Semua Tentang Belajar Teknologi Digital Dalam Kehidupan Sehari - Hari

Jumat, 22 April 2022

Singaraja Siap Menyambut Era TV Digital - Update Frekuensi di Bali Utara

 



Kalau menggunakan istilah ANALOG SWITCH OFF mungkin menjadi " tidak tepat " jika di wilayah bali utara dikatakan akan mematikan Televisi Analog. Kenapa begitu? Ya hampir di setiap rumah di bali utara akan tampak payung "jamur" parabola baik berupa jaring 7 feet maupun piringan kecil yg umumnya mengarah ke siaran satelit berbayar. Jadi sebenernya kota Singaraja dan sekitarnya tidak terlalu terdampak akan migrasi ini, karena mereka telah mengalami sejarah migrasi teknologi TV lewat satelit atau umum disebut  parabola, dari era dekoder analog ke digital pada awal 2000-an. Mungkin sih ada juga yg salah informasi mengenai migrasi Tv digital seperti halnya di lokasi lain di Nusantara yang menganggap siaran parabola akan ikutan "berhenti" seperti yang pernah dibahas di tulisan sebelumnya mengenai kegaduhan dan kebingungan masyarakat awam terhadap migrasi televisi digital (klik disini).

Sejarah agak "buruk" tentang siaran televisi mungkin akan terus  diingat oleh generasi 70-80-90 an di kota berlambang singa terbang ini, juga kenangan penggunaan "lompatan" teknologi televisi  yang dilakukan secara swadaya oleh wilayah yang dipagari barisan bukit memanjang dari timur hingga barat pulau Bali. Jadi kebanyakan cerita tentang perkembangan televisi akan sedikit terhalang perbukitan yang membuat sinyal TV dari kota Denpasar enggan sampai di Bumi Panji Sakti yang panas ini.

Karena saya dilahirkan di era 80-an, maka saat saya sudah bisa mengingat dan melihat acara si unyil, kami menerima siaran TVRI dengan kualitas baik di Singaraja. Pemancar relay TVRI yang menjadi sumber kebahagiaan penonton TV akhirnya hadir di Kintamani dan menjangkau bali timur sampai utara, namun tidak bagian barat buleleng. Tahun 90an mulai muncul relay TVRI di pucak sari kecamatan busungbiu dan otomatis rumah kakek saya di seririt tidak lagi memerlukan antena yagi VHF yang panjangnya sekitar 10 meter.


BACA JUGA : Perbandingan Kualitas TV Analog vs TV Digital Menggunakan Antena Indoor




Perkembangan televisi di Kota kelahiran saya ini di tahun 90-an tidak begitu berubah, masih setia dengan 1 saluran TVRI yang sudah berwarna. Pesawat TV sudah baru namun dial atau tombol pemilih channel dan remote tv seperti mubazir. Kemudian kota ini mengalami lompatan teknologi dimana saat itu di kota Surabaya meluncur Tv swasta pertama nya yaitu SCTV (1990) dari pemancar di bukit darmo Surabaya. Lhoo kan jauh apa bisa nyampai ke Singaraja ? 

Dan ternyata dengan memanfaatkan lengkung bumi dan pantulan pasang surut air laut dengan ajaibnya siaran SCTV surabaya dapat ditangkap dengan cukup lumayan jernih pada kondisi laut pasang, tentunya dengan antena UHF setinggi 20 meter lebih dan dengan tambahan booster nya dengan warna khas merah dibawah antena. Bahagianya masyarakat Singaraja saat itu namun mengotori pemandangan di atap rumah warga dengan kawat bentang penguat tiang antena yang saling bersilang. Ribet banget deh seinget saya waktu itu. 

Ketika di kota Denpasar SCTV melebarkan sayapnya di tahun 1992, ternyata bukit yang ada di tengah-tengah jalur Denpasar-Singaraja menjadi penghalang yang sangat menyesakkan, yah mau gak mau tetap mengarahkan antena UHF ke surabaya sampai teknologi TV parabola mulai mengecilkan ukuran piringan C band berbarengan dengan satelit palapa yg mulai meng-upgrade teknologi ke high power satelite (palapa B2P). Terjangkaunya harga parabola 9 feet ini  menyebabkan pemandangan kota berubah menjadi jamur parabola hadir hampir di setiap rumah. Puluhan channel dalam dan luar negeri kini dapat dinikmati dan bagi saya ini anugerah karena MTV lagi dalam format siaran terbaiknya kala itu. 




Cilakanya saat siaran sepakbola dilakukan scrambling atau pengacakan karena adanya aturan hak siar akibat melubernya jangkauan satelit palapa sampai ke India. Ini dimulai saat tahun 1996 saat gelaran piala euro 96 di Inggris dan membuat kesal. Alhasil penduduk bali utara kembali menonton melalui UHF ke surabaya. Dan ini tidak lebih baik saat parabola menjadi digital, hampir dipastikan setiap gelaran piala dunia dan eropa (kecuali 1998 saat kerusuhan reformasi, pemerintah menggratiskan semua siaran piala dunia agar masyarakat adem) akan dilakukan pengacakan, bahkan harus membeli decoder tertentu yang harganya mahal. Jadilah taman kota sebagai tujuan mereka penggila bola untuk menyaksikan nobar melalui layar lebar.

Namun perjuangan mendapatkan pemancar TV swasta di Bali utara terus dilakukan dan kemudian di era 2010-an mulai muncul pemancar Bali TV, Nirwana Tv, RTV dan beberapa stasiun swasta nasional muncul belakangan dengan pemancar low power yg kebanyakan disediakan secara swadaya independen atau inisiatif pemkab Buleleng. Jadi secara umumnya kota Singaraja dan Bali utara terasa berbeda dengan kebanyakan wilayah Bali lainnya dalam hal tangkapan siaran TV swasta.





Kini di Era digital di kota Singaraja telah hadir 3 mux TV digital dengan 18 channel meliputi :


SCTV HD - INDOSIAR HD - O CHANNEL HD - MENTARI TV HD -  TVRI NASIONAL HD  - TVRI BALI HD - TVRI WORLD HD - TVRI SPORT HD - METRO TV HD - MAGNA CHANNEL - BN TV - NUSANTARA TV - TVONE - TRAN TV - TRANS 7 - NET HD - KOMPAS TV HD - BALI TV






Sudahkah masyarakat Singaraja dan Kabupaten Buleleng siap dengan migrasi tv digital ini ? Jangan sampai kota tercinta ini juga mengalami salah informasi seperti yg terjadi di belahan nusantara lainnya yg telah saya ceritakan sebelumnya. Pengguna parabola tetap bisa menonton siaran seperti biasa dan yang tidak pakai parabola kini bisa menggunakan antena UHF biasa untuk menonton beragam siaran televisi nasional maupun daerah.


Sebagai panduan pemilihan STB digital, blog ini telah me-review nya pada tulisan sebelumnya:

 

Matrix Apple     - Polytron PDV 600T2   - Venus Cabe Rawit  - Evinix H-1  - Akari ADS-2230 Tanaka


Antena Digital paling jernih :

- Fleco AT-56   - Venus Cabe Rawit Indoor/Outdoor


Bagi anda yg berada di lokasi lain di Nusantara dapat juga membaca update perkembangan  migrasi TV digital di  kota-kota besar seluruh Indonesia :

Surabaya  MNC  ,  EMTEK , VIVA )

Malang

Jember 

Kediri

Jombang & Mojokerto

Madiun

Jogja

Semarang

Banjarmasin

Makasar

Medan

Palembang

Perbatasan Malaysia

Share:

2 komentar:

  1. MNC Group untuk TV digitalnya kapan ya bisa di Singaraja?

    BalasHapus

Kontak Penulis



12179018.png (60×60)
+628155737755

HP: 081331339072
Mail : ahocool@gmail.com

Site View

Categories

555 (8) 7 segmen (3) adc (4) amplifier (2) analog (15) android (12) antares (6) arduino (22) artikel (11) attiny (3) attiny2313 (19) audio (5) baterai (5) blog (1) bluetooth (1) cmos (2) crypto (2) dasar (46) digital (10) display (3) esp8266 (25) euro2020 (13) gcc (1) iklan (1) infrared (2) Input Output (3) iot (46) jam (7) jualan (12) kereta api (1) keyboard (1) keypad (3) kios pulsa (2) kit (6) komponen (17) komputer (3) komunikasi (1) kontrol (7) lain-lain (8) lcd (2) led (14) led matrix (6) line tracer (1) lm35 (1) lora (4) MATV (1) memory (1) metal detector (4) microcontroller (70) micropython (6) mikrokontroller (13) mikrotik (5) mqtt (3) ninmedia (3) ntp (1) paket belajar (19) palang pintu otomatis (1) parabola (85) pcb (2) power (1) praktek (2) project (33) proyek (1) python (5) radio (15) raspberry pi (4) remote (1) revisi (1) rfid (1) robot (1) rpm (2) rs232 (1) script break down (3) sdcard (3) sensor (1) sharing (3) signage (1) sinyal (1) sms (6) software (18) solar (1) solusi (1) tachometer (2) technology (1) teknologi (2) telegram (2) telepon (9) televisi (162) television (28) transistor (2) troubleshoot (3) tulisan (85) tutorial (92) tv digital (3) tvri (2) vu meter (2) vumeter (2) wav player (3) wayang (1) wifi (3)

Arsip Blog

Diskusi


kaskus
Forum Hobby Elektronika