Semua Tentang Belajar Teknologi Digital Dalam Kehidupan Sehari - Hari

  • IC Timer 555 yang Multifungsi

    IC timer 555 adalah sirkuit terpadu (chip) yang digunakan dalam berbagai pembangkit timer, pulsa dan aplikasi osilator. Komponen ini digunakan secara luas, berkat kemudahan dalam penggunaan, harga rendah dan stabilitas yang baik

  • Data Science

    Mengulik Digitalisasi data statistik dengan bantuan python untuk pemanfaatan di bidang transportasi, kesehatan, keuangan dan masih banyak lagi

  • Artificial Intelligence - Pengenalan Object

    Menghadirkan pemanfaatan AI dengan praktek-praktek yang mudah diikuti - cocok untuk mahasiswa yang mencari ide tugas akhir

  • JAM DIGITAL 6 DIGIT TANPA MICRO FULL CMOS

    Jika anda pencinta IC TTL datau CMOS maka project jam digital ini akan menunjukkan bahwa tidak ada salahnya balik kembali ke dasar elektronika digital , sebab semuanya BISA dibuat dengan teknologi jadul

  • Node Red - Kontrol Industri 4.0

    Teknologi kontrol sudah melampaui ekspektasi semua orang dan dengan kemajuan dunia elektronika, kini semakin leluasa berkreasi melalui Node Red

Tampilkan postingan dengan label parabola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parabola. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Januari 2026

Kegelapan Digital di Teheran: Perang Sinyal, GPS, dan Starlink dalam Demonstrasi Iran 2026

 



Januari 2026 akan dicatat dalam sejarah sebagai bulan di mana langit Iran tidak hanya dipenuhi oleh kepulan asap dari ban yang terbakar, tetapi juga oleh gelombang elektromagnetik yang tak kasat mata. Sejak protes anti-pemerintah meletus pada akhir Desember 2025 akibat kolapsnya mata uang Rial dan krisis ekonomi yang mencekik, rezim Teheran telah meluncurkan apa yang disebut para ahli sebagai "operasional pemadaman informasi paling agresif di abad ke-21."

Di tengah gemuruh teriakan di jalanan Azadi Tower, terdapat perang lain yang berlangsung di spektrum frekuensi: upaya sistematis untuk membutakan warga dari dunia luar melalui jamming internet, manipulasi GPS, dan serangan teknologi terhadap konstelasi Starlink.

1. Titik Balik 8 Januari: Ketika Iran Menjadi "Pulau Terisolasi"

Pada malam Kamis, 8 Januari 2026, data dari NetBlocks dan Cloudflare menunjukkan grafik yang mengerikan: lalu lintas internet di Iran anjlok hingga mendekati nol persen dalam hitungan menit. Ini bukan sekadar gangguan teknis; ini adalah pemadaman total nasional (nationwide blackout).

Pemerintah Iran tidak hanya memutus kabel serat optik di gerbang internasional, tetapi juga mematikan menara seluler di zona-zona protes utama. Dampaknya instan dan melumpuhkan:

  • Komunikasi Terputus: Keluarga tidak bisa saling memberi kabar.
  • Ekonomi Lumpuh: Transaksi digital, perbankan, dan aplikasi logistik berhenti berfungsi.
  • Kegelapan Informasi: Video kekerasan aparat sulit keluar, memberikan ruang bagi penindakan keras tanpa pengawasan dunia internasional.

Langkah ini diambil setelah protes meluas ke lebih dari 100 kota. Bagi rezim, internet adalah senjata musuh. Bagi demonstran, internet adalah oksigen.


2. Manipulasi GPS: Membutakan Navigasi dan Logistik

Salah satu fenomena paling unik dalam demonstrasi Januari 2026 adalah gangguan GPS (Global Positioning System) yang masif. Pengguna di Teheran melaporkan bahwa lokasi mereka di peta tiba-tiba berpindah ke bandara internasional atau bahkan ke tengah laut—sebuah teknik yang dikenal sebagai GPS Spoofing.

Mengapa Pemerintah Mengganggu GPS?

  1. Melumpuhkan Drone: Demonstran mulai menggunakan drone komersial kecil untuk memantau pergerakan pasukan keamanan. Dengan jamming GPS, drone ini kehilangan kendali dan jatuh.
  2. Menghentikan Logistik Demonstran: Tanpa GPS, aplikasi ride-hailing (seperti Snapp) tidak bisa berfungsi, mencegah mobilisasi massa secara cepat melalui transportasi online.
  3. Keamanan Militer: Gangguan ini juga berfungsi sebagai perisai terhadap potensi serangan presisi dari luar negeri di tengah ketegangan yang meningkat dengan AS.

Data menunjukkan bahwa navigasi pada aplikasi lokal seperti Neshan turun hingga 20% akibat ketidakakuratan data lokasi. Sebagai solusinya, pemerintah mulai mendorong migrasi ke sistem navigasi BeiDou milik China yang dianggap lebih "aman" bagi kontrol negara.





3. Starlink: Garis Depan Baru Perlawanan Digital

Ketika internet kabel dan seluler mati, mata dunia tertuju pada langit. Starlink, layanan internet satelit milik SpaceX, menjadi satu-satunya harapan. Diperkirakan ada sekitar 50.000 unit terminal Starlink yang telah diselundupkan ke Iran selama setahun terakhir.

Perang Melawan Satelit

Laporan dari aktivis hak digital di Miaan Group menyebutkan bahwa mulai 10 Januari 2026, pemerintah Iran mulai mengerahkan jammers militer tingkat tinggi—diduga dipasok oleh teknologi Rusia—untuk menargetkan frekuensi Starlink.

Dampak GangguanStatistik (Januari 2026)
Packet Loss (Kehilangan Data)Meningkat dari 30% menjadi 80% di area perkotaan.
Kecepatan UploadMenurun drastis, membuat pengiriman video resolusi tinggi hampir mustahil.
Stabilitas KoneksiKoneksi menjadi "patchy" (putus-nyambung) setiap 5-10 menit.

Seorang peneliti internet, Amir Rashidi, menyatakan bahwa ini adalah pertama kalinya terlihat penggunaan jammer darat yang begitu canggih untuk mengganggu sinyal satelit orbit rendah (LEO). Rezim tidak lagi hanya memblokir situs web; mereka mencoba memblokir gelombang radio yang datang dari ruang angkasa.

4. Respons Global dan "Kucing-Kucingan" Teknologi

Dunia tidak tinggal diam. Pada 12 Januari 2026, Elon Musk melalui SpaceX merespons dengan menggratiskan biaya langganan Starlink bagi seluruh pengguna di wilayah Iran. Langkah ini diambil setelah adanya dorongan politik dari Washington, di mana Presiden Donald Trump secara terbuka meminta Musk untuk membantu "menyalakan kembali lampu informasi" di Iran.

Teknisi SpaceX bekerja lembur untuk merilis pembaruan perangkat lunak (software updates) guna mengubah pola transmisi sinyal agar lebih sulit dideteksi oleh jammer darat. Ini adalah permainan "kucing-kucingan" teknologi yang sangat canggih:

  • Hopping Frequency: Mengubah frekuensi transmisi secara cepat untuk menghindari gangguan.
  • Narrow Beamforming: Memfokuskan sinyal langsung ke terminal pengguna untuk menembus kebisingan elektronik dari jammers pemerintah.

5. Dampak Kemanusiaan: Korban di Balik Layar Gelap

Di balik perdebatan teknis mengenai frekuensi dan satelit, ada tragedi kemanusiaan yang nyata. Tanpa internet, laporan mengenai korban jiwa menjadi simpang siur. Hingga pertengahan Januari 2026, angka kematian dilaporkan mencapai ratusan orang (beberapa sumber menyebutkan angka 646 jiwa), namun tanpa bukti video yang kuat, sulit bagi lembaga internasional untuk melakukan verifikasi.

Pemadaman internet juga berarti:

  • Rumah Sakit Terisolasi: Dokter kesulitan berkoordinasi mengenai pasokan medis yang menipis.
  • Krisis Perbankan: Warga tidak bisa mengambil uang tunai karena sistem ATM yang bergantung pada jaringan yang sekarang mati.
  • Kriminalitas Tak Terdeteksi: Kekerasan oleh milisi berpakaian sipil (Basij) terjadi di lorong-lorong gelap tanpa ada yang berani merekam karena takut file tidak bisa diunggah dan justru menjadi bukti untuk menangkap mereka.

6. Kesimpulan: Masa Depan Kedaulatan Digital

Demonstrasi Iran Januari 2026 telah menjadi laboratorium bagi dunia tentang bagaimana sebuah negara otoriter menghadapi teknologi satelit global. Jika Iran berhasil mematikan Starlink secara total melalui jamming, ini akan menjadi preseden berbahaya bagi gerakan pro-demokrasi di negara lain.

Namun, semangat demonstran Iran menunjukkan bahwa teknologi bukanlah segalanya. Meski sinyal diganggu dan GPS dibelokkan, keberanian mereka di jalanan tetap tidak bisa dipadamkan oleh jammer secanggih apa pun. Dunia sedang menyaksikan lahirnya bentuk perlawanan baru: Digital Guerilla Warfare.

Perang sinyal ini belum berakhir. Setiap kali satu frekuensi ditutup, cara baru ditemukan. Karena pada akhirnya, informasi—seperti air—akan selalu menemukan celah untuk mengalir, sekecil apa pun itu.



*) disusun dari berbagai sumber dengan bantuan gemini AI

Share:

Minggu, 11 Januari 2026

Parabola Mini Kini Gak Tahan Hujan Lagi Setelah MNCVISION Pindah Ku-Band



Bagi generasi yang tumbuh di era 90-an dan 2000-an, pemandangan antena parabola kecil berbentuk solid dengan logo Indovision (sekarang MNC Vision) adalah simbol kemewahan hiburan rumah. Berbeda dengan antena parabola jaring (C-Band) yang berukuran raksasa, atau parabola Ku-Band yang sering "kalah" oleh mendung, MNC Vision punya senjata rahasia: Frekuensi S-Band.

Namun, sebuah kabar besar mengguncang industri penyiaran satelit tanah air. MNC Vision secara bertahap mengakhiri layanan siaran berbasis S-Band dan memigrasikan pelanggannya ke platform lain. Keputusan ini bukan sekadar pergantian perangkat, melainkan sinyal berakhirnya penggunaan frekuensi S-Band untuk layanan Direct-to-Home (DTH) di Indonesia.Mengapa frekuensi yang dulu dianggap "sakti" karena tahan hujan ini akhirnya ditinggalkan? Mari kita bedah sejarah, teknologi, dan alasan logis di baliknya.


Sejarah Singkat: S-Band dan Kejayaan Indovision

Pada tahun 1994, Indovision meluncurkan layanan TV satelit berlangganan pertama di Indonesia. Mereka memilih satelit Indostar-I yang mengorbit di frekuensi S-Band (sekitar 2.5 GHz). Keputusan ini sangat jenius untuk pasar Indonesia yang merupakan negara tropis dengan curah hujan tinggi.Dalam spektrum frekuensi satelit, S-Band berada di posisi yang unik. Ia memiliki gelombang yang cukup panjang sehingga tidak mudah terpecahkan atau diserap oleh butiran air hujan (rain fade). Itulah sebabnya, selama puluhan tahun, jargon "Tahan Hujan" menjadi jualan utama MNC Vision. 



Di saat pengguna parabola lain melihat layar televisi mereka "bersemut" atau "no signal" saat badai, pelanggan MNC Vision tetap bisa menonton bola atau film dengan tenang.Mengapa S-Band Tidak Lagi Menjadi Frekuensi Utama DTH?Meskipun memiliki ketahanan cuaca yang luar biasa, S-Band mulai kehilangan daya tariknya di mata penyedia layanan dan regulator global. 

Berikut adalah alasan-alasan teknis dan ekonomis mengapa S-Band akhirnya dipensiunkan:


1. Keterbatasan Bandwidth (Kapasitas Saluran)

Masalah terbesar S-Band adalah lebar pitanya yang sempit. Frekuensi S-Band biasanya beroperasi di rentang 2 hingga 4 GHz. Karena lebar pitanya terbatas, jumlah data yang bisa dikirimkan juga terbatas.Dulu: Di era TV kualitas SD (Standard Definition), S-Band masih mumpuni untuk menampung puluhan saluran.Sekarang: Di era kualitas HD (High Definition) dan 4K, S-Band tidak lagi sanggup. Satu saluran HD memakan bandwidth yang jauh lebih besar. Jika MNC Vision tetap bertahan di S-Band, mereka tidak akan bisa menambah banyak saluran HD atau 4K untuk bersaing dengan layanan streaming atau TV kabel modern.





2. Konflik dengan Spektrum 5G dan Seluler

Inilah alasan yang paling krusial secara regulasi. Frekuensi S-Band (khususnya di rentang 2.5 GHz - 2.6 GHz) adalah "lahan emas" bagi operator seluler.Di seluruh dunia, termasuk Indonesia (lewat Kominfo), spektrum ini dialokasikan kembali untuk layanan Mobile Broadband seperti 4G LTE dan 5G. Frekuensi ini sangat ideal untuk seluler karena memiliki daya jangkau yang luas namun tetap bisa membawa data dalam jumlah besar. Secara ekonomi, nilai spektrum ini jauh lebih mahal jika digunakan untuk layanan seluler dibandingkan untuk TV satelit.

3. Ekosistem Perangkat yang Mahal

Karena S-Band bukan standar global untuk TV satelit (mayoritas dunia menggunakan Ku-Band), maka produksi perangkatnya terbatas.LNB (Low Noise Block): LNB S-Band jauh lebih mahal diproduksi karena permintaannya sedikit.Parabola: Meskipun berukuran kecil, komponen pendukung S-Band tidak semurah komponen Ku-Band yang diproduksi secara massal dalam skala jutaan unit di seluruh dunia.Dengan beralih ke Ku-Band, penyedia layanan bisa menekan biaya pengadaan perangkat dekoder dan antena bagi pelanggan baru.




4. Efisiensi Satelit Modern (High Throughput Satellite)

Satelit-satelit modern saat ini dirancang untuk bekerja di frekuensi Ku-Band atau Ka-Band yang memiliki kapasitas raksasa (High Throughput). Membangun dan meluncurkan satelit khusus S-Band hanya untuk satu perusahaan menjadi investasi yang sangat berisiko dan tidak efisien secara finansial.Dampak Bagi Pelanggan dan Langkah MNC Vision




Lantas, apa yang terjadi setelah MNC Vision mematikan siaran S-Band?

MNC Group tidak benar-benar meninggalkan bisnis TV satelit. Mereka melakukan manuver strategis dengan memanfaatkan K-Vision (yang menggunakan frekuensi Ku-Band dan C-Band) serta mendorong transisi ke layanan berbasis internet (OTT) melalui Vision+.

Bagi pelanggan lama MNC Vision S-Band, transisi ini biasanya melibatkan:Penggantian Perangkat: Pelanggan perlu mengganti LNB di antena mereka atau mengganti seluruh parabola menjadi ukuran yang lebih kecil (Ku-Band).Migrasi ke IPTV/OTT: MNC Group gencar mempromosikan kotak dekoder berbasis Android yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada satelit, melainkan pada koneksi internet.


Perbandingan S-Band vs Ku-Band vs C-Band

FiturC-BandS-BandKu-Band
Ketahanan HujanSangat TinggiTinggiRendah
Ukuran AntenaBesar (Jaring)Kecil (Solid)Sangat Kecil
Kapasitas DataSedangRendahSangat Tinggi
Biaya PerangkatMurahMahalSangat Murah
Status Saat IniStandar PenyiaranDitinggalkanStandar DTH Global


Masa Depan: Dari Satelit ke Streaming

Pengakhiran siaran S-Band oleh MNC Vision adalah cerminan dari perubahan gaya hidup digital kita. Saat ini, kecepatan internet (fiber optik) sudah mulai merambah kota-kota kecil di Indonesia. Orang tidak lagi sekadar ingin menonton jadwal TV yang kaku, tetapi ingin layanan Video on Demand (VoD).




MNC Vision menyadari bahwa mempertahankan teknologi S-Band yang mahal dan terbatas adalah langkah yang menghambat inovasi. Dengan beralih ke spektrum yang lebih luas atau jalur internet, mereka bisa menawarkan:


  • Kualitas gambar 4K yang kristal.
  • Fitur catch-up TV (menonton siaran yang sudah lewat).
  • Interaktivitas yang tidak mungkin dilakukan di frekuensi satelit lama.


Kesimpulan


Berhentinya siaran S-Band MNC Vision adalah tanda bahwa teknologi harus selalu beradaptasi dengan kebutuhan zaman. S-Band telah berjasa memberikan hiburan tanpa gangguan cuaca selama hampir tiga dekade bagi masyarakat Indonesia. Namun, demi kemajuan kualitas siaran, efisiensi spektrum nasional untuk 5G, dan persaingan global, migrasi ini adalah langkah yang tidak terelakkan.

Kita mungkin akan merindukan  ketangguhan parabola kecil itu saat badai menerjang, namun masa depan televisi yang lebih tajam dan interaktif sudah ada di depan mata.




Share:

Minggu, 18 Februari 2024

Cara Upgrade Receiver Ninmedia Menjadi Nusantara Transvision





Kabar gembira bagi pemilik receiver legendaris seri Oracle yang dulu dipakai menonton ninmedia di satelit chinasat 11 atau kugosky di asiasat 9,  kini dapat di upgrade menjadi Nusantara Transvision dengan langkah berikut :








Jika sinyal sudah bagus ke satelit  measat di 3 transponder 12603V, 12603H dan 12643V (Symbol Rate 30000), lakukan upgrade OTA di receiver oracle kamu, atau upgrade dengan file usb yg bisa diunduh di :





Masuk ke menu OTA :
  • Pencet remote cari tombol  menu
  • Geser ke kanan cari menu Instalasi
  • Pilih Upgrade OTA lalu tekan OK
  • Masukkan parameter dibawah 
  • Tekan Mulai




Parameter OTA :
  • Satelit : Measat 3b
  • Frekuensi : 12603
  • Symbol Rate : 30000
  • Polaritas : Vertikal
  • PID : 04000, 05000, 06000, 07000 (pilih salah satu)










Jika sudah selesai upgrade maka oracle kamu akan rebooting. Untuk mendapatkan  SMC ID / STB ID bisa dengan pencet tombol merah pada remote atau menuju menu NES => SMC INFO. Jika SMC muncul 0, Lakukan aktivasi di :





Gunakan nomer smartcard id yg diambil dari chip id / chip id dec tanpa 00 didepan.


Setelah sukses maka anda bisa menyaksikan siaran lokal terbuka 1 hari saja, selanjutnya bisa beli paket seperti biasa,  via aplikasi tanaka, aplikasi pulsa synet atau lewat web :
 



Selamat mencoba...
Share:

Rabu, 24 Januari 2024

TV Digital : Solusi Borosnya Penggunaan Bandwidth TV Streaming di Hotel



Dalam menghadapi era hiburan digital, hotel kini dihadapkan pada tantangan baru terkait manajemen bandwidth akibat peningkatan penggunaan Smart TV dan layanan TV streaming di kamar. Sebagai salah satu alternatif hiburan modern, TV streaming memang memberikan berbagai pilihan konten kepada tamu, namun pada saat yang sama, dapat menimbulkan beban signifikan terhadap infrastruktur jaringan hotel.


Pandangan Umum:


Saat tamu hotel menggunakan layanan TV streaming, ini tidak hanya memerlukan koneksi internet yang cepat tetapi juga menghabiskan sejumlah besar bandwidth Internet. Dalam konteks ini, perbandingan dengan TV Digital UHF terestrial dan MATV / Parabola menjadi krusial untuk memahami sejauh mana penggunaan bandwidth TV streaming dapat menjadi faktor boros dalam lingkungan hotel.


Dalam tulisan ini, kita akan mengeksplorasi dampak borosnya penggunaan bandwidth TV streaming di hotel dan bagaimana hal ini memengaruhi pengalaman tamu serta ketersediaan sumber daya jaringan.


Perbandingan Bandwidth:


  • TV Terestrial (UHF): Menyediakan saluran lokal tanpa memerlukan bandwidth internet tambahan. Namun, dapat memiliki batasan dalam hal variasi konten.
  • TV Streaming: Memerlukan bandwidth internet yang signifikan untuk menyampaikan konten dengan kualitas tinggi. Pilihan konten yang luas dapat menambah beban pada infrastruktur jaringan hotel.
  • MATV / Parabola: Sistem distribusi ini memanfaatkan satu antena (parabola) di pusat untuk menyampaikan saluran TV, mengurangi kebutuhan bandwidth internet. Namun, mungkin kurang fleksibel dalam menyediakan konten on-demand.



Sistem MATV Hotel berbasis parabola yang banyak perangkat dan butuh perawatan berkala



Tantangan Manajemen Bandwidth:


  • Kecepatan Internet: Hotel perlu memastikan kecepatan internet yang memadai untuk menangani penggunaan TV streaming tanpa mengorbankan kualitas layanan lainnya.
  • Infrastruktur Jaringan: Perluasan dan pemeliharaan infrastruktur jaringan menjadi penting untuk mengakomodasi peningkatan penggunaan bandwidth, terutama saat terdapat banyak tamu yang menggunakan layanan streaming secara bersamaan.
  • Biaya dan Keberlanjutan: Borosnya penggunaan bandwidth dapat berdampak pada biaya operasional hotel. Hotel perlu mengevaluasi model bisnis yang berkelanjutan dan efisien dalam menyediakan layanan hiburan.


Mengapa Ini Penting?


Dalam menghadapi tantangan ini, hotel perlu memahami sejauh mana penggunaan TV streaming dapat memberikan dampak signifikan pada manajemen bandwidth. Dengan mengevaluasi opsi seperti TV terestrial dan MATV, hotel dapat mencari keseimbangan yang optimal antara penyediaan hiburan berkualitas dan pengelolaan sumber daya jaringan yang efisien. Mari kita eksplorasi lebih lanjut untuk memahami bagaimana hotel dapat menyediakan hiburan yang unggul tanpa mengorbankan ketersediaan bandwidth.



Apakah Siaran Digital UHF Menjadi Solusi ?


Dalam mengejar solusi yang efisien dan ekonomis untuk menyajikan hiburan kepada tamu hotel, TV UHF digital terestrial muncul sebagai alternatif yang menarik. Sementara TV streaming dan MATV memang memberikan berbagai opsi, pilihan ini dapat memberikan keseimbangan yang optimal antara kualitas hiburan dan manajemen biaya di lingkungan hotel.





TV UHF digital terestrial menyediakan saluran TV lokal dengan menggunakan antena terestrial, tanpa perlu mengandalkan koneksi internet atau biaya langganan. Dengan kualitas gambar yang tajam dan suara yang jernih, solusi ini memberikan pengalaman menonton yang dapat memenuhi harapan tamu, sambil tetap meminimalkan beban pada infrastruktur jaringan hotel.


Dalam tulisan ini, kita telah membahas tantangan penggunaan bandwidth TV streaming dan pertimbangan terkait TV terestrial. Sebagai solusi yang lebih hemat biaya, TV UHF digital terestrial memberikan opsi yang layak bagi hotel untuk memberikan pengalaman hiburan yang memuaskan tanpa meningkatkan beban finansial.





Keuntungan TV UHF Digital Terestrial:


  • Biaya Langganan: Tanpa biaya langganan bulanan (Free To Air) yang diperlukan untuk menonton TV. Bandingkan jika menggunakan tv streaming seperti netflix, disney+ dll.
  • Saluran Nasional lengkap: Dengan sistem multiplexing memungkinkan satu kota bisa terdapat 30-50 saluran tv GRATIS (Free To Air)
  • Ketersediaan Saluran Lokal: Menyediakan saluran lokal tanpa tergantung pada koneksi internet.
  • Kualitas Gambar dan Suara: Menyajikan kualitas gambar dan suara yang tinggi (HD) tanpa terpengaruh oleh kecepatan internet.



Skema dasar distribusi TV digital di hotel



Implementasi Yang Efisien:

  • Infrastruktur yang Sederhana: Penggunaan antena terestrial meminimalkan kebutuhan akan infrastruktur jaringan yang kompleks.
  • Biaya Pemeliharaan Rendah: TV UHF digital terestrial umumnya memerlukan sedikit pemeliharaan dan dapat beroperasi dengan biaya rendah.
  • Fleksibilitas Konten: Meskipun tidak sefleksibel TV streaming dalam menyajikan konten on-demand, TV UHF digital terestrial dapat memberikan ketersediaan saluran lokal dan internasional yang memadai.
  • Minim Perawatan: Dibanding sistem TV kabel / MATV / Parabola yang butuh perawatan perangkat RF booster secara berkala, maka dengan sistem digital UHF ini akan jauh menekan biaya perawatan.




TV digital di Jakarta mencapai 50 saluran


Menyuguhkan Pengalaman Hiburan yang Memuaskan:


Dengan mengeksploitasi teknologi TV UHF digital terestrial, hotel dapat memberikan pengalaman hiburan yang memuaskan tanpa merusak anggaran. Ini memberikan pilihan terjangkau yang tetap memberikan kepuasan kepada tamu, serta mendukung visi hotel dalam memberikan layanan unggul di bidang hiburan.

Sebagai penutup, memilih solusi yang tepat untuk menyajikan hiburan di hotel bukan hanya tentang teknologi terkini, tetapi juga tentang memahami kebutuhan tamu dan menjaga keseimbangan antara kualitas dan efisiensi biaya. Mari bersama-sama membangun pengalaman menginap yang tak terlupakan melalui solusi yang cerdas dan hemat biaya.




Share:

Selasa, 14 Februari 2023

Ninmedia [mati] jadi KugoSky [mati] jadi .. ehh kini ke measat, akan bertahan lama ?


 


Praktek tandem LNB diatas merupakan ciri khas para teknisi parabola yang aktif di medio 2017-2020 jaman ninmedia masih di chinasat 11. Kawan tandem dari  satelit yang berada pada 98 derajat bujur timur itu adalah satelit Measat 91.3 derajat atau SES9 108 derajat. Dengan penggabungan 2-3 LNB ku maka siaran Free to air menjadi lumayan banyak dan juga dimanfaatkan secara komersial oleh produsen perangkat parabola menjadi LNB Monoblok. 




Apa itu LNB monoblok?


Jenis LNB ini terdiri dari dua LNB independen dalam satu housing dan memungkinkan pengguna untuk menerima sinyal dari dua satelit berbeda yang berada pada oposisi orbit yang sedikit berbeda dari instalasi piringan tunggal. Perpindahan antar satelit (pada dekoder / receiver ) dicapai melalui penggunaan pembagi DiSEqC . LNB Monoblok umumnya pada 2 satelit dengan jarak tetap 4,3° atau 6° dan jangkauannya dekat saja, baik untuk keluaran tunggal, kembar dan empat.

 

Contoh di mana LNB monoblok 6° dapat digunakan adalah untuk penerimaan ASTRA 1 (19,2° BT) dan Hotbird (13° BT) atau dengan jarak 4,3° untuk penerimaan ASTRA 1 (19,2° BT) dan ASTRA 3 (23,5 ° Timur).


Untuk jarak yang lebih jauh maka hadir pula braket multi LNB yang dapat digeser-geser sesuai jarak 2 atau lebih satelit yang di inginkan.






Namun pada perkembangan selanjutnya, cilakanya Ninmedia kemudian bubar dan diambil alih Tiviplus lalu Kugosky di satelit Asiasat9 (122 E) yang bernasib tragis hanya bertahan setahun lalu hilang menyelamatkan diri masing masing.




Apa ya kira-kira yang ada di pikirkan pemilik provider "channel leasing" ini  ? Mereka sepertinya memiliki kewajiban untuk melanjutkan channel hosting yang terlanjur kontrak ke mereka. Namun sepertinya pemilihan transponder baru di " bekas " frekuensi transvision sepertinya hanya memanfaatkan sisa kontrak penyewaan transponder ke pihak pengelola di  Kuala Lumpur. 



Lalu bagaimana saat kontrak transvision diperpanjang hanya untuk 4 transponder saja atau kemungkinan lainnya paytv pak CT hengkang dari measat? Hanya tuhan dan jimmy fenton yang paham kedepannya akan bagaimana. 

Share:

Selasa, 10 Mei 2022

TV Publik Swiss Menghentikan Siaran Digital Teresterial Tahun 2019 - Kita Indonesia ...



Swiss merupakan negara kecil di Eropa dengan status negara netral yg diapit 4 negara besar sehingga mempengaruhi sistem kenegaraannya. Sistem demokrasi langsung Swiss dan fakta bahwa negara itu memiliki empat bahasa resmi (Bahasa Jerman, Prancis, Italia dan Romansh) berarti bahwa struktur penyiaran pelayanan publik Swiss agak rumit. Pemegang sebenarnya dari izin penyiaran adalah SRG SSR sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan empat asosiasi penyiaran regional: SRG idée suisse Deutschschweiz (SRG.D), SSR idée suisse Romande (RTSR), Società cooperativa per la radiotelevisione nella Svizzera italiana (CORSI), dan SRG SSR idée suisse Svizra Rumantscha (SRG.R). Keempat asosiasi, yang untuk sebagian besar dijalankan independen oleh pendengar dan pemirsa di setiap daerah, menjadikan  SRG SSR sebagai  pusat produksi penyiaran bersama dan perusahaan penyiaran publik.

Namun Swiss telah mematikan layanan televisi terestrial digital (DTT) free-to-air pada tahun 2019. Keputusan tersebut didasarkan pada penetrasi DTT yang sangat rendah di Swiss dan peningkatan langganan IPTV yang terus berlanjut. Langkah ini merupakan bagian dari paket tindakan penghematan biaya yang disepakati antara penyiar publik Swiss SRG dan Dewan Federal Swiss setelah referendum 'No Billag' atau Tanpa Iuran baru-baru ini.

Platform siaran free-to-air utama di Swiss tetap melalui layanan satelit berbasis DVB-S2. Sebagian besar rumah tangga Swiss menerima paket TV dasar dalam langganan broadband mereka, yang menjelaskan peningkatan penerimaan IPTV dalam beberapa tahun terakhir. IPTV sudah memiliki penetrasi 48,4% pada tahun 2016 menurut EBU Media Intelligence Service. Seorang juru bicara SRG mengatakan bahwa perusahaan memperkirakan pemutusan DTT hanya akan mempengaruhi sekitar 64.000 rumah tangga. Ada 2,7 juta rumah tangga yg memiliki TV di Swiss.



Terjadi  perubahan kebiasaan menonton TV




Keputusan Swiss juga merupakan cerminan dari perubahan kebiasaan menonton, di mana ada pergeseran yang lebih besar ke konsumsi konten online. HbbTV (Hybrid broadcast broadband TV ) merupakan bagian integral dari proposisi Swiss pada kabel, IPTV, satelit dan DTT, dan proyek DVB dalam memfasilitasi pengiriman broadband layanannya melalui DVB-I dan teknik lain mengatasi perubahan ini.

Pasar lain di Eropa memiliki ketergantungan yang jauh lebih kuat pada DTT daripada Swiss. Penetrasi rata-rata untuk DTT di set utama untuk EU27 adalah 27,7%, dengan Kroasia, Yunani, Italia, dan Spanyol semuanya memiliki tingkat di atas 50%.

Sebagian besar negara yang meluncurkan layanan DTT hari ini memilih DVB-T2. Karena negara-negara Eropa yang masih menggunakan DVB-T merencanakan transisi mereka ke DVB-T2, layanan akan terus berkembang karena platform mereka diperkaya dengan UHD, HDR, dan layanan lanjutan yang ditingkatkan. “DVB sangat bangga untuk terus menjadi tulang punggung televisi digital, di Eropa dan di seluruh dunia, tidak peduli bagaimana hal itu disampaikan,” kata Peter MacAvock, ketua Proyek DVB.


Swiss tentu saja merupakan kasus khusus sebagian karena medan pegunungan kurang menguntungkan untuk perambatan sinyal DTT. Hanya 1,9% atau 64.000 rumah di Swiss sekarang menggunakan DVB-T untuk penerimaan TV utama menurut SRG. Sisanya menggunakan IPTV, kabel atau DTH, dengan SRG merekomendasikan agar rumah yang terpengaruh oleh pemutusan memilih yang terakhir karena menawarkan penerimaan yang jauh lebih baik sementara juga bebas mengudara.

Faktor lain adalah bahwa SRG menghadapi tekanan yang semakin besar untuk memangkas biaya karena tetap didanai oleh biaya lisensi, yang akan tetap berlaku setelah 71,6% pemilih negara itu menolak inisiatif No Billag untuk menghapuskan biaya iuran televisi dalam referendum yang diadakan pada Maret 2018. Ini berperan penting dalam gerakan untuk menghentikan DTT dan berkonsentrasi untuk menawarkan alternatif yang jelas untuk TV komersial, yang dengan sendirinya menimbulkan biaya.




Membuat Gaduh Dunia Pertelevisian


Kandidat yang paling mungkin untuk mengikuti langkah Swiss dalam waktu dekat adalah negara-negara di mana penetrasi DTT telah merosot ke tingkat yang rendah dengan alternatif broadband kecepatan tinggi, TV kabel dan satelit lebih mendominasi. Di Belgia dan Belanda, TV satelit sebagian besar merupakan pilihan cadangan tetapi broadband dan kabel telah menyapu pasar DTT dan kemungkinan besar menuju jalan keluar dalam beberapa tahun ke depan. Di Belgia, malaikat maut sudah melayang di atas DTT dengan penyiar publik berbahasa Belanda VRT menghentikan siaran DVB-T-nya pada 1 Desember 2019. Hal ini memengaruhi tiga saluran utama VRT Eén, Canvas, dan Ketnet, yang saat ini tersedia gratis untuk- udara di seluruh negeri, yang hanya 45.000 orang masih menonton DTT, sementara biaya lebih dari €1 juta per tahun untuk mempertahankan. VRT mengatakan akan menginvestasikan kembali uangnya pada platform online VRT Nu gratis yang memiliki 1,125 juta pengguna terdaftar.


Swedia dan Finlandia mungkin merupakan negara Eropa berikutnya yang meninggalkan DTT, tetapi untuk alasan yang berbeda, karena perubahan yang kuat menuju 4G LTE sebagai sumber konten video di ponsel cerdas dan tablet. Memang benar bahwa Swedia telah bermigrasi dari DVB generasi pertama ke DVB-T2, tetapi telah dikurangi karena penurunan permintaan. Rencana awalnya adalah untuk mengirimkan sejumlah besar saluran HD melalui DVB-T2 tetapi setelah berkonsultasi dengan penyiar, perusahaan pemancar negara Tracom merevisi perkiraannya ke bawah dan sekarang dengan pengurangan kapasitas DTT hanya akan mempertahankan layanan yang ada. Seperti yang diakui Tracom, jumlah penerima dengan dukungan DVB-T2 jauh lebih sedikit dari yang diharapkan atau diantisipasi.

Langkah Swiss juga telah memicu beberapa kesedihan di AS atas masa depan DTT di sana yang tampak aman di masa mendatang. Setelah semua upaya besar telah dilakukan dalam mengembangkan generasi ketiga dari standar DTT Amerika Utara yang berlaku, ATSC 3.0, yang bertujuan untuk melompati versi DTT lainnya dengan dukungan untuk UHD pada resolusi 2160p 4K pada 120 frame per detik dan iklan bertarget.


Ini telah dirancang dengan mempertimbangkan konvergensi seluler di sekitar 5G lebih dari sekadar DVB-T2, sementara juga memfasilitasi TV hibrida yang menggabungkan OTT dan siaran menggunakan pengiriman video MPEG DASH melalui broadband. Faktanya, Forum Industri DASH (DASH-IF) mengembangkan profil interoperabilitas DASH khusus untuk ATSC 3.0.

Dengan latar belakang ini, masa depan DTT di AS tampak aman. Bagaimanapun juga ATSC 3.0 telah mendapatkan daya tarik di tempat lain, termasuk Korea Selatan yang meluncurkan layanan ATSC 3.0 terestrial pada Mei 2017 sebagai persiapan untuk Olimpiade Musim Dingin 2018.

Namun jaringan utama AS seperti NBC, CBC, ABC dan Fox tidak dipaksa untuk menyiarkan saluran mereka melalui DTT dan jika mereka mau, dapat menawarkan konten premium mereka secara eksklusif kepada operator kabel dan satelit. Selain itu, sementara Komisi Komunikasi Federal (FCC) menyetujui peraturan untuk stasiun siaran untuk secara sukarela menawarkan layanan ATSC 3.0, mereka tetap harus ditawarkan bersama sinyal digital ATSC standar. Tidak akan ada transisi wajib ke ATSC 3.0 seperti halnya transisi dari NTSC analog ke ATSC. Oleh karena itu ada jalan keluar untuk jaringan jika mereka tidak percaya bahwa investasi dalam migrasi ATSC 3.0 dibenarkan oleh kemungkinan penetrasi.





Di sisi lain, ada fenomena churn (perubahan) besar-besaran di AS, yang memiliki efek samping sedikit meningkatkan penayangan DTT selama beberapa tahun terakhir. Ini karena lebih banyak rumah yang mengandalkan free to air yang dikombinasikan dengan satu atau lebih penawaran SVoD, sehingga jaringan akan enggan untuk memberikan rute penting ini ke TV utama.

Di Asia Pasifik juga terdapat gambaran yang sangat beragam, dengan beberapa negara benar-benar meningkatkan komitmen mereka terhadap DTT yang menunjukkan bahwa DTT mungkin bertahan di sana, paling lama, meskipun hal itu berpotensi berubah dengan cepat. India adalah kasus yang menarik dengan nasib DTT ada dalam keseimbangan tetapi mungkin di ambang rebound. Dilatarbelakangi bahwa penyiaran telah berkembang pesat dan dirangsang oleh sejumlah operator satelit dan digitalisasi kabel, yang sebagian besar diselesaikan dalam proses empat fase pada Maret 2017.

Itu membuat penyiaran terestrial sebagai satu-satunya media yang belum didigitalkan, menyebabkan Otoritas Regulasi Telekomunikasi India (TRAI) mengeluarkan makalah konsultasi yang merekomendasikan negara tersebut untuk melanjutkan digitalisasi DTT.

Makalah tersebut mencatat bahwa sebagian besar data di India disediakan melalui koneksi seluler dan bahwa DTT memiliki potensi untuk mengambil sebagian beban dari jaringan seluler. Menariknya, ponsel yang mendukung DTT dapat memiliki chip terintegrasi atau bahkan dongle untuk akses DTT. Ini telah dicoba sebelumnya dan memiliki implikasi baterai yang sangat besar jika ditempatkan langsung ke telepon.

TRAI telah menganjurkan rencana tiga fase untuk migrasi DTT yang meniru model digitalisasi kabel sebelumnya, dimulai dengan kota-kota besar, kemudian daerah perkotaan yang lebih kecil dan akhirnya seluruh negeri pada tahun 2023, meskipun kedengarannya ambisius.

Hasil dari semua ini adalah bahwa sementara pemutusan Swiss benar-benar menandai kematian DTT di beberapa negara selama beberapa tahun ke depan, masih terlalu dini untuk menghapusnya secara global dan nasibnya akan sangat bervariasi tergantung pada faktor-faktor termasuk medan dan kepadatan penduduk . Namun tidak seorang pun yang berkecimpung di dunia broadcast akan menjadi kaya dengan menyediakan konten melalui DTT saja, itu sudah pasti. Youtuber dan tiktoker ? Sudah jelas pasar berubah kawan..



sumber : https://rethinkresearch.biz/articles/swiss-dtt-shutdown-beginning-of-end-for-digital-terrestrial/

Share:

Sabtu, 30 April 2022

Analog Switch Off Tahap 1 - Ternyata Kita Belum Terlalu Siap


Setelah menunggu sekian lama, dari tahun 2008 saya telah mengikuti kick off penyiaran digital oleh Presiden SBY di studio TVRI Jakarta, akhirnya hari yg dinanti telah tiba, hari dimana akan dilaksanakan ASO tahap pertama di Indonesia. Namun terkejutnya saya ketika teman sesama teknisi di Bali yang seharusnya mendapatkan giliran ASO paling awal, memberikan update bahwa dia seperti kena "prank".

Kenapa ? 

Karena dia sudah ber Woro-Woro ke seantero desa dan berharap akan dapat durian runtuh pemasangan STB dan setting TV digital di warga desa yg kehilangan tayangan sinetron saat ASO terjadi.

Dan kemudian saya sedikit tidak percaya lalu menengok berita pagi TVRI dan melihat liputan pak menteri kominfo melakukan kick off ASO kemarin malam. Beritanya pendek saja namun saya tidak puas dan lanjut melihat kanal youtube kemkominfo dan saya terkejut. Begini selengkapnya:


UPDATE TENTANG ASO TAHAP 1 :

1) ASO Tahap 1 (30 April 2022 jam 24.00) dimulai di wilayah layanan  di 3 propinsi, 8 kab/kota :

  1. Propinsi Riau (Riau 4 : Dumai, Bengkalis, Meranti)
  2. Propinsi NTT (NTT 3 : Timor Tengah Utara + NTT 4 : Belu, Melaka)
  3. Propinsi Papua Barat : Kota Sorong, Kabupaten Sorong.

Ini adalah wilayah dimana STB sdh terdistribusi 100% untuk Rumah Tangga Miskin (dari Bantuan Kominfo dan TVRI).

2) Wilayah lain tetap dilanjutkan simulcast/atau siaran analog. 

3) Setelah lebaran, Dirjen SDPPI diminta Menkominfo utk membentuk Task Force yg melibatkan para penyelenggara Mux untuk menyusun bersama2 rencana, monitoring, dan mencari solusi atas masalah dalam distribusi STB yang menjadi komitmen para penyelenggara Mux. Termasuk wilayah yg akan ASO apabila distribusi STB telah mencapai 100 %.

4) Seluruh TV diminta tetap meningkatkan sosialisasi ASO dan migrasi digital dg "diksi" yang mudah dipahami masyarakat seperti sisi manfaat misalnya makin banyak tontonan program, atau akan dapat terus menonton program unggulan suatu stasiun TV.

Setelah rapat dilanjutkan konpers oleh Menkominfo didampingi para wakil penyelenggara mux dan para pejabat kominfo.



Bagaimana ? Prank atau tidak ? Ternyata kerja keras kita sebagai teknisi - tukang antena menjadi seperti diii...... Ahhh siapalah saya hanya setitik nila di susu sebelahnya..ehh sebelanga. Sebagai seorang penganut stoik, maka hal external yang tidak mungkin saya rubah maka sebaiknya saya ambil sikap " BODO AMAT".


Namun tidak ada salahnya juga bersiap kalau kalau siaran analog di TV tabung kamu keluar gambar seperti gambar paling atas.




Oooo iya apa kamu sudah punya STB Digitalnya ? Baca dulu review STB berikut ya, jangan sampai  siaran kamu putus - putus kayak VCD rusak seperti gambar contoh diatas:


 - Matrix Apple  - Matrix Kuning   - Polytron PDV 600T2   - Venus Cabe Rawit  - Evinix H-1  - Akari ADS2230 Tanaka 


Antena Digital paling jernih :

- Fleco AT-56   - Venus Cabe Rawit Indoor/Outdoor


Bagi anda yg berada di lokasi lain di Nusantara dapat juga membaca update perkembangan  migrasi TV digital di  kota-kota besar seluruh Indonesia :

Surabaya  MNC  ,  EMTEK , VIVA )

Malang

Jember 

Kediri

Jombang & Mojokerto

Madiun

Jogja

Semarang

Banjarmasin

Makasar

Medan

Palembang

Perbatasan Malaysia

Singaraja Bali 


Hubungi kami jika anda terkendala seting TV digital di wilayah Surabaya dan sekitarnya :

TV Digital Pasti Jernih

Jl. Ikan Mujaer No.7 P, Perak Bar., Kec. Krembangan, Kota SBY, Jawa Timur 60177

0815-5737-755 

https://g.co/kgs/No6JmP


Share:

Jumat, 29 April 2022

Pembagi Siaran TV Digital Untuk Hotel dan Kos - Kini Semakin Simple dan Murah

 



Terkenang kembali ketika saya pertama kali memulai bisnis distribusi TV parabola sekitar 6 tahun lalu, saat itu saya dihadapkan suatu kondisi, dimana kawan saya yang memiliki usaha kos-kosan premium berjumlah ratusan kamar (maklum juragan ex tambang yg baru resign dan dapet pesangonnya gak muat di dompet), sedang kebingungan karena kehilangan kontak dengan teknisi  yg biasa maintenance TV di kos2an itu. 

Dijelaskan pula oleh kawan itu kalau setiap bulannya, teknisi TV paling tidak 2-3 kali datang untuk memperbaiki kualitas jaringan CATV TV di kamar kos. Dan ketika saya kunjungi, terkejutnya saya  melihat gambar TV di kamar kos, yg dibilang kualitas "Jernih" dari siaran TV di kos tersebut sangatlah jauh dari kebiasaan penglihatan saya yg sudah mode "HD". 

Selain itu,  kawan saya mengeluh harus selalu membayar ongkos pergantian "IC power " dari ampli / booster tv kabel tiap bulan sekali, karena ada saja komponen yang melemah atau rusak. Ini sih namanya bikin capek kedua pihak baik owner maupun teknisi, yang walau sering dapat ceperan namun capek juga kalau yg rusak itu lagi itu lagi.


Baca Juga : Jenis gangguan TV analog yang akan kita tinggalkan di era TV digital




Sistem TV kabel analog yang digunakan umumnya terdiri dari Parabola - Switch / Splitter - STB DVB S/S2 - Modulator - Combiner - RF Amplifier - Distribusi UHF ke kamar. Sangat banyak perangkat yang perlu di sediakan dan kemungkinan error ataupun interference (gangguan sinyal) menjadi sangat terlihat dilayar TV. Tampilan di layar bisa saja telihat jernih bagi orang awam, namun bagi mata saya terlihat ada noise bintik yg teratur yg kemungkinan berasal dari sambungan kabel yg berada dekat dengan perangkat CCTV. Namun setelah saya belajar dari internet dan setelah menemukan bahan-bahan untuk distribusi TV satelit Digital ( yg ternyata tersedia di pasaran), maka saya berhasil mengerjakan pertama kalinya di sebuah kos2an elite di jimerto surabaya, dan sudah saya pernah bahas di blog ini juga (baca disini).




Lalu beberapa tahun kemudian munculah era TV DIGITAL, dimana sinyal TV yang melalui udara (UHF) kini telah dikodekan menjadi sinyal Digital yang lebih tahan terhadap gangguan sinyal. Ya tentu saja karena teknologi DVB-T2 adalah saudara dekat dari teknologi 4G-LTE dimana prosesor canggihnya dapat menangani "error correction" dari sinyal UHf dan telah terbukti memberikan kenyamanan dalam menonton siaran berkualitas HD (high Definition). Namun kendalanya banyak hotel yang masih menggunakan televisi LCD/LED analog, apakah dapat di ubah menjadi TV Digital ?





Dan kami pun telah mengerjakan sebuah proyek "percontohan" dimana sebuah proyek mess bumn ternyata terlanjur membeli TV LED yang tanpa memiliki tuner DVB-T2. Pantas saja langsung di ACC pimpinan karena harga TV LED analog ini sedang obral murah cuci gudang. Dikarenakan di kota tempat mess ini berada TV digitalnya sudah lengkap, maka solusi termurah adalah dengan membuat pembagi antena UHF untuk setiap kamar. Cilakanya mess ini renovasi bangunan jadul sehingga tidak memungkinkan untuk banyak-banyak naik plafon dan tenggat waktu peresmiannya sempit ! Alamak..apa solusinya ?




Pilihannya adalah dengan menggunakan antena UHF mini yang saya pasang dirumah dan pernah saya bahas disini. Karena kualitas penerimaan TV digital di lokasi cukup baik, maka saya putuskan untuk memasang antena ini di tiap kamar, dengan menyembunyikannya dibelakang furniture atau AC atau apapun asal tangkapan sinyalnya memungkinkan dengan tingkat sinyal dan BER yang bagus.




Jadi di proyek percontohan ini saya dapat memuaskan pemilik mess karena dapat menekan anggaran dan dengan kualitas siaran TV yang bagus. Gak tau juga kalau dana nya di mark up dan di sunat sama teknisi di bumn itu, saya gak ikut-ikut yang penting saya BAYARAN !




Jika lokasinya jauh dari pemancar TV dan cukup riskan kehilangan sinyal, maka penggunaan antena UHF outdoor dan booster mungkin bisa menjadi solusi. Namun permasalahannya sinyal TV jika dibagi banyak bisa mengalami los / rugi-rugi di splitter. Sehingga berdasarkan pengalaman saya terdahulu, jika terdapat 5 lantai usahakan di tiap lantai memiliki 1 antena UHF + Booster lalu dibagi ke tiap kamar, dengan catatan panjang kabel ke tiap tv dibuat seragam, sehingga tiap kamar memiliki tingkat sinyal yang seragam pula. Jadi usahakan splitter UHF berada di lokasi tengah-tengah plafon tiap lantai.


Berapa sih nilai investasinya ?


Perkiraannya seperti berikut :


1. STB DIGITAL (Jika TV hotel masih Analog) = 250.000

2. Antena Indoor = 100.000, Outdoor = 150.000

3. Asesories seperti klem + ducting, holder STB  = 50.000

4. Booster UHF = 250.000

5. Splitter UHF isi 4 = 100.000

6. Remote Copy = 50.000 , penjelasannya bisa dibaca disini

7. Jasa tekinisi = 150.000 / kamar


*) Item bisa dikurangi sesuai kondisi di lapangan

*) Dapat memanfaatkan sistem distribusi CATV sebelumnya sehingga menghemat biaya

Berminat ? kontak kami ya ..


TV Digital Pasti Jernih

Jl. Ikan Mujaer No.7 P, Perak Bar., Kec. Krembangan, Kota SBY, Jawa Timur 60177

0815-5737-755 

https://g.co/kgs/No6JmP

Share:

Kontak Penulis



12179018.png (60×60)
+6281331339072

Mail : ahocool@gmail.com

Site View

Categories

555 (8) 7 segmen (3) adc (4) amplifier (2) analog (19) android (14) antares (11) arduino (29) artikel (11) attiny (3) attiny2313 (19) audio (8) baterai (5) blog (1) bluetooth (1) chatgpt (2) cmos (2) crypto (2) dasar (46) digital (11) dimmer (5) display (3) esp32 (3) esp8266 (31) euro2020 (13) gcc (1) gis (3) gsm (1) iklan (1) infrared (2) Input Output (3) iot (79) jam (7) jualan (12) kereta api (1) keyboard (1) keypad (3) kios pulsa (2) kit (6) komponen (17) komputer (3) komunikasi (1) kontrol (8) lain-lain (8) lcd (2) led (14) led matrix (6) line tracer (1) lm35 (1) lora (11) lorawan (2) MATV (1) memory (1) metal detector (4) microcontroller (70) micropython (6) mikrokontroler (3) mikrokontroller (14) mikrotik (5) modbus (9) mqtt (4) ninmedia (5) ntp (1) openwrt (3) paket belajar (19) palang pintu otomatis (1) parabola (90) pcb (2) power (1) praktek (2) project (37) proyek (1) python (11) radio (31) raspberry pi (9) remote (1) revisi (1) rfid (1) robot (1) rpm (2) rs232 (1) script break down (3) sdcard (3) SDR (3) sensor (2) sharing (3) signage (1) sinyal (1) sms (6) software (18) solar (1) solusi (1) statistik (5) tachometer (2) technology (1) teknologi (2) telegram (2) telepon (9) televisi (168) television (28) telkomiot (5) transistor (2) troubleshoot (3) tulisan (97) tutorial (108) tv digital (6) tvri (2) unesa (10) vu meter (2) vumeter (2) wav player (3) wayang (1) wifi (6) yolo (10)

Arsip Blog

Diskusi


kaskus
Forum Hobby Elektronika