"Kembali Ke Dasar Elektronika Digital ... "

  • IC Timer 555 yang Multifungsi

    IC timer 555 adalah sirkuit terpadu (chip) yang digunakan dalam berbagai pembangkit timer, pulsa dan aplikasi osilator. Komponen ini digunakan secara luas, berkat kemudahan dalam penggunaan, harga rendah dan stabilitas yang baik

  • Animasi LED Dengan IC 4017

    IC 4017 adalah IC 16-pin CMOS dekade counter dari seri IC CMOS 4000. Sangat berguna jika ingin membuat animasi lampu atau LED secara sederhana seperti led berjalan, tulisan berjalan , counter/timer dan masih banyak kegunaan lainnya

  • Bermain DOT Matrix - LOVEHURT

    Project Sederhana dengan Dot Matrix dan Attiny2313. Bisa menjadi hadiah buat teman atau pacarmu yang ulang tahun dengan tulisan dan animasi yang dapat dibuat sendiri.

  • JAM DIGITAL 6 DIGIT TANPA MICRO FULL CMOS

    Jika anda pencinta IC TTL datau CMOS maka project jam digital ini akan menunjukkan bahwa tidak ada salahnya balik kembali ke dasar elektronika digital , sebab semuanya BISA dibuat dengan teknologi jadul

  • BIKIN PCB SEDERHANA TAPI GA MURAHAN

    Bikin PCB itu ga susah kok..dengan software EAGLE CAD dan teknik sterika kamu dapat membuat PCB untuk berbagai project elektronika mu ...

Tampilkan postingan dengan label television. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label television. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 April 2021

[Parabola] Sirius TV Satelit Malaysia Lagi Trial di 95 Bujur Timur - Ayo Kita Cek Siarannya

Sirius Malaysia adalah layanan TV Satelit lokal baru dengan platform Direct to Home (DTH) yang menyediakan layanan TV berbayar di Malaysia. Sirius memiliki lisensi yang diperlukan dari MCMC (Kominfo nya malaysia) untuk mengoperasikan stasiun TV satelitnya. Sirius mencoba mendobrak monopoli Astro yang sejak tahun 90an menjadi satu-satunya operator TV Satelit berbayar di negeri jiran.




Sirus bermitra dengan SES, sebuah perusahaan satelit global untuk transponder dan sistem pengiriman video. SES menyediakan teknologi terkini dalam bentuk perangkat penyiaran dan sistem pengiriman konten di pusat penyiaran di Measat Teleport & Broadcast Center di Cyberjaya. 


SES-12 yg digunakan oleh Sirius merupakan satelit hibrid ketiga SES dengan daya jangkau yang luas sekaligus memiliki kapasitas yang besar dan berkecepatan transmisi tinggi. Seperti SES-14 dan SES-15 yang melayani Amerika, SES-12 merupakan solusi SES untuk meningkatkan solusi konektivitas hemat biaya bagi pelanggan di bidang aeronautika dan kelautan di seluruh Asia Pasifik dan Timur Tengah.




SES-12 juga sangat penting dalam memungkinkan pemerintah menyediakan program konektivitas untuk menjembatani kesenjangan digital dan memungkinkan operator telekomunikasi, operator jaringan seluler, dan penyedia layanan internet untuk menyediakan layanan jaringan seluler (backhaul)  yang lebih andal sekaligus lebih baik dan layanan broadband yang lebih cepat.



Semenjak trial bulan Februari 2021, sirius menjadi incaran para treker di seluruh nusantara, terutama para pecinta parabola mini Free To Air, dimana sempat dikecewakan dengan ninmedia yang pindah dari 98 ke 122 Bujur timur. Jadi mencari sirius cukup dengan mengeser sedikit parabola ke atas 1 cm dari arah Ninmedia yang dulu, yang arahnya searah dengan kiblat / barat. Kini kita dapat menonton siaran yang lumayan jernih dan tentunya GRATIS. Sinyalnya juga sangat kuat diterima di seluruh nusantara.




Transponder yang digunakan adalah  12595 MHz dengan Symbol rate 45000. Dan hasil scan pada april 2021 terdapat sekitar 11 siaran trial dan mungkin akan segera bertambah atau mungkin juga akan segera berubah menjadi ber logo dolar ?




 

Siaran dari MNC vision juga terdapat pada sirius, yaitu drama channel. Sepertinya sirius menjalin kerjasama dengan MNC group atau bahkan dimiliki juga oleh pak Hari Tanoe Sudibjo ?



Silahkan mencobanya kawan, karena nantinya saat beroperasi maka sirius akan mengacak siarannya atau anda perlu membeli receiver khusus dan membayar langganan tiap bulannya.

Share:

Rabu, 07 April 2021

TV Analog Switch Off In Singapore : An Indonesian Perspectives On TV's Digital Migration


The closest neighboring country to Indonesia, which has changed its digital television system and turned off all analog television technology, is Singapore. Maybe this article is a little out dated when read by fellow Indonesian lives in Batam and other Riau Islands because ASO (Analog Switch Off) in Singapore has been implemented in the new year of 2019. Let's see how the ASO process was conducted in that garden city.

Since 2019 on January 1st, the analog TV signal has been disabled - meaning households that haven't switched to digital television (DTV) will no longer be able to watch Mediacorp's free-to-air programs. We know that the island-city state of Singapore has very few TV channels and all of them belong to Mediacorp, the rest of Singapore's air is filled with broadcasts from Batam Indonesia and Johor Malaysia. The Minister of Communication and Information S. Iswaran revealed in a written reply to parliament in September 2018 that four out of five households have DTV.




Switching from analogue to digital broadcasting would cost a family in Singapore about $ 100 to install STB equipment to convert analog to digital signals. Plans to end analogue broadcasting by the end of 2017 were put on hold for a year to get more people switching.


As a result, the Government has set aside $ 40 million to help equip homes to receive digital broadcasts by the December 31 deadline. In April 2018, The Straits Times reported that up to 400,000 Housing Council homes still had to switch from analogue to digital broadcasting. IMDA has said it will start sending letters to these households, letting them know they are entitled to $ 100 worth of free equipment.


Homes can choose to install a free digital set-top box and antenna in their home for free, or get a $ 100 discount on their preferred digital TV equipment at participating stores. Starting 17 September 2018, households who have not switched are also seeing a smaller image on their screens, which serves as a visual reminder for them to switch before the analog TV signal is turned off.




There are also on-screen instructions and advertisements in various media to tell viewers how to switch to DTV. Digital transmission allows broadcasters to send more signals more efficiently, allowing viewers to receive higher quality images and sound. The user can also, among other benefits, choose which subtitles and language options to display.


In 2017, Communications and Information Minister Yaacob Ibrahim said the government is committed to helping Singaporeans switch to digital TV and enjoy its benefits. He said in Parliament last November that access to Mediacorp's free-to-air channels is important because they are a major source of news and entertainment in four languages, and carry programs that promote Singapore's social values ​​and identity.



Straits Times customers who have not switched to digital broadcasting can also take advantage of special offers to get a digital television set. In collaboration with Philips and as part of the "ST + news with benefits" program to reward customers, they can purchase the 6000 series Ultra Slim Smart LED TV set from Philips for almost half the price from 13 November to 9 December 2018.

Share:

Senin, 08 Februari 2021

Kabar Gembira RCTI-MNC-GTV kembali hadir di channel 41 TV Digital Surabaya

 


Sesuai janji seorang rekan teknisi di stasiun transmisi relay RCTI di surabaya, bulan februari 2021 akan kembali hadir siaran digital dari grup televisi kesayangan banyak pemirsa TV di Indonesia yaitu MNC GROUP. Berdasarkan pengamatan minggu 7 februari 2021 siaran percobaan telah dilakukan pada gelombang UHF 41 atau 634 Mhz. Ini merupakan frekuensi lama yang dipakai MNC group saat mengudara di tahun 2013-2014 sebelum mereka sendiri menjegal usaha migrasi tv digital melalui putusan MA saat itu.



Kita flashback dulu bagaimana sih kejadian hingga tahin 2014 itu membuyarkan migrasi yang seharusnya menjadwalkan 2018 sudah FULL ASO ?


Dikutip dari tempo (2014) -- Migrasi TV digital ini menemui banyak kendala. Hambatan itu datangnya dari perusahaan televisi swasta nasional yang terancam dengan digitalisasi. Teknologi digital akan membuat satu channel televisi analog bisa diisi 6 - 9 program siaran. Dalam skema digitalisasi di Jakarta dan sekitarnya, pemerintah menetapkan ada tujuh channel. Artinya ada sekitar 42-63 program siaran.

Pemerintah memutuskan penyelenggara MUX adalah group besar media yaitu Group MNC (RCTI, Global TV, MNC TV), Group Bakrie (TV One dan ANTV), Group Trans Corp (Trans TV dan Trans7), Group Elang Mahkota (SCTV dan Indosiar), Group Rajawali (RTV dulu bernama B-Channel), dan Group Lippo (BSTV, salah satu produknya Berita Satu). Penyelenggara MUX ini rata-rata memiliki 2-3 program siaran padahal kanal digital berkisar 6-9 slot. Pemerintah mewajibkan penyelenggara MUX membagi kanal digital kepada penyelenggara program siaran lain dengan sistem sewa. Kewajiban inilah yang sulit dilakukan televisi swasta.

Anang mengakui adanya sikap kurang terbuka televisi swasta nasional kepada televisi lokal tunggal dan berjaringan. “Merasa kurang level,” ujarnya. Sikap ini menghambat migrasi televisi analog ke digital yang rencananya mulai bisa dinikmati masyarakat tahun depan. “Kita terus mendorong agar penyelenggara MUX memberika sewa kepada penyelenggara siaran"

Suasana saat diskusi menentang aturan kominfo tentang digitalisasi jaman menteri tifatul sembiring


Sedangkan Kontan co id  pada beritanya tahun 2014 menyebut, terbitnya peraturan baru pelaksanaan Televisi(TV) Digital kembali mendapatkan tentangan dari kalangan pengusaha TV lokal yang tergabung dalam Asosiasi TV Lokal Indonesia (ATVLI).

ATVLI menegaskan, beleid baru TV digital tersebut bertentangan dengan putusan Mahkamah Agung (MA) dan Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Seperti diketahui, akhir Desember 2013 lalu, pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo) No 32/2013 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Televisi Secara Digital dan Penyiaran Multipleksing Melalui Sistem Terestrial.

Beleid ini menggantikan Permenkominfo Nomor 22 /2011 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Televisi Digital Terestrial Penerimaan Tetap Tidak Berbayar (Free to Air) yang dibatalkan Mahkamah Agung (MA) pada September 2013 lalu. Saat itu, yang menggugat aturan TV Digital itu adalah pihak ATVLI.

Direktur Eksekutif Asosiasi TV Lokal Indonesia (ATVLI), Jimmy Silalahi, mengatakan, sesuai putusan MA, pemerintah tak bisa melanjutkan proses persiapan menuju era TV Digital.  "Peraturan baru hanya mengganti redaksionalnya saja tetapi prinsipnya ya tetap sama juga," ujarnya.

Ia menyatakan, seleksi TV digital seharusnya berhenti dan tidak bisa dilanjutkan kembali karena bertentangan dengan UU Penyiaran. Menurut ATVLI, dampak putusan MA itu membuat tak ada lagi penghentian siaran atau switch off dari analog ke digital, tidak adanya kelembagaan (Lembaga Penyiaran Penyelenggara Penyiaran Multipleksing) dan tidak adanya sistem zonasi siaran digital.



Praktis hanya TVRI yang terlihat niatnya untuk migrasi, dimana sejak 2010 sudah mengelar MUX digitalnya di berbagai kota. Dan tahun 2014 saat aturan MUX yang zonasinya diperkirakan membunuh banyak tower pemancar milik MNC group dan TV swasta lainnya, maka hilanglah gairah migrasi digital dari pihak TV swasta setelah putusan MA tahun 2014 itu. Namun ini berakhir sudah saat 2020 UU cipta kerja - Omnibuslaw telah membungkus migrasi televisi digital ke produk undang-undang yang lebih paten. Jadi kini siaran TV harus bergegas migrasi digital sebelum akhir 2022, dan dapat dibaca pada tulisan sebelumnya di : https://www.aisi555.com/2020/12/omnibus-law-televisi-digital.html.



Dengan siaran percobaan ini, tinggal hanya NET TV sebagai tv nasional yang belum kembali ke mux lamanya bersama MUX TVRI surabaya. Total ada 23 saluran tv digital di  udara kota surabaya dan sekitarnya.


 

Frekuensi

Nama TV

1

490 MHz

(23 UHF)

1

TV ONE

2

ANTV

2

506 MHz

(25 UHF)

3

MetroTV

4

MetroTV HD

5

Magna Channel  HD

6

BN TV HD

7

BBS TV

3

522 MHz

(27 UHF)

8

Trans TV HD

9

Trans 7 HD

10

CNN Indonesia HD

11

CNBC Indonesia HD

12

Kompas TV

 

4

538 MHz

(29 UHF)

13

SCTV HD

14

INDOSIAR HD

15

O CHANNEL HD

16

MENTARI TV HD

5

586 MHz

( 35 UHF)

17

TVRI SPORT HD 

18

TVRI 3

19

TVRI JATIM

20

TVRI NASIONAL

6

634 MHz

( 41 UHF)

21

RCTI

22

MNC TV

23

GTV

Share:

Jumat, 29 Januari 2021

6 Things That Affect Digital TV Reception - How To Solve It ?


How is the digital TV reception in your location? Is the broadcast as clear as expected? This time I will discuss six types of interference that can affect your Digital TV reception and how does the TV signal should travel from your local transmitter  to your antenna, so that the broadcast quality is a perfect clear picture.

There may be a mountain between the transmitter and your tv antenna which can affect the reception quality and distance also not to be forgotten. Several other factors can affect the success of receiving certain TV station broadcasts, assuming that you have used the correct TV antenna and in your area the digital tv signal actually exists, so let's get it on..



1. Indoor Antenna vs Wall Material


The first to be the most important concern is your antenna vs the wall of your house! There are several things that can affect it, first is what building materials are in your walls? The TV signal does not travel well through building materials and if you are using an indoors one it will likely to attenuate the tv signal.

Some TV stations may not show up or may not get a good picture even if you have the greatest antenna in the world and are correctly tuned to the TV frequency. If you have tried to catch the signal with all your effort, it will be in vain, because no signal is going through your home wall materials which are generally a CONCRETE.

Using an indoor antenna inside the house won't really work! Maybe some of you are in apartment complexes, there are a number of things you can do to improve your indoor reception if you are restricted to using only indoor antennas that are mounted on a wall like that super magic digital antenna ad video.




2. Powerline Interference  Around the House



One way to improve your Digital TV reception, if you are restricted only to use an indoor antenna, is to find other factors that can interfere with TV broadcasts. The mains cable network next to the house, for example, especially high voltage power lines, is also quite influential. It happened to me a few months ago when I was at a friend's house, and he was complaining about the receiption of his new indoor digital antenna. Then I tried to bring the indoor antenna back to my home and the results were very clear.

In the end, I tried a decent outdoor antenna antenna and no matter where the antenna was placed, beside the wall or even on the roof top, there was still some interference at one of the TV stations where the broadcast was pixelate, aka grumpy. So I suspect that the digital STB or the receiver is not suitable with the power lines,  because when I use my own receiver (which is much more expensive) the results are just fine.




What i've found that the digital tuner on the cheap STB didn't do a good job coding the weaker TV signal or maybe at the certain TV frequency that collided with the harmonics from the electricity power lines. It couldn't be filtered properly  !


3. House Electronics Appliances




What may disturb you  are some common electronic appliances in your home, including microwaves, blenders and even today's LED light bulbs. I had this problem firsthand about a year and a half ago when I first moved house. Every time I turn on the microwave, I will lose several TV stations, grumpy and can't enjoy the TV broadcasts.


If you are in this situation and you want to use an indoor antenna I highly recommend stopping using this model, switch to the UHF outdoor antenna as usual while still using Analog TV.




But if you don't have the option to use an outdoor antenna, then if you want your TV to receive the best picture, you have to choose whether to watch TV or cook. You can turn on the microwave oven and turn off the TV or completely remove the microwave or other sources that can interfere with your Digital TV signal. So watching clear tv all day but hungry stomach. Delivery order is the solution ...


4. Trees




Maybe if the tree is only one or two it won't be a problem, but what if your house is around a dense forest? On rainy and windy days you will notice that certain TV stations are getting pixelated and uncomfortable to see because the tree obstruction interferes with the TV signal. If you are in that situation then you really need to get a really good outdoor antenna and put it in an unobstructed position path to the TV station's tower.




5. Airplanes And Cars Pass


Another factor that interferes with your TV receiption is an airplane passing overhead and this is more often occurs if you are using a small antenna or indoors one, and your house happens to be near the airport.

What happens is that the television signal is reflected by the plane and your antenna starts to pick up too much signal otherwise known as MULTIPATH interference (multiple reflections) and the digital television tuner can't handle it so you end up with a bunch of pixels in the image, aka grumpy or no signal at all. if you are in a very unlucky situation. Even though the DVB-T2 standard fixes the multipath problem, it will be affected if the multipath is too much.



The solution is to use an external antenna with very good alignment or a rotatable antenna. Don't forget to point the antenna out of a path that airplanes often pass. Apart from airplanes that make you feel bad, this one also causes a lot of interference, namely cars passing on the road in front of the house, especially if you use an indoor antenna.




6. Cellulars Tower 4G LTE / 5G


This will be a problem if the 700mhz frequency is free from Analog TV signal and used for 4G / 5G cellular. So broadcasts on channel 40s and above are vulnerable to BTS signal interference if you are in a location near a cellular BTS tower. The characteristic of this interference is a pixelate image with regular pauses, for example 10 seconds or 30 seconds. This indicates that there is a wild emission from the leaking BTS devices.



Now it's still safe in some country in asia because the 700 mhz frequency hasn't been used by cellular because the Analog Swith Off or digital migration hasn't finished yet. But if the time comes the solution is to use the LTE filter as shown above.

Share:

Kamis, 28 Januari 2021

Bagi - Bagi STB hanya Sekedar Wacana ? Padahal sudah gembar-gembor lhooo



Pembagian STB alias decoder digital gratis merupakan cara jitu yang dipakai negara maju untuk "memancing " masyarakat mau mengganti cara mereka menonton TV. Tapi ini memang untuk negara maju yang punya duit lhoo..kalau tidak ada anggaran tentunya bisa bekerjasama dengan pihak produsen elektronika sebagai CSR sekaligus promosi produknya. Saat penulis mengikuti awal siaran digital menggunakan standar DVB T di tahun 2010, saat itu beberapa produsen elektronika di indonesia diminta pemerintah untuk menyumbang program ini, dan beberapa kawan yg kebetulan bekerja di beberapa produsen elektronika dikirim ke korea dan china untuk mempelajari  standar teknologinya dan perakitan STB DVB T.




Tapi apa yang terjadi adalah ujug-ujug standar DVB T menjadi usang (karena memang telat migrasi di negeri kita) dan pemerintah berusaha catch up dengan kembali berkiblat ke wilayah eropa terutama Inggris yang sejak tahun 80an sangat ditiru oleh TVRI format televisinya. Terbukti dengan  pernah diadaptasinya sistem iuran TV yang sampai saat ini masih dijalankan di negara berbendera Union Jack. Kembali ke STB DVB T yang sudah kadung dipesan modulnya oleh beberapa produsen yaitu PF antenna bandung dan polytron kudus, yang menurut cerita teman banyak komponen STB harus dibuang karena tidak terpakai akibat perubahan standar menjadi ke DVB T2 (yang mendukung format HD TV). Ngambeklah para produsen elektronika ini alias kapok mendukung program bagi-bagi STB gratis.


Mengutip CNN Indonesia , Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menegaskan masih mengkaji pembagian sebanyak 6,7 juta set top box (STB) untuk masyarakat guna mempercepat migrasi televisi analog ke tv digital.

Juru Bicara Kemenkominfo Dedy Permadi mengatakan proses pengkajian harus melibatkan pihak televisi swasta.


"Setelah RPP Postelsiar disahkan, rencana pembagian set top box masih perlu dikaji dan dibahas terlebih dahulu dengan pihak Televisi Swasta mengenai seberapa besar Televisi Swasta akan berkontribusi," ucapnya kepada CNNIndonesia.


STB adalah perangkat penerima siaran TV digital yang dapat dikoneksikan ke pesawat televisi. Harga set top box termurah di marketplace memang masih dibanderol dengan kisaran Rp155 ribu.

Lebih lanjut ia menjelaskan, saat ini Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian sedang menyiapkan aturan untuk menghentikan produksi dan impor televisi analog.

Selain itu, pemerintah juga terus mendorong pelaku usaha dalam negeri agar dapat menaikkan kapasitas produksi STB buatan Indonesia.



Dedy menjelaskan, saat ini masyarakat dapat mengakses siaran digital di stasiun TVRI di 34 provinsi di seluruh Indonesia. Namun untuk siaran televisi swasta lainnya baru dapat diakses di beberapa provinsi.


"Untuk siaran digital televisi swasta seperti Metro, Trans Group, MNC Group, Viva Group, dan Emtek, baru dapat diakses di 12 provinsi," ucapnya.


Sebanyak 12 provinsi tersebut meliputi Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Banten, DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Lebih lanjut Dedy menjelaskan, pihaknya kini tengah melakukan seleksi kepada pihak televisi yang bertujuan untuk menguji kelayakan pihak televisi yang akan menyelenggarakan multipleksing karena sumber daya frekuensi yang terbatas.

Seleksi ini akan diatur dalam Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Sektor Pos, Telekomunikasi, dan Penyiaran (RPP Postelsiar) yang kini masih dibahas dan disahkan.

Dedy berharap, jika RPP Postelsiar telah disahkan maka digitalisasi televisi dapat berlangsung di seluruh Indonesia.


Perkembangan TV Digital di Indonesia

Wacana TV digital telah dimulai sejak 1997. Kemudian pada 2004 mulai dilakukan migrasi dari analog telah dilakukan, namun sekadar uji coba.

Pemerintah menetapkan standar Digital Video Broadcasting Terrestrial (DVBT) tiga tahun kemudian. Saat itu pemerintah melakukan uji coba DVBT untuk format siaran digital.

Pada 2009, di era Menkominfo Muhammad Nuh, pemerintah mengeluarkan Roadmap infrastruktur TV digital disusun sebagai peta jalan bagi implementasi migrasi dari sistem penyiaran televisi analog ke digital di Indonesia. Peta jalan ini dimulai sejak awal 2009 sampai akhir 2018.

Sebagai dukungan regulasi terhadap implementasi penyiaran TV digital, pada 2009 pemerintah menetapkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 39 tahun 2009 tentang Kerangka Dasar Penyelenggaraan Penyiaran TV Digital Terestrial Penerimaan Tetap Tidak Berbayar (free-to-air).

Pada November 2011, di era Menkominfo Tifatul Sembiring, pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 22 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Televisi Digital Terestrial Penerimaan Tetap Tidak Berbayar (free-to-air) sebagai pengganti Permen Kominfo No. 39/2009.

Kemudian pada 2012, Kemenkominfo menelurkan peraturan Menteri Kominfo No. 05 tahun 2012, mengadopsi standar penyiaran televisi digital terrestrial Digital Video Broadcasting - Terrestrial second generation (DVB-T2) yang merupakan pengembangan dari standar digital DVB-T yang sebelumnya ditetapkan pada 2007.

Kini, migrasi TV digital dari analog dinamakan (Analog Switch Off/ ASO) tertuang dalam UU Cipta Kerja Omnibus Law yang disahkan November 2020.

Dalam ayat 2 pasal 60A disebutkan bawah migrasi penyiaran televisi terestrial dari teknologi analog ke teknologi digital sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan penghentian siaran analog (analog switch off) diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun sejak mulai berlakukan UU Ciptaker, 22 November 2020.

Artinya siaran televisi di Indonesia akan dilakukan secara terestrial di seluruh Indonesia pada November 2022.


Di kutip dari : CNN Indonesia

Share:

Selasa, 26 Januari 2021

Penyebab Penerimaan Televisi Digital Di Tempat Anda Jelek Dan Cara Mengatasinya



Bagaimana kabar migrasi TV digital di lokasi kalian? Apa siarannya sejernih yang diharapkan ? Kali ini saya akan membahas tentang enam jenis gangguan yang dapat mempengaruhi penerimaan TV Digital kamu dan bagaimana sih perjalanan sinyal yang ideal dari pemancar atau ke antena kamu, sehingga siarannya jernih ?




Mungkin ada gunung di antara pemancar dan antena tv kamu yang dapat mempengaruhi kualitas penerimaan dan jarak juga jangan sampai dilupakan. Beberapa faktor lain yang dapat memengaruhi keberhasilan untuk menerima siaran stasiun tv tertentu, dengan asumsi bahwa kamu telah menggunakan antena tv yang benar di wilayah kamu sinyalnya benar-benar ada, ayo kita bahas ..


1. Antena Indoor vs Material Rumah 



Yang pertama menjadi perhatian paling penting adalah antena kamu vs tembok rumahmu! Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhinya, pertama adalah terbuat dari apa bahan bangunan di rumah kamu? Sinyal tv tidak berjalan dengan baik melalui bahan bangunan dan jika kamu menggunakan antena di dalam ruangan (indoor) kemungkinan besar ini akan melemahkan sinyal.

Beberapa stasiun TV mungkin tidak muncul atau mungkin tidak dapat gambar bagus bahkan jika kamu memiliki antena terhebat di dunia sekalipun dan secara tepat disetel ke frekuensi TV nya. Jika kamu telah mencoba untuk menangkap sinyal  dengan sekuat upaya, akan sia-sia saja jika melalui bahan bangunan rumah kamu yang umumnya berupa BETON.

Memakai antena dalam rumah tidak  akan benar-benar berhasil lhoo ! Mungkin beberapa dari kamu berada di kompleks apartemen, ada beberapa hal yang dapat kamu lakukan untuk meningkatkan penerimaan dalam ruangan kamu jika kamu dibatasi hanya boleh menggunakan antena dalam ruangan yang terpasang pada tembok seperti video iklan antena super hebat itu. 


2. Gangguan Jaringan Listrik PLN di Sekitar Rumah 




Salah satu cara untuk meningkatkan penerimaan TV Digital kamu jika terpaksa memilih untuk menggunakan antena dalam ruangan, adalah menemukan faktor lain yang dapat mengganggu siaran tv. Jaringan kabel PLN di sebelah rumah misalnya terutama kabel sutet atau jalur tegangan yang lebih tinggi juga cukup berpengaruh lho. Itu terjadi pada saya beberapa bulan yang lalu ketika saya berada di rumah teman yang mengeluh penerimaan antena digital indoor terbarunya. Kemudian saya coba bawa antena indoor itu ke rumah dan sangat jernih hasilnya.

Ujungnya saya mencoba antena luar dengan membeli antena yang cukup bagus dan tidak peduli di manapun antena itu ditempatkan, di samping tembok juga  di atap , tetap ada beberapa gangguan pada salah satu stasiun tv dimana siarannya pixelate alias cekot-cekot. Jadi saya curiga STB digital atau receivernya ini bermusuhan dengan sutet karena ketika saya gunakan receiver punya saya (yang harganya jauh lebih mahal) hasilnya bagus saja tuh.





Jadi tuner digital pada STB murah tadi tidak melakukan pekerjaan yang baik dalam pengkodean  sinyal  TV yang lebih lemah atau mungkin pada frekuensi tv yang nabrak dengan harmonisa dari jaringan PLN, tidak mampu difilter dengan baik oleh STB seharga 200 ribuan itu (saya gak sebut merek lhoo) .



3. Barang Elektronika di Rumah



Yang mungkin mengganggu selanjutnya adalah beberapa barang elektronika di dalam rumah kamu, ini termasuk microwave, blender dan bahkan bola lampu LED jaman now. Saya mengalami masalah ini secara langsung sekitar satu setengah tahun yang lalu ketika saya pertama kali pindah  rumah. Setiap kali saya menyalakan microwave saya akan kehilangna beberapa stasiun tv, cekot-cekot dan gak bisa dinikmati lah siaran tv nya. 

Jika kamu berada dalam situasi ini dan kamu ingin menggunakan antena dalam ruangan saya sangat menyarankan berhenti menggunakan model ini, beralihlah ke antena luar UHF seperti biasa nya saat masih menggunakan TV Analog.



Tapi jika kamu tidak ada pilihan harus menggunakan antena indoor, maka jika kamu ingin TV kamu dapat menerima gambar terbaik, kamu ya harus memilih menonton tv apa memasak. Kamu dapat menyalakan microwave oven dan mematikan TV atau  sama sekali membuang microwave maupun sumber lain yang dapat mengganggu sinyal TV Digital kamu. Jadi Nonton tv jernih seharian tapi perut lapar. Go Food aja ahhhhhh...



4. Pepohonan



Mungkin jika pohonnya hanya satu atau dua ini gak akan jadi masalah lah, tapi bagaimana jika rumahmu berada di sekitar pepehonan yang lebat? Ketika hari-hari yang hujan dan berangin kamu akan melihat bahwa stasiun TV tertentu mulai cekot-cekot dan kurang nyaman dilihat karena halangan pepohonan mengganggu sinyal mereka. Jika kamu berada dalam situasi tersebut maka kamu benar-benar harus mendapatkan antena yang sangat bagus dan diletakkan pada posisi yang tidak terhalang.


5. Pesawat Terbang Dan Mobil Lewat

Faktor lain yang mengganggu pesawat penerima TV kamu adalah  pesawat terbang yang melintas di atas kepala dan ini lebih menonjol terjadi jika kamu menggunakan antena kecil atau dalam ruangan, dan kebetulan rumahmu dekat bandara.



Yang terjadi adalah sinyal televisi dipantulkan oleh pesawat dan antena kamu mulai menangkap terlalu banyak sinyal atau dikenal sebagai gangguan MULTIPATH (pantulan beragam) dan tuner televisi digital tidak mampu mengatasinya sehingga kamu akhirnya mendapatkan sekelompok piksel pada gambar alias cekot-cekot atau tidak ada sinyal sama sekali jika kamu berada dalam situasi  yang sangat kurang beruntung. Walau dalam standar DVB-T2 ada perbaikan masalah multipath namun akan berpengaruh jika multipathnya terlalu banyak.




Solusinya adalah menggunakan antena luar dengan pengarah yang sangat baik atau bisa juga menggunakan antena yang dapat diputar arahnya. Jangan lupa arahkan  antena ke luar  jalur yang sering dilewati pesawat terbang. Selain pesawat terbang yang membuat bete, yang ini juga menyebabkan banyak gangguan yaitu mobil lewat di jalan depan rumah terutama jika kamu menggunakan antena dalam ruangan.


6. Tower 4G LTE / 5G

Ini akan menjadi masalah jika frekuensi 700mhz dikembalikan ke pemerintah dan digunakan untuk seluler 4G/5G. Jadi siaran di channel 40an keatas rentan interfrensi sinyal BTS apabila kamu berada di lokasi dekat tower BTS seluler. Ciri khas dari interfrensi ini adalah gambar yang pixelate / cekot-cekot dengan jeda yang teratur, misal 10detik atau 30 detik sekali. Ini menandakan ada pancaran liar dari perangkat BTS yang bocor. 



Sekarang sih masih aman saja karena frekuensi 700 mhz belum dipakai seluler karena belum kelar migrasi ASO nya, tapi jika waktunya sampai solusinya adalah dengan menggunakan filter LTE seperti gambar diatas. 


Share:

Kontak Penulis



12179018.png (60×60)
+628155737755

HP: 081331339072
Mail : ahocool@gmail.com

Site View

Categories

555 (7) 7 segmen (3) adc (4) amplifier (2) analog (10) android (11) antares (3) arduino (14) artikel (1) attiny (1) attiny2313 (17) blog (1) bluetooth (1) cmos (2) crypto (2) dasar (40) display (3) esp8266 (3) gcc (1) iklan (1) infrared (2) Input Output (3) iot (16) jam (6) jualan (12) kereta api (1) keyboard (1) keypad (3) kios pulsa (2) kit (6) komponen (14) komputer (3) komunikasi (1) kontrol (5) lain-lain (8) lcd (2) led (13) led matrix (6) line tracer (1) lm35 (1) memory (1) metal detector (4) microcontroller (55) mikrokontroller (7) mikrotik (5) ninmedia (2) ntp (1) paket belajar (19) palang pintu otomatis (1) parabola (46) pcb (2) praktek (2) project (33) proyek (1) python (1) radio (3) raspberry pi (4) remote (1) revisi (1) rfid (1) robot (1) rpm (2) rs232 (1) script break down (3) sdcard (3) sensor (1) sharing (3) signage (1) sinyal (1) sms (6) software (18) solusi (1) tachometer (2) telepon (7) televisi (95) television (17) transistor (1) troubleshoot (3) tulisan (71) tutorial (80) tvri (2) vu meter (2) vumeter (2) wav player (3) wayang (1) wifi (3)

Arsip Blog

Diskusi


kaskus
Forum Hobby Elektronika