan jika menggunakan tv streaming seperti netflix, disney+ dll.
  • Saluran Nasional lengkap: Dengan sistem multiplexing memungkinkan satu kota bisa terdapat 30-50 saluran tv GRATIS (Free To Air)
  • Ketersediaan Saluran Lokal: Menyediakan saluran lokal tanpa tergantung pada koneksi internet.
  • Kualitas Gambar dan Suara: Menyajikan kualitas gambar dan suara yang tinggi (HD) tanpa terpengaruh oleh kecepatan internet.



Skema dasar distribusi TV digital di hotel



Implementasi Yang Efisien:

  • Infrastruktur yang Sederhana: Penggunaan antena terestrial meminimalkan kebutuhan akan infrastruktur jaringan yang kompleks.
  • Biaya Pemeliharaan Rendah: TV UHF digital terestrial umumnya memerlukan sedikit pemeliharaan dan dapat beroperasi dengan biaya rendah.
  • Fleksibilitas Konten: Meskipun tidak sefleksibel TV streaming dalam menyajikan konten on-demand, TV UHF digital terestrial dapat memberikan ketersediaan saluran lokal dan internasional yang memadai.
  • Minim Perawatan: Dibanding sistem TV kabel / MATV / Parabola yang butuh perawatan perangkat RF booster secara berkala, maka dengan sistem digital UHF ini akan jauh menekan biaya perawatan.




TV digital di Jakarta mencapai 50 saluran


Menyuguhkan Pengalaman Hiburan yang Memuaskan:


Dengan mengeksploitasi teknologi TV UHF digital terestrial, hotel dapat memberikan pengalaman hiburan yang memuaskan tanpa merusak anggaran. Ini memberikan pilihan terjangkau yang tetap memberikan kepuasan kepada tamu, serta mendukung visi hotel dalam memberikan layanan unggul di bidang hiburan.

Sebagai penutup, memilih solusi yang tepat untuk menyajikan hiburan di hotel bukan hanya tentang teknologi terkini, tetapi juga tentang memahami kebutuhan tamu dan menjaga keseimbangan antara kualitas dan efisiensi biaya. Mari bersama-sama membangun pengalaman menginap yang tak terlupakan melalui solusi yang cerdas dan hemat biaya.




Share:

Selasa, 14 Februari 2023

Ninmedia [mati] jadi KugoSky [mati] jadi .. ehh kini ke measat, akan bertahan lama ?


 


Praktek tandem LNB diatas merupakan ciri khas para teknisi parabola yang aktif di medio 2017-2020 jaman ninmedia masih di chinasat 11. Kawan tandem dari  satelit yang berada pada 98 derajat bujur timur itu adalah satelit Measat 91.3 derajat atau SES9 108 derajat. Dengan penggabungan 2-3 LNB ku maka siaran Free to air menjadi lumayan banyak dan juga dimanfaatkan secara komersial oleh produsen perangkat parabola menjadi LNB Monoblok. 




Apa itu LNB monoblok?


Jenis LNB ini terdiri dari dua LNB independen dalam satu housing dan memungkinkan pengguna untuk menerima sinyal dari dua satelit berbeda yang berada pada oposisi orbit yang sedikit berbeda dari instalasi piringan tunggal. Perpindahan antar satelit (pada dekoder / receiver ) dicapai melalui penggunaan pembagi DiSEqC . LNB Monoblok umumnya pada 2 satelit dengan jarak tetap 4,3° atau 6° dan jangkauannya dekat saja, baik untuk keluaran tunggal, kembar dan empat.

 

Contoh di mana LNB monoblok 6° dapat digunakan adalah untuk penerimaan ASTRA 1 (19,2° BT) dan Hotbird (13° BT) atau dengan jarak 4,3° untuk penerimaan ASTRA 1 (19,2° BT) dan ASTRA 3 (23,5 ° Timur).


Untuk jarak yang lebih jauh maka hadir pula braket multi LNB yang dapat digeser-geser sesuai jarak 2 atau lebih satelit yang di inginkan.






Namun pada perkembangan selanjutnya, cilakanya Ninmedia kemudian bubar dan diambil alih Tiviplus lalu Kugosky di satelit Asiasat9 (122 E) yang bernasib tragis hanya bertahan setahun lalu hilang menyelamatkan diri masing masing.




Apa ya kira-kira yang ada di pikirkan pemilik provider "channel leasing" ini  ? Mereka sepertinya memiliki kewajiban untuk melanjutkan channel hosting yang terlanjur kontrak ke mereka. Namun sepertinya pemilihan transponder baru di " bekas " frekuensi transvision sepertinya hanya memanfaatkan sisa kontrak penyewaan transponder ke pihak pengelola di  Kuala Lumpur. 



Lalu bagaimana saat kontrak transvision diperpanjang hanya untuk 4 transponder saja atau kemungkinan lainnya paytv pak CT hengkang dari measat? Hanya tuhan dan jimmy fenton yang paham kedepannya akan bagaimana. 

Share:

Selasa, 10 Mei 2022

TV Publik Swiss Menghentikan Siaran Digital Teresterial Tahun 2019 - Kita Indonesia ...



Swiss merupakan negara kecil di Eropa dengan status negara netral yg diapit 4 negara besar sehingga mempengaruhi sistem kenegaraannya. Sistem demokrasi langsung Swiss dan fakta bahwa negara itu memiliki empat bahasa resmi (Bahasa Jerman, Prancis, Italia dan Romansh) berarti bahwa struktur penyiaran pelayanan publik Swiss agak rumit. Pemegang sebenarnya dari izin penyiaran adalah SRG SSR sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan empat asosiasi penyiaran regional: SRG idée suisse Deutschschweiz (SRG.D), SSR idée suisse Romande (RTSR), Società cooperativa per la radiotelevisione nella Svizzera italiana (CORSI), dan SRG SSR idée suisse Svizra Rumantscha (SRG.R). Keempat asosiasi, yang untuk sebagian besar dijalankan independen oleh pendengar dan pemirsa di setiap daerah, menjadikan  SRG SSR sebagai  pusat produksi penyiaran bersama dan perusahaan penyiaran publik.

Namun Swiss telah mematikan layanan televisi terestrial digital (DTT) free-to-air pada tahun 2019. Keputusan tersebut didasarkan pada penetrasi DTT yang sangat rendah di Swiss dan peningkatan langganan IPTV yang terus berlanjut. Langkah ini merupakan bagian dari paket tindakan penghematan biaya yang disepakati antara penyiar publik Swiss SRG dan Dewan Federal Swiss setelah referendum 'No Billag' atau Tanpa Iuran baru-baru ini.

Platform siaran free-to-air utama di Swiss tetap melalui layanan satelit berbasis DVB-S2. Sebagian besar rumah tangga Swiss menerima paket TV dasar dalam langganan broadband mereka, yang menjelaskan peningkatan penerimaan IPTV dalam beberapa tahun terakhir. IPTV sudah memiliki penetrasi 48,4% pada tahun 2016 menurut EBU Media Intelligence Service. Seorang juru bicara SRG mengatakan bahwa perusahaan memperkirakan pemutusan DTT hanya akan mempengaruhi sekitar 64.000 rumah tangga. Ada 2,7 juta rumah tangga yg memiliki TV di Swiss.



Terjadi  perubahan kebiasaan menonton TV




Keputusan Swiss juga merupakan cerminan dari perubahan kebiasaan menonton, di mana ada pergeseran yang lebih besar ke konsumsi konten online. HbbTV (Hybrid broadcast broadband TV ) merupakan bagian integral dari proposisi Swiss pada kabel, IPTV, satelit dan DTT, dan proyek DVB dalam memfasilitasi pengiriman broadband layanannya melalui DVB-I dan teknik lain mengatasi perubahan ini.

Pasar lain di Eropa memiliki ketergantungan yang jauh lebih kuat pada DTT daripada Swiss. Penetrasi rata-rata untuk DTT di set utama untuk EU27 adalah 27,7%, dengan Kroasia, Yunani, Italia, dan Spanyol semuanya memiliki tingkat di atas 50%.

Sebagian besar negara yang meluncurkan layanan DTT hari ini memilih DVB-T2. Karena negara-negara Eropa yang masih menggunakan DVB-T merencanakan transisi mereka ke DVB-T2, layanan akan terus berkembang karena platform mereka diperkaya dengan UHD, HDR, dan layanan lanjutan yang ditingkatkan. “DVB sangat bangga untuk terus menjadi tulang punggung televisi digital, di Eropa dan di seluruh dunia, tidak peduli bagaimana hal itu disampaikan,” kata Peter MacAvock, ketua Proyek DVB.


Swiss tentu saja merupakan kasus khusus sebagian karena medan pegunungan kurang menguntungkan untuk perambatan sinyal DTT. Hanya 1,9% atau 64.000 rumah di Swiss sekarang menggunakan DVB-T untuk penerimaan TV utama menurut SRG. Sisanya menggunakan IPTV, kabel atau DTH, dengan SRG merekomendasikan agar rumah yang terpengaruh oleh pemutusan memilih yang terakhir karena menawarkan penerimaan yang jauh lebih baik sementara juga bebas mengudara.

Faktor lain adalah bahwa SRG menghadapi tekanan yang semakin besar untuk memangkas biaya karena tetap didanai oleh biaya lisensi, yang akan tetap berlaku setelah 71,6% pemilih negara itu menolak inisiatif No Billag untuk menghapuskan biaya iuran televisi dalam referendum yang diadakan pada Maret 2018. Ini berperan penting dalam gerakan untuk menghentikan DTT dan berkonsentrasi untuk menawarkan alternatif yang jelas untuk TV komersial, yang dengan sendirinya menimbulkan biaya.




Membuat Gaduh Dunia Pertelevisian


Kandidat yang paling mungkin untuk mengikuti langkah Swiss dalam waktu dekat adalah negara-negara di mana penetrasi DTT telah merosot ke tingkat yang rendah dengan alternatif broadband kecepatan tinggi, TV kabel dan satelit lebih mendominasi. Di Belgia dan Belanda, TV satelit sebagian besar merupakan pilihan cadangan tetapi broadband dan kabel telah menyapu pasar DTT dan kemungkinan besar menuju jalan keluar dalam beberapa tahun ke depan. Di Belgia, malaikat maut sudah melayang di atas DTT dengan penyiar publik berbahasa Belanda VRT menghentikan siaran DVB-T-nya pada 1 Desember 2019. Hal ini memengaruhi tiga saluran utama VRT Eén, Canvas, dan Ketnet, yang saat ini tersedia gratis untuk- udara di seluruh negeri, yang hanya 45.000 orang masih menonton DTT, sementara biaya lebih dari €1 juta per tahun untuk mempertahankan. VRT mengatakan akan menginvestasikan kembali uangnya pada platform online VRT Nu gratis yang memiliki 1,125 juta pengguna terdaftar.


Swedia dan Finlandia mungkin merupakan negara Eropa berikutnya yang meninggalkan DTT, tetapi untuk alasan yang berbeda, karena perubahan yang kuat menuju 4G LTE sebagai sumber konten video di ponsel cerdas dan tablet. Memang benar bahwa Swedia telah bermigrasi dari DVB generasi pertama ke DVB-T2, tetapi telah dikurangi karena penurunan permintaan. Rencana awalnya adalah untuk mengirimkan sejumlah besar saluran HD melalui DVB-T2 tetapi setelah berkonsultasi dengan penyiar, perusahaan pemancar negara Tracom merevisi perkiraannya ke bawah dan sekarang dengan pengurangan kapasitas DTT hanya akan mempertahankan layanan yang ada. Seperti yang diakui Tracom, jumlah penerima dengan dukungan DVB-T2 jauh lebih sedikit dari yang diharapkan atau diantisipasi.

Langkah Swiss juga telah memicu beberapa kesedihan di AS atas masa depan DTT di sana yang tampak aman di masa mendatang. Setelah semua upaya besar telah dilakukan dalam mengembangkan generasi ketiga dari standar DTT Amerika Utara yang berlaku, ATSC 3.0, yang bertujuan untuk melompati versi DTT lainnya dengan dukungan untuk UHD pada resolusi 2160p 4K pada 120 frame per detik dan iklan bertarget.


Ini telah dirancang dengan mempertimbangkan konvergensi seluler di sekitar 5G lebih dari sekadar DVB-T2, sementara juga memfasilitasi TV hibrida yang menggabungkan OTT dan siaran menggunakan pengiriman video MPEG DASH melalui broadband. Faktanya, Forum Industri DASH (DASH-IF) mengembangkan profil interoperabilitas DASH khusus untuk ATSC 3.0.

Dengan latar belakang ini, masa depan DTT di AS tampak aman. Bagaimanapun juga ATSC 3.0 telah mendapatkan daya tarik di tempat lain, termasuk Korea Selatan yang meluncurkan layanan ATSC 3.0 terestrial pada Mei 2017 sebagai persiapan untuk Olimpiade Musim Dingin 2018.

Namun jaringan utama AS seperti NBC, CBC, ABC dan Fox tidak dipaksa untuk menyiarkan saluran mereka melalui DTT dan jika mereka mau, dapat menawarkan konten premium mereka secara eksklusif kepada operator kabel dan satelit. Selain itu, sementara Komisi Komunikasi Federal (FCC) menyetujui peraturan untuk stasiun siaran untuk secara sukarela menawarkan layanan ATSC 3.0, mereka tetap harus ditawarkan bersama sinyal digital ATSC standar. Tidak akan ada transisi wajib ke ATSC 3.0 seperti halnya transisi dari NTSC analog ke ATSC. Oleh karena itu ada jalan keluar untuk jaringan jika mereka tidak percaya bahwa investasi dalam migrasi ATSC 3.0 dibenarkan oleh kemungkinan penetrasi.





Di sisi lain, ada fenomena churn (perubahan) besar-besaran di AS, yang memiliki efek samping sedikit meningkatkan penayangan DTT selama beberapa tahun terakhir. Ini karena lebih banyak rumah yang mengandalkan free to air yang dikombinasikan dengan satu atau lebih penawaran SVoD, sehingga jaringan akan enggan untuk memberikan rute penting ini ke TV utama.

Di Asia Pasifik juga terdapat gambaran yang sangat beragam, dengan beberapa negara benar-benar meningkatkan komitmen mereka terhadap DTT yang menunjukkan bahwa DTT mungkin bertahan di sana, paling lama, meskipun hal itu berpotensi berubah dengan cepat. India adalah kasus yang menarik dengan nasib DTT ada dalam keseimbangan tetapi mungkin di ambang rebound. Dilatarbelakangi bahwa penyiaran telah berkembang pesat dan dirangsang oleh sejumlah operator satelit dan digitalisasi kabel, yang sebagian besar diselesaikan dalam proses empat fase pada Maret 2017.

Itu membuat penyiaran terestrial sebagai satu-satunya media yang belum didigitalkan, menyebabkan Otoritas Regulasi Telekomunikasi India (TRAI) mengeluarkan makalah konsultasi yang merekomendasikan negara tersebut untuk melanjutkan digitalisasi DTT.

Makalah tersebut mencatat bahwa sebagian besar data di India disediakan melalui koneksi seluler dan bahwa DTT memiliki potensi untuk mengambil sebagian beban dari jaringan seluler. Menariknya, ponsel yang mendukung DTT dapat memiliki chip terintegrasi atau bahkan dongle untuk akses DTT. Ini telah dicoba sebelumnya dan memiliki implikasi baterai yang sangat besar jika ditempatkan langsung ke telepon.

TRAI telah menganjurkan rencana tiga fase untuk migrasi DTT yang meniru model digitalisasi kabel sebelumnya, dimulai dengan kota-kota besar, kemudian daerah perkotaan yang lebih kecil dan akhirnya seluruh negeri pada tahun 2023, meskipun kedengarannya ambisius.

Hasil dari semua ini adalah bahwa sementara pemutusan Swiss benar-benar menandai kematian DTT di beberapa negara selama beberapa tahun ke depan, masih terlalu dini untuk menghapusnya secara global dan nasibnya akan sangat bervariasi tergantung pada faktor-faktor termasuk medan dan kepadatan penduduk . Namun tidak seorang pun yang berkecimpung di dunia broadcast akan menjadi kaya dengan menyediakan konten melalui DTT saja, itu sudah pasti. Youtuber dan tiktoker ? Sudah jelas pasar berubah kawan..



sumber : https://rethinkresearch.biz/articles/swiss-dtt-shutdown-beginning-of-end-for-digital-terrestrial/

Share:

Sabtu, 30 April 2022

Analog Switch Off Tahap 1 - Ternyata Kita Belum Terlalu Siap


Setelah menunggu sekian lama, dari tahun 2008 saya telah mengikuti kick off penyiaran digital oleh Presiden SBY di studio TVRI Jakarta, akhirnya hari yg dinanti telah tiba, hari dimana akan dilaksanakan ASO tahap pertama di Indonesia. Namun terkejutnya saya ketika teman sesama teknisi di Bali yang seharusnya mendapatkan giliran ASO paling awal, memberikan update bahwa dia seperti kena "prank".

Kenapa ? 

Karena dia sudah ber Woro-Woro ke seantero desa dan berharap akan dapat durian runtuh pemasangan STB dan setting TV digital di warga desa yg kehilangan tayangan sinetron saat ASO terjadi.

Dan kemudian saya sedikit tidak percaya lalu menengok berita pagi TVRI dan melihat liputan pak menteri kominfo melakukan kick off ASO kemarin malam. Beritanya pendek saja namun saya tidak puas dan lanjut melihat kanal youtube kemkominfo dan saya terkejut. Begini selengkapnya:


UPDATE TENTANG ASO TAHAP 1 :

1) ASO Tahap 1 (30 April 2022 jam 24.00) dimulai di wilayah layanan  di 3 propinsi, 8 kab/kota :

  1. Propinsi Riau (Riau 4 : Dumai, Bengkalis, Meranti)
  2. Propinsi NTT (NTT 3 : Timor Tengah Utara + NTT 4 : Belu, Melaka)
  3. Propinsi Papua Barat : Kota Sorong, Kabupaten Sorong.

Ini adalah wilayah dimana STB sdh terdistribusi 100% untuk Rumah Tangga Miskin (dari Bantuan Kominfo dan TVRI).

2) Wilayah lain tetap dilanjutkan simulcast/atau siaran analog. 

3) Setelah lebaran, Dirjen SDPPI diminta Menkominfo utk membentuk Task Force yg melibatkan para penyelenggara Mux untuk menyusun bersama2 rencana, monitoring, dan mencari solusi atas masalah dalam distribusi STB yang menjadi komitmen para penyelenggara Mux. Termasuk wilayah yg akan ASO apabila distribusi STB telah mencapai 100 %.

4) Seluruh TV diminta tetap meningkatkan sosialisasi ASO dan migrasi digital dg "diksi" yang mudah dipahami masyarakat seperti sisi manfaat misalnya makin banyak tontonan program, atau akan dapat terus menonton program unggulan suatu stasiun TV.

Setelah rapat dilanjutkan konpers oleh Menkominfo didampingi para wakil penyelenggara mux dan para pejabat kominfo.



Bagaimana ? Prank atau tidak ? Ternyata kerja keras kita sebagai teknisi - tukang antena menjadi seperti diii...... Ahhh siapalah saya hanya setitik nila di susu sebelahnya..ehh sebelanga. Sebagai seorang penganut stoik, maka hal external yang tidak mungkin saya rubah maka sebaiknya saya ambil sikap " BODO AMAT".


Namun tidak ada salahnya juga bersiap kalau kalau siaran analog di TV tabung kamu keluar gambar seperti gambar paling atas.




Oooo iya apa kamu sudah punya STB Digitalnya ? Baca dulu review STB berikut ya, jangan sampai  siaran kamu putus - putus kayak VCD rusak seperti gambar contoh diatas:


 - Matrix Apple  - Matrix Kuning   - Polytron PDV 600T2   - Venus Cabe Rawit  - Evinix H-1  - Akari ADS2230 Tanaka 


Antena Digital paling jernih :

- Fleco AT-56   - Venus Cabe Rawit Indoor/Outdoor


Bagi anda yg berada di lokasi lain di Nusantara dapat juga membaca update perkembangan  migrasi TV digital di  kota-kota besar seluruh Indonesia :

Surabaya  MNC  ,  EMTEK , VIVA )

Malang

Jember 

Kediri

Jombang & Mojokerto

Madiun

Jogja

Semarang

Banjarmasin

Makasar

Medan

Palembang

Perbatasan Malaysia

Singaraja Bali 


Hubungi kami jika anda terkendala seting TV digital di wilayah Surabaya dan sekitarnya :

TV Digital Pasti Jernih

Jl. Ikan Mujaer No.7 P, Perak Bar., Kec. Krembangan, Kota SBY, Jawa Timur 60177

0815-5737-755 

https://g.co/kgs/No6JmP


Share:

Jumat, 29 April 2022

Pembagi Siaran TV Digital Untuk Hotel dan Kos - Kini Semakin Simple dan Murah

 



Terkenang kembali ketika saya pertama kali memulai bisnis distribusi TV parabola sekitar 6 tahun lalu, saat itu saya dihadapkan suatu kondisi, dimana kawan saya yang memiliki usaha kos-kosan premium berjumlah ratusan kamar (maklum juragan ex tambang yg baru resign dan dapet pesangonnya gak muat di dompet), sedang kebingungan karena kehilangan kontak dengan teknisi  yg biasa maintenance TV di kos2an itu. 

Dijelaskan pula oleh kawan itu kalau setiap bulannya, teknisi TV paling tidak 2-3 kali datang untuk memperbaiki kualitas jaringan CATV TV di kamar kos. Dan ketika saya kunjungi, terkejutnya saya  melihat gambar TV di kamar kos, yg dibilang kualitas "Jernih" dari siaran TV di kos tersebut sangatlah jauh dari kebiasaan penglihatan saya yg sudah mode "HD". 

Selain itu,  kawan saya mengeluh harus selalu membayar ongkos pergantian "IC power " dari ampli / booster tv kabel tiap bulan sekali, karena ada saja komponen yang melemah atau rusak. Ini sih namanya bikin capek kedua pihak baik owner maupun teknisi, yang walau sering dapat ceperan namun capek juga kalau yg rusak itu lagi itu lagi.


Baca Juga : Jenis gangguan TV analog yang akan kita tinggalkan di era TV digital




Sistem TV kabel analog yang digunakan umumnya terdiri dari Parabola - Switch / Splitter - STB DVB S/S2 - Modulator - Combiner - RF Amplifier - Distribusi UHF ke kamar. Sangat banyak perangkat yang perlu di sediakan dan kemungkinan error ataupun interference (gangguan sinyal) menjadi sangat terlihat dilayar TV. Tampilan di layar bisa saja telihat jernih bagi orang awam, namun bagi mata saya terlihat ada noise bintik yg teratur yg kemungkinan berasal dari sambungan kabel yg berada dekat dengan perangkat CCTV. Namun setelah saya belajar dari internet dan setelah menemukan bahan-bahan untuk distribusi TV satelit Digital ( yg ternyata tersedia di pasaran), maka saya berhasil mengerjakan pertama kalinya di sebuah kos2an elite di jimerto surabaya, dan sudah saya pernah bahas di blog ini juga (baca disini).




Lalu beberapa tahun kemudian munculah era TV DIGITAL, dimana sinyal TV yang melalui udara (UHF) kini telah dikodekan menjadi sinyal Digital yang lebih tahan terhadap gangguan sinyal. Ya tentu saja karena teknologi DVB-T2 adalah saudara dekat dari teknologi 4G-LTE dimana prosesor canggihnya dapat menangani "error correction" dari sinyal UHf dan telah terbukti memberikan kenyamanan dalam menonton siaran berkualitas HD (high Definition). Namun kendalanya banyak hotel yang masih menggunakan televisi LCD/LED analog, apakah dapat di ubah menjadi TV Digital ?





Dan kami pun telah mengerjakan sebuah proyek "percontohan" dimana sebuah proyek mess bumn ternyata terlanjur membeli TV LED yang tanpa memiliki tuner DVB-T2. Pantas saja langsung di ACC pimpinan karena harga TV LED analog ini sedang obral murah cuci gudang. Dikarenakan di kota tempat mess ini berada TV digitalnya sudah lengkap, maka solusi termurah adalah dengan membuat pembagi antena UHF untuk setiap kamar. Cilakanya mess ini renovasi bangunan jadul sehingga tidak memungkinkan untuk banyak-banyak naik plafon dan tenggat waktu peresmiannya sempit ! Alamak..apa solusinya ?




Pilihannya adalah dengan menggunakan antena UHF mini yang saya pasang dirumah dan pernah saya bahas disini. Karena kualitas penerimaan TV digital di lokasi cukup baik, maka saya putuskan untuk memasang antena ini di tiap kamar, dengan menyembunyikannya dibelakang furniture atau AC atau apapun asal tangkapan sinyalnya memungkinkan dengan tingkat sinyal dan BER yang bagus.




Jadi di proyek percontohan ini saya dapat memuaskan pemilik mess karena dapat menekan anggaran dan dengan kualitas siaran TV yang bagus. Gak tau juga kalau dana nya di mark up dan di sunat sama teknisi di bumn itu, saya gak ikut-ikut yang penting saya BAYARAN !




Jika lokasinya jauh dari pemancar TV dan cukup riskan kehilangan sinyal, maka penggunaan antena UHF outdoor dan booster mungkin bisa menjadi solusi. Namun permasalahannya sinyal TV jika dibagi banyak bisa mengalami los / rugi-rugi di splitter. Sehingga berdasarkan pengalaman saya terdahulu, jika terdapat 5 lantai usahakan di tiap lantai memiliki 1 antena UHF + Booster lalu dibagi ke tiap kamar, dengan catatan panjang kabel ke tiap tv dibuat seragam, sehingga tiap kamar memiliki tingkat sinyal yang seragam pula. Jadi usahakan splitter UHF berada di lokasi tengah-tengah plafon tiap lantai.


Berapa sih nilai investasinya ?


Perkiraannya seperti berikut :


1. STB DIGITAL (Jika TV hotel masih Analog) = 250.000

2. Antena Indoor = 100.000, Outdoor = 150.000

3. Asesories seperti klem + ducting, holder STB  = 50.000

4. Booster UHF = 250.000

5. Splitter UHF isi 4 = 100.000

6. Remote Copy = 50.000 , penjelasannya bisa dibaca disini

7. Jasa tekinisi = 150.000 / kamar


*) Item bisa dikurangi sesuai kondisi di lapangan

*) Dapat memanfaatkan sistem distribusi CATV sebelumnya sehingga menghemat biaya

Berminat ? kontak kami ya ..


TV Digital Pasti Jernih

Jl. Ikan Mujaer No.7 P, Perak Bar., Kec. Krembangan, Kota SBY, Jawa Timur 60177

0815-5737-755 

https://g.co/kgs/No6JmP

Share:

Jumat, 22 April 2022

TV Digital UHF - Piala Dunia Akan Diacak - Mungkin aja sih, tapi....

 



Kegaduhan migrasi TV Digital bak cerita sinetron yg tak pernah ada episode " season finale " nya, sepertinya orang di negeri ini sengaja ingin ditertawakan dunia luar sana. Mungkin orang di eropa kalau baca komentar dan kegaduhan netizen bakal teriak .." Eaalahhh.. mana udah telat rame pula ! ". Spekulan pedagang receiver parabola dan para teknisinya banyak menggemborkan isu-isu tak menarik seperti Parabola akan tidak bersiaran lagi saat Analog Switch OFF (seperti yg dibahas disini), ramai yang mengganti STB Parabola dengan STB Digital UHF padahal daerahnya tidak terjangkau siaran TV analog sekalipun, bahkan yang terakhir adalah kegaduhan poster STB Digital Matrix yg ekslusif untuk menonton Piala Dunia Qatar 2022. Waduuuhhh...


Hubungi kami jika anda terkendala seting TV digital di wilayah Surabaya dan sekitarnya :

TV Digital Pasti Jernih

Jl. Ikan Mujaer No.7 P, Perak Bar., Kec. Krembangan, Kota SBY, Jawa Timur 60177

0815-5737-755 

https://g.co/kgs/No6JmP




Tulisan kali ini seperti mengingat kembali review terhadap STB Matrix apple dan garuda  (baca disini) yang telah dengan jelas mengupas mengenai fasilitas SMC ID pada beberapa jenis STB DVB-T2 keluaran matrix, yang merupakan nomer unik identitas dari stb, serta kemampuannya untuk diberikan layanan berbayar / Pay TV. Ini umum kok di teknologi DVB yang sebelumnya kita kenal lewat satelit yaitu DVB S/S2. Jadi ketika pay TV melakukan siaran lewat parabola, maka siaran berbayar akan di-dekode-kan acakannya oleh modul SMC / CAS ini. Inipun berlaku ketika sinyal DVB nya mengalir lewat udara teresterial UHF maka DVB-T/T2 mampu dikombinasikan dengan modul CAS (de-scrambler / pembuka acakan) untuk  layanan berbayar Pay TV. Ingat NEXMEDIA ? Ya merek itu (dulu) adalah pay tv milik EMTEK group yg (dulu) bersiaran lewat UHF di Jakarta. Kini Nexmedia menjelma menjadi Nexparabola setelah Emtek kapok dihadapkan kenyataan harus membayar lisensi frekuensi UHF per kabupaten se NKRI ! Mending sewa transponder satelit aja irit...




Kegaduhan di grup diskusi lewat medsos maupun chat pun terjadi saat gambar STB Apple yg ditempelkan promo WC 2022 - EMTEK mulai viral dikalangan penggiat TV Digital. Ada yang bilang ini gimmick agar penjualan STB digital Matrix makin joss dan ini sah kok dilakukan. Kenapa ? Karena matrix merupakan penyedia peralatan STB untuk emtek sejak lama dan makin erat hubungannya saat EMTEK mengakuisisi matrix garuda di 2019. Jadi kenapa harus ribut ? Toh memang harus mengganti STB ketika TV kamu dirumah masih pake TV tabung. Namun..mungkin gak ya siaran piala dunia diekslusifkan di jalur UHF ?

Pada perhelatan piala dunia russia 2018 di Russia, harga yang harus dibayar oleh FMA - football momentum asia sangatlah besar yaitu 18 juta dolar amerika. Ini juga salah satu faktor bagaimana pusingnya FMA sampai harus merelakan 3 saluran TV mereka tutup akibat merugi di piala dunia yg dimenangkan Prancis itu. Ujungnya di momen sebelum kick off pertama kala itu, FMA harus berbagi - menjual murah hak siar ke hampir semua pay tv yg ada di Indonesia, tentunya berharap bisa menutup biaya yg keluar akibat mahalnya hak siar. Dan di 2022 ini EMTEK yg merupakan induk dari SCTV, Indosiar dan O channel serta vidio dan nexparabola berhasil membeli lisensi dari klikdaily sebagai pemenang lelang hak siar Qatar 2022 di Indonesia. 



Sampai bulan april 2022 Emtek masih memegang haksiar tunggal tanpa menjual sub-lisensi ke pihak lain. Namun ketika poster STB DIGITAL khusus untuk piala dunia 2022 muncul, pikiran saya menjadi berandai-andai apakah benar nih...akan terjadi peng-eksklusif-an siaran bola UHF? Apakah akan seperti di Amrik sana dimana pemilik haksiar adalah FOX Group, dimana FOX merupakan saluran TV UHF - Free To Air yg hadir dihampir semua wilayah USA dan juga menyiarkannnya melalui saluran Pay TV Fox Sport (FS 1). Jadi umumnya siaran pertandingan hanya ditayangkan GRATIS lewat digital UHF - 1 kali dalam sehari dan selebihnya jika ingin menonton pertandingan lebih banyak harus berlangganan paket piala dunia dan bisa menonton lewat bermacam jalur baik parabola, kabel maupun OTT / streaming. 

Dengan membagi pertandingan ke dua tipe UHF-FTA dan PAY TV ini tentunya akan mengurangi beban hak penyiaran yang mungkin jika digratiskan semua, akan menyebabkan slot tayangan iklan seperti tak ada habis-habisnya. Tidak nyaman bukan siaran bola 45 menit x 2 namun iklannya bisa 2 jam lebih ? Kalau mau ulasan komentator yg lebih mendalam mungkin tidak didapatkan di TV UHF, harus menonton via pay tv biar analisa pertandingannya lebih tepat. Di Indosiar contohnya, slot iklan Liga 1 sangat menjengkelkan, hingga bisa dijadikan bahan stand up komedi : ini nonton iklan ada bolanya apa nonton bola yg ada iklannya ya ?  

Di negara tetangga pun umumnya hak siar dibagi, seperti halnya di Malaysia TV1 / TV3 biasanya menayangkan pertandingan  pilihan 1 kali sehari, sedangkan selebihnya harus menonton di parabola maupun streaming ASTRO. Ini terjadi di beberapa episode piala dunia maupun piala eropa belakangan. Akankah EMTEK meniru trik negara jiran agar terhindar dari teguran  (bahkan cacian netizen) jika mengacak siaran DIGITAL UHF ?





Menurut PP Nomor 3 tahun 2019 mengenai Migrasi TV digital, maka semua siaran Televisi digital teresterial adalah Free To Air alias TIDAK BERBAYAR. Jadi dapat dipatahkan argumen beberapa postingan ( yg entah dari marketing STB Matrix atau ulah orang iseng ). Namun, kan kita sudah pada tahu kalau EMTEK punya pengalaman dengan  Pay TV UHF digital dengan nama NEXMEDIA ?

 



Pada masanya, sebuah pay tv diresmikan pada 23 November 2011 oleh Perusahaan raksasa Grup EMTEK dan menamakan layanan TV berlanggan ini dengan nama Nexmedia. 

Nexmedia membawa teknologi dekoder yang telah menggunakan Digital MPEG-4. Teknologi yang disebut-sebut dapat memberikan kualitas gambar yang lebih jernih audio yang lebih baik. Selain itu, pelanggan juga tidak harus membeli decoder untuk bisa menikmati layanan Nexmedia. Pelanggan, cukup meminjamnya saja dari pihak perusahaan. Bahkan, decoder yang dinamai STB (Set Top Box) ini bisa dibawa kemana saja. Juga dapat dipasang dengan menggunakan antena televisi biasa, tanpa parabola. 

Jadi, EMTEK sudah berpengalaman dengan masalah FTA atau Berbayar lewat UHF coyy..tinggal pertanyaannya mampu gak beli ijin frekuensi di seluruh wilayah NKRI ? Kita lihat saja perkembangan di bulan-bulan berikutnya. Namun kegaduhan poster STB Matrix Qatar 2022 ini telah membuat panik pemain pay tv saingan Emtek lhoo...




Share:

Selasa, 19 April 2022

Jadwal Migrasi TV Digital - ASO Tahap Pertama 30 April 2022

Penyiaran Televisi secara digital merupakan penyempurnaan dari teknologi penyiaran audio visual yang memancar  menggunakan frekuensi radio VHF / UHF, seperti halnya penyiaran televisi sebelumnya atau lazim disebut TV analog. Jadi pemahaman migrasi tv digital yg lebih sederhana adalah adanya "upgrade" siaran televisi melalui jalur udara (teresterial) ke teknologi baru, layaknya dahulu ketika televisi masih hitam putih lalu upgrade ke teknologi TV berwarna.

Dengan perkembangan teknologi digital, sinyal yg dipancarkan merupakan konversi data audio video menjadi berformat  digital MPEG-2 yang dapat mengantarkan audio visual dengan lebih bersih dan jernih melalui sistem penerimaan yang kita kenal dengan nama Digital Video Broadcasting Terrestrial (DVB-T) yang kini sudah masuk generasi kedua atau DVB-T2. Dan pula dengan teknik kompresi yang canggih maka dalam 1 frekuensi dengan lebar 8 Mhz, yang dulunya televisi analog hanya bisa memancarkan 1 siaran saja kini dengan teknologi DVB T2 dapat menggandeng 8 siaran berkualitas HD dalam pancaran frekuensi yg sama yg lazim disebut Mux / Multiplexing.





Pemahaman lain yg perlu di cermati pembaca, Televisi Digital itu bukan TV streaming, jadi tidak memerlukan biaya kuota internet. TV Digital memiliki teknologi yg mirip dengan TV satelit (parabola), namun siaran TV digital tetap memakai teknologi antena UHF seperti antena pada tv analog sebelumnya.


Bagi anda yg akan upgrade TV analog ke digital dan TV nya masih tv tabung jadul, jangan khawatir. Cukup membeli STB / dekoder digital  seperti yg sudah pernah dibahas di blog ini :




Bagi yang sudah memiliki televisi LED generasi tahun 2015 keatas, silahkan scan ulang siaran televisi digital di rumah anda untuk mendapatkan siaran yg jernih berkualitas HD.


Daftar Wilayah yang Dihentikan Siaran TV Analog Tahap Pertama pada 30 April 2022 yang dirangkum dari kominfo.go.id.


1. Aceh
- Kabupaten Aceh Besar
- Kota Banda Aceh
- Kota Sabang
- Kabupaten Pidie
- Kabupaten Bireuen
- Kabupaten Pidie Jaya
- Kabupaten Aceh Utara
- Kota Lhokseumawe

2. Sumatera Utara
- Kabupaten Karo
- Kabupaten Simalungun
- Kabupaten Asahan
- Kabupaten Batu Bara
- Kota Pematangsiantar
- Kota Tanjung Balai
- Kabupaten Dairi
- Kabupaten Pakpak Bharat

3. Sumatera Barat
- Kabupaten Solok
- Kabupaten Sijunjung
- Kabupaten Tanah Datar
- Kabupaten Padang Pariaman
- Kabupaten Agam
- Kota Padang
- Kota Solok
- Kota Sawahlunto
- Kota Padang Panjang
- Kota Bukittinggi
- Kota Pariaman

4. Riau
- Kabupaten Kampar
- Kota Pekanbaru
- Kabupaten Bengkalis
- Kabupaten Kepulauan Meranti
- Kota Dumai

5. Jambi
- Kabupaten Batanghari
- Kabupaten Muaro Jambi
- Kota Jambi
- Kabupaten Sarolangun

6. Sumatera Selatan
- Kabupaten Ogan Komering Ilir
- Kabupaten Banyuasin
- Kabupaten Ogan Ilir
- Kota Palembang

7. Bengkulu
- Kabupaten Bengkulu Tengah
- Kota Bengkulu

8. Lampung
- Kabupaten Lampung Selatan
- Kabupaten Lampung Tengah
- Kabupaten Lampung Timur
- Kabupaten Pesawaran
- Kabupaten Pringsewu
- Kota Bandar Lampung
- Kota Metro

9. Kepulauan Bangka Belitung
- Kabupaten Bangka Tengah
- Kota Pangkal Pinang

10. Kepulauan Riau
- Kabupaten Bintan
- Kabupaten Karimun
- Kota Batam
- Kota Tanjung Pinang

11. Jawa Barat
- Kabupaten Garut
- Kabupaten Cirebon
- Kabupaten Kuningan
- Kota Cirebon
- Kabupaten Ciamis
- Kabupaten Pangandaran
- Kabupaten Tasikmalaya
- Kota Banjar
- Kota Tasikmalaya
- Kabupaten Cianjur
- Kabupaten Majalengka
- Kabupaten Sumedang

12. Jawa Tengah
- Kabupaten Blora
- Kabupaten Pekalongan
- Kabupaten Pemalang
- Kabupaten Tegal
- Kota Pekalongan
- Kota Tegal
- Kabupaten Rembang
- Kabupaten Pati
- Kabupaten Jepara
- Kabupaten Cilacap
- Kabupaten Banyumas
- Kabupaten Purbalingga
- Kabupaten Brebes

13. Jawa Timur
- Kabupaten Sampang
- Kabupaten Pamekasan
- Kabupaten Sumenep
- Kabupaten Lumajang
- Kabupaten Jember
- Kabupaten Situbondo
- Kabupaten Banyuwangi
- Kabupaten Pacitan

14. Banten
- Kabupaten Serang
- Kota Cilegon
- Kota Serang
- Kabupaten Pandeglang

15. Bali
- Kabupaten Jembrana
- Kabupaten Tabanan
- Kabupaten Badung
- Kabupaten Gianyar
- Kabupaten Klungkung
- Kabupaten Bangli
- Kabupaten Karangasem
- Kabupaten Buleleng
- Kota Denpasar

16. Nusa Tenggara Barat
- Kabupaten Lombok Barat
- Kabupaten Lombok Tengah
- Kabupaten Lombok Timur
- Kota Mataram

17. Nusa Tenggara Timur
- Kabupaten Kupang
- Kota Kupang
- Kabupaten Timor Tengah Utara
- Kabupaten Belu
- Kabupaten Malaka

18. Kalimantan Barat
- Kabupaten Mempawah
- Kabupaten Kubu Raya
- Kota Pontianak

19. Kalimantan Selatan
- Kabupaten Tapin
- Kabupaten Hulu Sungai Selatan
- Kabupaten Hulu Sungai Tengah
- Kabupaten Hulu Sungai Utara
- Kabupaten Balangan
- Kabupaten Kotabaru
- Kabupaten Tabalong

20. Kalimantan Tengah
- Kabupaten Pulang Pisau
- Kota Palangkaraya

21. Kalimantan Timur
- Kabupaten Kutai Kertanegara
- Kota Samarinda
- Kota Bontang
- Kabupaten Penajam Paser Utara
- Kota Balikpapan

22. Kalimanta Utara
- Kabupaten Bulungan
- Kota Tarakan
- Kota Nunukan

23. Sulawesi Utara
- Kabupaten Minahasa
- Kabupaten Minahasa Utara
- Kota Manado
- Kota Bitung
- Kota Tomohon

24. Sulawesi Tengah
- Kabupaten Sigi
- Kota Palu

25. Sulawesi Selatan
- Kabupaten Takalar
- Kabupaten Gowa
- Kabupaten Maros
- Kabupaten Pangkajene Kepulauan
- Kota Makassar

26. Sulawesi Tenggara
- Kabupaten Konawe
- Kabupaten Konawe Selatan
- Kabupaten Konawe Utara
- Kabupaten Konawe Kepulauan
- Kota Kendari

27. Gorontalo
- Kabupaten Gorontalo
- Kabupaten Bone Bolango
- Kabupaten Gorontalo Utara
- Kota Gorontalo
- Kabupaten Boalemo

28. Sulawesi barat
- Kabupaten Mamuju

29. Maluku
- Kabupaten Seram Bagian Barat
- Kota Ambon

30. Maluku Utara
- Kabupaten Halmahera Barat
- Kota Ternate

31. Papua
- Kabupaten Jayapura
- Kabupaten Keerom
- Kota Jayapura

32. Papua Barat
- Kabupaten Sorong
- Kota Sorong
- Kabupaten Manokwari
- Kabupaten Manokwari Selatan
- Kabupaten Pegunungan Arfak
Share:

Selasa, 05 April 2022

ASO dan Migrasi Televisi Digital Yang Membingungkan Masyarakat Awam - TV Via Satelit Sudah Migrasi Sejak 1999 lhoo

 



Wew.. jadul banget tampilan web legendaris rujukan para peng-Hobby tv parabola lyngsat.com. Gambar diatas merupakan hasil dari web archive, snapshot kembali ke masa lalu jaman internet baru saja lahir. Waktu itu website untuk mencari parameter tv satelit ada 3 seingat saya yaitu lyngsat, satcodx dan apsattv. Jika era parabola analog cukup dengan memutar tombol tuning sambil perhatikan layar tv apakah semut atau ada raster gambar burem (artinya ada siaran di TP itu)  lalu puter skew polaritas servo dikit-dikit sampai muncul gambar dan suara jernih. Ini tidak menjadi lebih mudah di-era satelit digital ketika receiver atau STB jaman itu masih harus memasukkan parameter frakuensi transponder, bitrate dan sid secara manual.  




Nah ini nih receiver legendaris yang hadir di tahun 1992 dan kemudian membuat geger ketika semua siaran tv nasional lewat parabola melakukan migrasi dari transmisi analog menjadi digital yang dimulai pada tahun 1999. Banyak suara konsumen parabola (yang sumbang) tampil di media cetak maupun elektronik saat itu. Maklumlah waktu itu kita baru saja keluar dari krismon dan televisi menjadi satu-satunya hiburan (di daerah tanpa jangkauan tv uhf) ditengah himpitan ekonomi yg menyebabkan harga bensin premium dari 700 rupiah menjadi 2500 per liter. Hasilnya banyak parabola yang di "tumbangkan" sampai beberapa tahun saat harga receiver DVB-S mulai terjangkau.



Blog ini mengkuti terus perkembangan digitalisasi televisi, sampai akhirnya di tahun 2008 saat olimpiade beijing berlangsung, TVRI melakukan launching pertama kalinya TV digital dan diresmikan oleh pak menteri M Nuh (dosen saya kuliah) serta disaksikan presiden SBY waktu itu. Memang saya sudah mengetahui negara maju seperti australia dan amerika serikat sudah melakukan ASO sejak 2003 dan 5 tahun telat ya gpp lah. Namun seperti cerita yg pernah saya tulis di blog ini, terjadi kegaduhan di 2012 saat teknologi tv digital lewat antena UHF yang sebelumnya menggunakan standar DVBT di upgrade menjadi teknologi DVBT2. Banyak peng-import STB digital yg harus gigit jari barangnya gak bisa dijual.


Hubungi kami jika anda terkendala seting TV digital di wilayah Surabaya dan sekitarnya :

TV Digital Pasti Jernih

Jl. Ikan Mujaer No.7 P, Perak Bar., Kec. Krembangan, Kota SBY, Jawa Timur 60177

0815-5737-755 

https://g.co/kgs/No6JmP



Bahkan hebohnya tambah lagi, saat muncul keanehan pada baliho sosialisasi migrasi tv digital yang lebih besar porsi gambar selfie dari pak menteri Tifatul Sembiring (hampir 80%) dibandingkan sosialisi siarta waktu itu. Kehebohan gak berhenti disini karena migrasi ini digagalkan pihak TV jaringan terbesar di negeri ini dan mux digital banyak yg ikutan turun dari udara di tahun 2014. Ribut-ribut migrasi tv ini akhirnya berhenti juga namun muncul kembali saat UU cipta karya OMNIBUS LAW meng-gas-kan kembali ASO karena negara kita mendapat teguran dari ITU (lembaga pbb bidang telekomunkasi). 


 


Duhh kok senengnya bikin heboh ya ? Apakah ini disengaja karena ada yang akan diuntungkan dengan keadaan serba tidak jelas ? Seperti tangkapan pada layar whatsapp saya kemarin malam.




Kebingungan yang sama terjadi pada keluarga saya di bali utara yg juga pengguna parabola, sama persis dengan chat dari rekan pembaca blog dari Sulawesi Barat. Jadi saya rangkum kesalahan sosialisasi yg awam ditemukan di masyarakat.





1.  TV digital bukan TV streaming atau youtube



Ini jelas diakibatkan karena proses migrasi tv digital di Indonesia  yg sangat telat sehingga masyarakat yg sudah lebih dulu mengenal youtube atau layanan streaming, sudah terlanjur mengangap cara menonton televisi mereka sudah "digital". Hal ini tidak terjadi di negara lain dikarenakan proses migrasi tv digital di negara mereka sudah dilaksanakan sebelum penetrasi TV platform OTT lewat smartphone menjamur di masyarakat. 

Bahkan saat saya ikut meeting lewat zoom mengenai sosialisasi migrasi TV digital, ada oknum nara sumber dari kementrian terkait yang dengan entengnya menyebut " Era tv digital akan menumbuhkan banyak konten kreator dan akan memudahkan masyarakat melakukan belanja secara online". Begitu membagongkannya bapak eslon 2 yg hampir pensiun itu, ya maklumlah kurang mendapatkan informasi yang benar di kementriannya.


2. Televisi Digital tetap menggunakan antena UHF biasa



Kehebohan migrasi ini ditunggangi oleh spekulan penjual antena TV dengan embel-embel "DIGITAL READY" bahkan dengan iklan di media sosial menampilkan tayangan tv berbayar macan CNN dan Sky Sport akan dapat ditangkap oleh tv anda jika menggunakan antena indoor tipis yang mereka jual. Ini penipuan karena untuk mrnonton TV Digital tetap saja menggunakan antena UHF standar yang digunakan sebelumnya dan diharapkan jangan menggunakan antena indoor yang tipis dan kecil karena itu hanya untuk mereka yang berada di lokasi perkotaan (jarak max pemancar 5 km).


3. Pastikan ada berada pada jangkauan pemancar / Mux TV Digital terdekat



 

Jangan terburu-buru membeli STB DVB-T2 atau TV LED genersi terbaru sebelum mengecek apakah tetangga sekitar kamu sudah mendapatkan sinyal digital di televisi mereka. Gunakan aplikasi android diatas yg cukup membantu masyarakat untuk melihat jangkauan tv digital di daerah sekitar. Namun cara termudah adalah tetap menggunakan akal sehat, cari teknisi tukang televisi atau orang pintar, guru, pejabat setempat dan tanyakan : " Bapak..apakah sudah ada sinyal tv digital ke desa kami ?"  Jangan lupakan juga ada program bagi-bagi STB ke masyarakat kurang mampu dari pemerintah dan tentu saja perangkat desa sudah mendapatkan sosialisasi dari pemerintah. 


4.  BAGI PENGGUNA PARABOLA  TV ANDA SUDAH DIGITAL SEJAK 1999 , JANGAN TERGIUR BELI STB TV DIGITAL DARI ONLINE




Bagi mereka yang tidak terjangkau siaran tv UHF dan menggunakan parabola untuk menonton TV, JANGAN PANIK ! Televisi bapak dan ibu, kakak adik diseluruh pelosok nusantara yang menggunakan parabola itu sudah DIGITAL. Siaran TV nasional yg beberapa tahun belakangan hilang dari channel parabola (gelap / diacak) murni karena bisnis semata dan diharapkan menggunakan receiver terbaru seperti contoh pada gambar. Jadi jangan ganti dengan STB Digital lagi ya, cari informasi yang benar pada teknisi parabola terdekat anda.


Ini menjadi PR yang mungkin berat bagi kementrian terkait untuk menggiatkan kembali sosialisasi ASO - Migrasi TV digital. Diharapkan selain petugas sosialisai mendapatkan SPJ untuk jalan-jalan ke pelosok,  ya gak ada salahnya membantu masyarakat untuk lebih memahami migrasi TV digital. Kepuasan anda bekerja akan lebih nikmat walau hanya dengan hal sepele,  melihat senyum kepuasan masyarakat pelosok mendapatkan hiburan TV yang jernih dan acaranya beragam, yang terpenting TANPA di ACAK saat program favoritnya ditayangkan.

Share:

Kontak Penulis



12179018.png (60×60)
+628155737755

Mail : ahocool@gmail.com

Site View

Categories

555 (8) 7 segmen (3) adc (4) amplifier (2) analog (19) android (12) antares (8) arduino (26) artikel (11) attiny (3) attiny2313 (19) audio (5) baterai (5) blog (1) bluetooth (1) chatgpt (2) cmos (2) crypto (2) dasar (46) digital (11) dimmer (5) display (3) esp8266 (25) euro2020 (13) gcc (1) iklan (1) infrared (2) Input Output (3) iot (58) jam (7) jualan (12) kereta api (1) keyboard (1) keypad (3) kios pulsa (2) kit (6) komponen (17) komputer (3) komunikasi (1) kontrol (8) lain-lain (8) lcd (2) led (14) led matrix (6) line tracer (1) lm35 (1) lora (7) MATV (1) memory (1) metal detector (4) microcontroller (70) micropython (6) mikrokontroler (1) mikrokontroller (14) mikrotik (5) modbus (9) mqtt (3) ninmedia (5) ntp (1) paket belajar (19) palang pintu otomatis (1) parabola (88) pcb (2) power (1) praktek (2) project (33) proyek (1) python (7) radio (24) raspberry pi (4) remote (1) revisi (1) rfid (1) robot (1) rpm (2) rs232 (1) script break down (3) sdcard (3) sensor (2) sharing (3) signage (1) sinyal (1) sms (6) software (18) solar (1) solusi (1) tachometer (2) technology (1) teknologi (2) telegram (2) telepon (9) televisi (167) television (28) transistor (2) troubleshoot (3) tulisan (93) tutorial (108) tv digital (6) tvri (2) vu meter (2) vumeter (2) wav player (3) wayang (1) wifi (3)

Arsip Blog

Diskusi


kaskus
Forum Hobby Elektronika