"Kembali Ke Dasar Elektronika Digital ... "

Selasa, 27 November 2018

Siaran langsung olahraga bergeser ke streaming ?



"...yang abadi hanyalah perubahan" ..era berganti peluang dilihat lalu uang didapat, yang tak berubah akan mati ..

Begitu kiranya yg saya amati dari dunia televisi saat ini. Masih teringat jelas bagaimana fredy mercury mengeluh siaran RADIO GAGA kesayangannya mulai tersaingi televisi dan The Buggles menyebut dengan lantang dalam lirik lagu "video killed the radio star" saat MTV meluncurkan acara musik 24 jam tahun 1980. Perubahan inipun sangat dipengaruhi bagaimana perilaku dan trend kaum muda yang menjadi pasar yg potensial bagi pebisnis media. Yang terjadi pada episode berikutnya saat era milenium bergulir, muncul lagu parodi  "internet killed the video star", yg penulis pernah dengar sekitar tahun 2001. Ya tentunya jaman milenium awal,  internet tercepat dikampus via satelit VSAT hanya 128 kbps dan masih sangat jauh ceritanya jika televisi akan dikalahkan internet.


Penyedia layanan TV berbayar di era 2000 an mengalami masa jayanya dengan semakin murahnya teknologi DVB via satelit maupun cable, dengan penetrasi pasar yg umumnya di kota besar dengan karakteristik lahan rumah yg sempit menjadikan parabola mini menjadi idola demi menonton siaran TV premium. Sedangkan pada penyedia TV kabel hanya bisa melayani di kota2 besar secara komersial walau di pelosok Indonesia bertebaran TV kabel analog lokal. 



Dekade milenial berikutnya ditandai dengan semakin tingginya bandwith internet melalui layanan 4G / LTE atau Fiber optic ke rumah. IPTV menjadi the next big things dari dunia televisi dengan layanan catchup , rewind dan VOD (video on demand) . Kini kendali menonton TV benar ada di tangan pemegang remote karena semakin banyak pilihan tayangan. Tapi sepertinya ada tantangan dari kaum milenial yg terlahir terbiasa memegang SMARTPHONE. Mereka hanya menggunakan TV untuk jadi anak patuh demi menemani orang tuanya menonton tv.


Benar saja layanan streaming TV yg 10 tahun lalu hanya menjadi cara ilegal menonton TV premium menjadi sesuatu yg benar-benar mencengangkan. Penulis mengikuti benar layanan streaming ilegal saat era P2P streaming lewat sopcast, ketika comcast di amrik sana  dengan tanpa enkripsi membuka port untuk play saluran TV melalu jaringan internet. Dan tentu saja pelopornya cracker asal china yg saat itu menyediakan beberapa software p2p streaming. Setelah IPTV menjadi platform umum menonton tv kabel maka layanan TV ilegal menjadi bergeser ke KODI yg memanfaatkan pengembang open souurce dengan menyebarnya repository dan layanan add ons. Penulis sempat menikmati kejayaan menonton KODI via android box TV sampai saat ajalnya ketika hampir semua repository terkenal di grebeg dan pembuatnya dikenakan hukuman pelanggaran hak cipta. 



Supersoccer TV mungkin dahulunya hanya dianggap iklan rokok oleh penonton siaran bola di TV Indonesia dan benar saja saya pun demikian. Ketika Serie A musim 2016 diambil exclusive oleh SSTV dimulailah era baru menonton TV lewat smartphone alias streaming di Indonesia. Infrastruktur Internet dan permainan kuota FUP dari operator sempat membuat layanan sport streaming ini seperti terlalu mahal karena selain bayar bulanan pengguna juga harus merogoh kocek lebih untuk beli kuota internet. 

Cerita berlanjut dengan masuknya pemain televisi tradisional ke dunia streaming seperti vidio dot com atau mnc mobile / me tube . Ini tidak lepas dari proyeksi bisnis televisi  diluar negeri sana yg menjadi kiblat pelaku televisi Indonesia, cenderung mengarah ke streaming semuanya. Amazon fire stick, roku, netflix,  bahkan yg mengehbohkan Facebook melirik pasar india sebagai laboratorium layanan tv streaming dengan membeli hak siar serie A  secara exclusive di tahun 2018. Yang gak kalah serunya kita nantikan kehadiran MOLA TV yg memenangkan hak siar Liga inggris 2019 s/d 2021 di Indonesia dan MOLA TV mengaku  sebagai platform TV Streaming. 



Dengan nilai bisnis yg menyentuh angka triliunan rupiah, platform baru ini akan menjadi pertaruhan besar bagi investor penyedia layanan streaming, sebab pengalaman penulis yg kurang mengenakkan saat menonton bareng final Champions League 2018 antara Liverpool vs Real madrid. Saat itu penulis bergabung bersama ribuan orang di acara nonton bareng di Sutos surabaya dengan sponsor utama Bein Sport Connect yg menyediakan streaming dilayar super besar. 

Apa yg terjadi ? LAG dan Buffering ! Di salah satu sudut cafe kecil yg menyetel siaran SCTV dari antena UHF sudah berteriak GOOL saat benzema membobol gawang karius. Dan dilayar besar beinsport connect para penonton keheranan karena gol telat hampir 20 detik dan menyuruh panitia untuk merubah menyetel SCTV . Keriuhan pun muncul saat gol balasan sadio mane beberapa menit berikutnya dan layar besar menjadi buffering. Dan dapat ditebak akhirnya siaran UHF SCTV yg diputar di layar besar. 

Kejadian ini bukan hanya di lokal sini saja (maklumlah infratruktur internet Indonesia bisa di kambing hitamnkan), karena menurut mbah google, banyak penonton superbowl ( final sepakbola gaya amerika ) yg sudah membayar mahal untuk siaran Pay Per View tanpa Iklan melalui streaming amazon, ternyata terjadi buffering dan delay. Hebohlah dunia televisi streaming. Tapi ini tidak menyurutkan minat para investor dan pelaku bisnis streaming, ini terbukti dengan jatuhnya hak siar NFL NHL MLB dan hampir semua siaran olahraga favorit di amerika sana ke tangan layanan streaming DAZN. 

Jadi siapkah anda menyambut siaran langsung olahraga melalui TV streaming dengan tambahan lag dan delay di Indonesia?  



Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Kontak Penulis



12179018.png (60×60)
+628155737755

HP: 081331339072
Mail : ahocool@gmail.com

Site View

Categories

555 (6) 7 segmen (3) adc (3) amplifier (1) analog (9) android (11) attiny (1) attiny2313 (16) blog (1) bluetooth (1) cmos (2) crypto (2) dasar (35) display (2) gcc (1) infrared (2) Input Output (3) jam (6) jualan (12) kereta api (1) keyboard (1) keypad (3) kios pulsa (2) kit (6) komponen (12) komputer (3) komunikasi (1) kontrol (2) lain-lain (8) lcd (2) led (9) led matrix (6) line tracer (1) lm35 (1) memory (1) metal detector (4) microcontroller (48) mikrokontroller (1) mikrotik (4) paket belajar (19) palang pintu otomatis (1) parabola (8) pcb (2) project (33) proyek (1) radio (3) remote (1) revisi (1) rfid (1) robot (1) rpm (2) rs232 (1) script break down (3) sdcard (3) sensor (1) sharing (2) sms (5) software (16) tachometer (2) telepon (7) televisi (32) transistor (1) troubleshoot (3) tulisan (41) tutorial (69) vu meter (1) vumeter (1) wav player (3) wayang (1) wifi (1)

Diskusi


kaskus
Forum Hobby Elektronika