Semua Tentang Belajar Teknologi Digital Dalam Kehidupan Sehari - Hari

  • IC Timer 555 yang Multifungsi

    IC timer 555 adalah sirkuit terpadu (chip) yang digunakan dalam berbagai pembangkit timer, pulsa dan aplikasi osilator. Komponen ini digunakan secara luas, berkat kemudahan dalam penggunaan, harga rendah dan stabilitas yang baik

  • Ayo Migrasi TV Digital

    Kami bantu anda untuk memahami lebih jelas mengenai migrasi tv digital, apa sebabnya dan bagaimana efek terhadap kehidupan. Jasa teknisi juga tersedia dan siap membantu instalasi - setting perangkat - pengaturan antena dan distribusi televisi digital ke kamar kos / hotel

  • Bermain DOT Matrix - LOVEHURT

    Project Sederhana dengan Dot Matrix dan Attiny2313. Bisa menjadi hadiah buat teman atau pacarmu yang ulang tahun dengan tulisan dan animasi yang dapat dibuat sendiri.

  • JAM DIGITAL 6 DIGIT TANPA MICRO FULL CMOS

    Jika anda pencinta IC TTL datau CMOS maka project jam digital ini akan menunjukkan bahwa tidak ada salahnya balik kembali ke dasar elektronika digital , sebab semuanya BISA dibuat dengan teknologi jadul

  • Node Red - Kontrol Industri 4.0

    Teknologi kontrol sudah melampaui ekspektasi semua orang dan dengan kemajuan dunia elektronika, kini semakin leluasa berkreasi melalui Node Red

Kamis, 07 April 2022

Menata Audio Sistem Pura Menjadi Lebih Baik Dan Berkualitas [Part 3]

 



Lokasi pura umumnya pada ruang terbuka atau outdoor sehingga memiliki ke-khas-an sendiri dalam mengatur audio sistemnya. Untuk lokasi di pulau Bali mungkin cukup menghandalkan speaker corong / TOA untuk menghantarkan kidung, musik gamelan atau pengumuman ke masyarakat sekitar seperti yang sudah saya bahas di bagian ke- 2. Namun pada lokasi yang masyarakatnya majemuk dan memiliki " lawan " berupa speaker corong pada mushola atau masjid, maka cara yang elok dilakukan adalah melakukan pengaturan yg lebih ke arah kenyamanan bagi umat hindu yang akan bersembahayang di dalam lingkungan pura. Dan kali ini saya akan berbagi pengalaman memilih jenis dan mengatur penempatan mikrofon yang tepat untuk memberikan kenyamanan semua pihak dan sudah saya terapkan pada perbaikan audio sistem di Pura Agung Jagat Karana Surabaya.



- Mikrofon untuk pedanda / pemangku


Ada beberapa pilihan mikrofon yang dapat digunakan oleh pengurus audio pura untuk mendapatkan suara yg jernih dan tanpa feedback. Cara yang paling umum adalah menggunakan mikrofon biasa maupun mic kancing (clip on). Untuk mikrofon kabel biasa yang umum didapatkan di toko elektronika bertipe Dynamic - Cardioid yang memiliki pola tangkap suara seperti gambar berikut:



Dari teori dan praktek dilapangan maka mic ini memiliki tangkapan suara yang cukup pendek namun lebih tahan terhadap feedback / storing dari perangkat audio. Karena kegiatan pedanda yang cukup dinamis semisal melakukan gerakan tangan, membunyikan genta dan memercikkan air suci maka pilihan mic standar ini akan kurang tepat karena jangkauannya terbatas.



Salah seorang kawan aisi555 yang menjadi takmir masjid berbagi pengalaman tentang penggunaan mic clip on atau mic bando seperti pada gambar. Beberapa imam sholat yang masih muda mungkin tidak masalah menggunakan tipe ini namun masalah akan terjadi saat imam yg sudah sepuh akan mengalami kerepotan. Ketika saya korelasikan pada kasus yg saya hadapi dan dikonsultasikan ke pengguna yaitu pedande di pura perak surabaya, para sulinggih umumnya sudah sepuh dan pemakaian asesoris audio yang kurang dianggap " sukla " atau suci akan menghasilkan masalah tersendiri. Solusinya adalah menggunakan mikrofon tele / shotgun yang pola pickup suaranya lebih jauh dan fokus ke suara yg keluar dari bibir.



 

Dari teori yg saya dapatkan dan praktek langsung saat Ida Pandita memimpin sembahyang, mic condenser tele yang saya pilih (dari hasil menonton review di youtube) sangat berhasil menangkap suara dari kejauhan tanpa mengalami feedback. Mikrofon shotgun / tele yang saya pilih bermerek Krezt K 818.





Dengan bantuan pengaturan gain pada mixer sebesar 75%, bass off, middle 90% dan treble di jam 12 maka dari praktek saat upacara purnama dan tilem suara vokal dari pedanda dapat ditangkap oleh pickup mic condensernya debgan jarak cukup jauh lebih dari 1 meter. Keunggulan lainnya adalah pola suara fokus kedepan sehingga walau gain maksimum tidak didapati feedback yg berarti pada perangkat audio.





- Mikrofon untuk sekaa kidung dan gamelan





Ketika acara persembahyangan yg cukup penting semisal odalan, ngenteg linggih atau hari raya galungan, maka umumnya terdapat sekaa atau grup penyanyi kidung yang akan mengiringi upacara, dan umumnya anggotanya berjumlah banyak. Begitu juga dengan gamelan gong akan membutuhkan titik pengambilan suara yg banyak saat bermain musik tradisional. Namun semakin banyak titik microphone maka akan menghabiskan resource input mixer yg banyak, dan kebetulan mixer yg saya pakai hanya 8 buah input saja. Solusi yang saya ambil adalah menggunakan mikrofon kondenser yg memimiliki pickup patern ambience atau dengan kata lain lebih sensitif mengambil suara sekitar.




Pilihan jatuh ke mikrofon podcast sejuta umat TaffStudio BM 800 sebagai percobaan awal saya apakah mic yg khusus untuk studio recording ini mampu menghasilkan suara sesuai keinginan saya. Karena ketika saya coba untuk melakukan rekaman (tanpa speaker out) maka hasilnya sangat luar biasa bagus, persis seperti apa yg kita dengar dengan telinga saat di playback ulang. Namun berdasarkan review beberapa orang di youtube maupun blog, mic ini terlalu sensitif untuk penggunaan audio live yg keluar dari speaker. Dan benar saja ketika saya trial, gain dari mic ini sangat tinggi sehingga feedback tidak dapat dihindari.




Dari beberapa modifikasi yang saya temukan di forum maupun youtube, saya berhasil melakukan modifikasi microphone Taffstudio BM800 agar menurunkan gain sehingga saya lebih leluasa mengatur gain pada mixer. Untuk penyesuaian ditempat lain maka penggantian zener yg aslinya (bernilai 9 volt ) mungkin tidak perlu dilakukan. Gambar diatas yg saya lakukan adalah mengganti dengan zener bernilai 5.1 volt. Ada juga beberapa forum modifikasi yg sampai menggunakan zener 11 volt dan resistor 1 k ohm. Jadi dapat dicoba sesuai dengan karakter suara speaker dilokasi. Mungkin dilokasi pura pembaca, tempat sekaa kidung menyanyi terlindungi dari suara speaker, maka modifikasi diatas pun bisa diabaikan.


Mic taffware BM 800 atau sejenis (umumnya dinamakan mic podcast) membutuhkan fasilitas panthom power 48 volt sehingga mengharuskan penggunaan mixer yg support panthom power. Dan yang menjadi perhatian khusus adalah pickup patern suara yang cenderung dari samping body mic sehingga diupayakan suara penyanyi datang dari arah logo / tulisan taffware BM 800. 



- Microphone wireless

Untuk beberapa alasan teknis maupun kemudahan pengoperasian, maka dibutuhkan microphone wireless yang disesuaikan dengan anggaran serta kondisi di lapangan, seperti pada contoh denah berikut pada Pura Agung Jagat Karana Surabaya :



Kesulitan terjadi karena lokasi dari mixer ke mic pemangku terhalang oleh bangunan bale pawedan tempat ratu peranda duduk yg cukup tinggi, sehingga dengan jarak 50m akan sangat rentan terhadap gangguan pengiriman sinyal mic wireless UHF. Untuk kondisi sepi pengunjung mungkin tidak bermasalah karena sinyal ( yg didapatkan akibat pantulan ) masih dapat dianggap bagus, namun ini akan berbeda saat banyak pemedek sehingga sinyal sangat dipengaruhi oleh orang yg lalu lalang di depan mikrofon pemangku. Solusinya adalah menempatkan penerima microphone wireless lebih tinggi dibawah balai bambu tempat pandita duduk dan tidak menghalangi sinyal menuju ke mic pemangku dan lokasi diseputarnya. Gunakan sambungan jack DC dan kabel yg panjang untuk menghubungkan adaptor (syukur di lokasi ada kabel olor) dan juga kabel XLR / Mic menuju mixer. 

Cara lain juga bisa dilakukan yakni jika tipe antena pada penerima wirelesnya bisa dilepas maka dengan sambungan kabel antena yg tepat  posisi antena dapat diletakkan pada posisi yang LOS ( Line Of Sight ) tidak terhalang antara antena dengan mikrofon.


Pemilihan jenis wireless dapat disesuaikan dengan anggaran dan keperluan, semisal apabila sering ada kegiatan tari topeng sidakarya atau ngesolahang (menarikan) rangda, maka microphone wireless clip on dibutuhkan untuk menampilkan suara penari ke speaker. 

Solusi yang lain bisa juga menggunakan teknologi wireless terbaru yang cukup simple, dengan menggunakan microphone biasa disambungkan ke Transmitter dan Receiver wireless menuju mixer.



Dengan memanfaatkan alat diatas maka link audio berupa microphone maupun link dari mixer / splitter menuju speaker aktif dapat juga dilakukan secara wireless. Pada pemakaian di pura perak surabaya ini, saya memanfaatkan alat bermerek Asley Mvoice ini untuk mengirimkan sinyal dari mixer / splitter menuju ke perangkat audio Speaker aktif di area Madya mandala. Saya pilih ini karena praktis dan ketika ada acara di madya mandala yang membutuhkan 2 speaker aktif tersebut maka saya tinggal memindahkan Transmitter menuju perangkat audio atau mic yg membutuhkan.


Tentunya kesemua yang saya lakukan merupakan kegiatan yang cukup melelahkan (apalagi jika dilakukan sendiri), namun aisi555 sudah mencintai dunia audio sejak smp di tahun 90an. Sebagaimana kita tahu kalau sudah menjadi hobby maka capeknya tidak akan terasa. Selanjutnya yang terpenting juga adalah pelatihan operator pura agar peka dalam mengatur level audio antara banyak sumber suara, baik dari MC, penyanyi, pemangku, pandita, musik dan sebagainya. Semua akan sukses kalau dilatih secara berkala.


Terakhir yang juga sangat menuntut perhatian lebih adalah pemeliharaan perangkat, jangan ditinggalkan begitu saja setelah capek melaksanakan kegiatan, harus ada yg berkorban ngayah lebih giat untuk mengumpulkan kembali setiap perangkat, memasukkannya ke kotak, meggulung kabel dan menyimpannya di tempat yg layak jauh dari jangkauan tikus, semut dan cuaca.

Semoga rekan-rekan pengurus audio di pura dan tempat ibadah seluruh agama di Nusantara dapat terbantu dengan ulasan saya ini. 


Om Shanti Shanti Shanti Om


Sumber foto : FB Ida Pandita Istri Sekar Arum, FB Banjar Surabaya, mynewmicrophone.com

Share:

Rabu, 06 April 2022

Menata Audio Sistem Pura Menjadi Lebih Baik Dan Berkualitas [Part 2]

 



Kebanyakan pura dan tempat suci yang berada di pulau Bali menggunakan speaker corong atau secara umum disebut TOA, sebagai pengantar suara kidung maupun pengumuman dari pura kepada masyarakat sekitar pura. Ini tidak jauh berbeda dengan TOA masjid yang kadang juga digunakan untuk memberikan pengumuman kepada masyarakat sekitar disamping fungsi utama sebagai pemanggil waktu sholat. Jadi penggunaan Speaker corong TOA lebih ditujukan untuk jangkauan namun menghilangkan faktor kenyamanan.

Pada dunia audio, tingkat kekuatan suara diukur melalui besar kecilnya nilai dB alias decibel. Ini merupakan standar pengukuran yang mengukur seberapa kuat gelombang suara memberikan tekanan di telinga manusia. Speaker corong merek Toa memiliki nilai tingkat tekanan suara sebesar 110 dB. Sementara itu, speaker musik memiliki nilai tingkat tekanan suara sebesar 100 dB. 

Alexander Sengpiel, ahli audio asal Jerman, membeberkan percakapan antara manusia berada di tingkat tekanan suara sebesar 60 dB. Sedangkan tekanan suara sebesar 110 dB setara dengan suara speaker corong, ini setara dengan suara gergaji mesin yang terdengar pada jarak satu meter. Sedangkan lebar frekuensi yg dikeluarkan oleh speaker corong adalah 1000 hz - 6000 hz, sehingga speaker corong akan memotong suara bernada bass dan treble. Inilah kenapa suara speaker corong TOA menekankan pada vokal manusia saja dan cenderung memekakkan telinga pendengar yg berada di lokasi yang relatif dekat.






Berdasarkan survey yg dilakukan Aisi555 pada sistem audio di Pura Agung Jagat Karana Surabaya, sudah sangat tepat apa yang dilakukan oleh perancang audio sistem sebelumnya yg menempatkan 6 buah speaker aktif, dengan 4 posisi didalam utama mandala yang menyasar pemedek yg sedang sembahyang dan 2 buah di madya mandala yang akan meng-cover pemedek di ruang tunggu dan parkiran. Seperti yang sudah dibahas pada tulisan sebelumnya ( klik disini ) peralatan speaker yg digunakan adalah speaker aktif yang meiliki jangkauan frekuensi lebar 20 hz - 20000 hz. Jadi suara gong gamelan lelambatan dapat dinikmati dengan jelas dan begitu juga suara kidung akan terdengar merdu. Amplifier juga dapat dipasang pada level suara yang tidak terlalu tinggi karena jumlah 6 speaker aktif mampu mendapatkan coverage pendengar yg cukup.

Lalu apa saja yang aisi555 lakukan saat melakukan perbaikan audio sistem pada Pura Agung Jagat Karana Surabaya ? Berikut saya urutkan berdasarkan urutan langkah dari yg paling sederhana dan saya susun agar dapat ditiru oleh pengurus pura di daerah lain.



- Cek konektor dan perkabelan





Langkah yang paling mudah ketika terjadi gangguan suara berupa suara mendengung ataupun suara kemresek / mencuit adalah dengan melakukan pengecekan konektor balance / XLR / Canon yang umumnya ada pada sambungan antar perangkat audio. Untuk perbaikan yang saya lakukan terdapat noise suara kemresek yg sangat menggangu diakibatkan oleh terjadinya korosif pada terminal jack XLR ( pada kabel yg berumur dan konektor di perangkat audio, akibat faktor cuaca ) sehingga perlu menggunakan contact cleaner atau de-Oxit. Mungkin untuk menghemat anggaran dapat membeli contact cleaner warna merah seperti pada gambar.



Beberapa merek dengan harga yg tidak berbeda juga hadir seperti Rexco atau WD-40 namun berdasarkan pengalaman merek diatas lebih ampuh melunturkan kotoran apalagi dibantu dengan cotton bud / kapas kecil untuk menggosok permukaan terminal sambungan audio.

Untuk perkabelan yang bagus, dapat menggunakan kabel Mic stereo / Balance / XLR yg umum dijual dan jenis apapun, dan yang saya pilih dalam pekerjaan kali ini bermerek Makita ( 1 rol sekitar 90m). Sebagai kabel audio sejuta umat yg cukup ekonomis dan berkualitas ini tidak membebani anggaran untuk pengurus pura. Saya tidak memilih kabel rol bermerek canare karena selain KW (aslinya muahal banget), juga 1 roll nya kurang panjang (70 m) untuk proyek kali ini. 

Diupayakan semua perkabelan tanpa sambungan ditengah-tengah kabel untuk menghindari gangguan akibat kemasukan air atau impedansi yg kacau akibat sambungan. Saya ganti semua perkabelan dari mixer - splitter - dan ke speaker aktif,  karena mengingat umur kabel audio lama yg dipasang outdoor ini sudah tua dan berdasarkan saran teman takmir masjid yg menyarankan perlu diganti tiap 2-4 tahun.

Sedangkan konektor XLR saya gunakan merek audiocraft yg lumayan kokoh dan gampang menyoldernya. Jika ditempat kalian jack dan kabelnya masih dirasa bagus, sebaiknya dilakukan penyolderan ulang untuk menguatkan kembali ikatan timah antar logam terminal dengan kabel. Pastikan koneksi kabel sesuai standar (gambar sambungan xlr diatas), dan yang saya lakukan lebih spesial adalah menyambungkan pin 1 (ground/shield) ke pin ke 4 / body pada jack canon / xlr.


 
- Pasangkan grounding / arde / pentanahan pada perangkat audio




Ingat cerita saya kesetrum mic pada tulisan sebelumnya ? Ini terjadi karena perangkat audio jaman now kebanyakan menggunakan power supply switching yang kadang menyebabkan arus bocor / induksi tegangan AC ke body perangkat audio. 

Secara teori kenapa saya kesetrum dikarenakan ketiadaan grounding / pentanahan pada sistem audio, sehingga ada aliran listrik dari mixer yg listriknya bocor, terhubung kabel mic ke body / besi mic yang saya pegang, lalu melewati tubuh kemudian menuju arah tanah ( karena di area utama mandala pura alas kaki harus dilepas, otomatis tubuh menyentuh tanah). Hilangnya  grounding ini juga terkadang menyebabkan efek suara mendengung pada perangkat speaker aktif. 

Solusi terbaik dan mungkin satu-satunya adalah melihat kelistrikan PLN pada lokasi pura, apakah sudah memiliki grounding yang baik atau belum. Caranya paling mudah adalah dengan memeriksa apakah kabel dari jalur listrik utama memiliki sambungan kabel ke 3 pada stop kontak. Jika tidak yakin ya kita pasang sendiri saja sistem pentanahan / arde yang baru.



Lalu bagaimana jika saya memiliki colokan / steker cuman 2 terminal saja, dan masih terasa sengkring-sengkring saat menggenggam mikrofon ? Untuk itu perlu dipasangkan stik arde dan terhubung dengan tanah seperti pada gambar diatas. Stik ground rod / arde dapat dipasang 1 terpusat atau seperti pada perbaikan saya di pura perak surabaya adalah dengan membagi stik rod menjadi potongan kecil 40 cm dan ditanam pada tanah di setiap simpul perangkat audio, yaitu pada mixer dan masing-masing speaker aktif. Lalu nyambungnya kemana ? Ini bisa disambung ke terminal ground pada stop kontak listrik perangkat audio atau kabel yg nyambung dari tanah di hubungkan / tempelkan ke sekrup pada body perangkat audio. 

Dengan penambahkan grounding dan jangan lupa membasahi lokasi grounding sebelum menggunakan perangkat audio dijamin menghindari resiko tersengat listrik bagi yg memiliki sensitifitas terhadap listrik rendah sekalipun. Umumnya dialami oleh ibu-ibu sekaa kidung yang tangannya cenderung basah sehingga kontak ke body besi mikrofon lebih langsung terasa. Ini tidak akan terjadi jika menggunakan mic wireless ya ... ( operatornya yg kesetrum mungkin, makanya usahakan gunakan sandal ya saat ngayah ..)



- Gunakan perangkat Mixer, Microphone dan Amplifier yang masih waras 




Ketika kabel sudah dirasa benar dan sambungannya sudah bersih serta yakin solderan tanpa  timah yang meluber, maka jika tetap terjadi kondisi gangguan yg tiba-tiba saat operasional, kemungkinan besar ini terjadi akibat kerusakan pada perangkat audionya. Penerima mic wireless mungkin saja frekuensinya sudah bergeser  sehingga kresek-kresek dan putus putus atau paling gampang baterai nya perlu diganti yang baru dan diusahakan gunakan baterai alkaline. Jadi selalu konsultasikan dengan tukang servis audio yang terdekat jika terjadi gangguan ditengah penggunaan padahal di awal baik - baik saja.

Karena project perbaikan di Pura Agung Jagat Karana Surabaya ini mendesak dan mixernya yg lama sudah mencapai berakhirnya masa pakai, maka diputuskan untuk membeli mixer sederhana dengan fasilitas cukup bagus. Kini umum ditemukan mixer merek ashley, soundqueen, hardwell yang kalau dibilang KW namun memiliki kualitas dan fasilitas yang dapat dihandalkan. Pengoperasiannya cukup dengan beberapa tombol saja dan sudah dilengkapi pemutar MP3-Bluetooth dan soundcard yg mendukung koneksi ke PC / Laptop jika ingin melakukan siaran langsung ke youtube misalnya.

Suara yang dihasilkan pun sangat dapat dinikmati kerenyahan echo-reverb dengan effect yang sudah digital DSP. Ini menjadi solusi yang tepat jika dana yg dianggarkan tidak begitu besar namun dapat memuaskan pengurus di pura.






Lalu bagaimana untuk melakukan seting terhadap microphone dan mengatur penempatannya sehingga tidak mengganggu kegiatan ratu peranda serta pemangku ? Akan dibahas pada bagian selanjutnya ( disini ).


*) Sumber gambar dan video : FB Banjar Pakraman Madya Surabaya
Share:

Menata Audio Sistem Pura Menjadi Lebih Baik Dan Berkualitas [Part 1]

 



Alunan genta dari Ratu Pandita mengiringi ke khusyukan dan ketenangan hati saat menghaturkan panca sembah, begitu pula saat nunas tirta diiringi lantunan kidung warga sari - turun tirta yang mengalun halus melalui audio speaker yang membuat betah para pemedek yang hadir saat persembahyangan purnama/tilem maupun hari raya Hindu lainnya. Ini merupakan dambaan bagi panitia penyungsung pura dimanapun di Nusantara. Namun kadang tak dihindari juga beberapa kali menemui gangguan suara kemresek atau nyanyian kidung yang memekakkan telinga. Terlihat remeh tapi terkadang lumayan mengurangi kesempurnaan dalam melaksanakan ibadah.

Di lingkungan pura yang berada di daerah minoritas dan muslim menjadi mayoritas, acap kali suara audio dari masjid akan menjadi dominan disaat melakukan persembahyangan terutama saat petang yg bersamaan dengan sholat magrib. Pemerintah melalui kementrian agama telah mengeluarkan aturan speaker masjid dan ini menggugah Aisi555 untuk ikut mengatur audio sistem pada pura dimana aisi555 mulai melakukan 'ngayah' yaitu di Pura Agung Jagat Karana Surabaya. 






Posisi pura terbesar di kota Surabaya ini diapit lingkungan muslim yang memiliki beberapa mushola dan Masjid sehingga suara audio sistem di dalam pura terasa 'tenggelam' saat melakukan persembahyangan pada petang hingga malam hari. Padahal sound system yg berada didalam utama mandala merupakan audio sistem kelas atas dengan mixer dan speaker aktif  yang merupakan sumbangan dari rekan Telkom Surabaya beberapa tahun yg silam. Namun dengan lokasi yang 80% outdoor maka dibutuhkan perawatan yang cukup rutin agar suara yg dihasilkan tetap terjaga kualitasnya. Disinilah Aisi555 berperan dalam melakukan perbaikan dan perawatan audio sistem untuk mendukung kegiatan rutin di pura.

Aisi555 kemudian melakukan survey ke lokasi pura dan juga berkonsultasi dengan kawan-kawan yg memiliki pengalaman mengatur audio pada masjid dan gereja. Ini perlu dilakukan pada orang yg tepat karena kalau dipikir - pikir, takmir masjid yg paling rajin  menghidupkan minimal 5 kali audio sistemnya dan tentu saja butuh pemeliharaan yang berkala. Ilmu yang saya dapatkan dari salah satu mantan anak didik (yg kebetulan sering mengerjakan audio masjid) adalah mengenai pemilihan microphone yg tepat sesuai kebutuhan serta pemilihan perkabelan yang tidak memberatkan secara ekonomi, ini karena banyaknya tipe kabel audio yg beredar dengan range dari ribuan rupiah per meter sampai ratusan ribu. Salah satu channel youtube oleh Mas Ari juga membantu saya belajar mengatur sound system yang tepat.






Denah diatas merupakan orat-oret saya yg menggambarkan posisi peralatan audio. Peralatan yg sudah tersedia pada instalasi sebelumnya meliputi :


1. Mixer Yamaha 166CX




Mixer legendaris ini merupakan standar untuk audio sistem pada acara panggung di manapun, baik di kondangan maupun acara pemerintahan. Kualitas untuk produk yamaha ( asli ) memang tidak dapat dipungkiri kerenyahan suaranya. Namun sayangnya saya mendapatkan mixer ini sudah pernah direparasi dan beberapa controlnya mengalami kerusakan. Ada juga kekurangan atau kendala untuk operator audio di pura dimana controlnya terlalu ribet untuk di pahami orang awam. Jadi aisi555 menyarankan kepada pengurus pura untuk menggantinya dengan mixer sederhana kelas menengah yg umum dipasaran


2.  Audio Splitter 



Alat bermerek Behringer UltraLink Pro ini bertugas sebagai splitter dari output mixer ke banyak perangkat audio lainnya seperti speaker aktif atau power amplifier TOA. Sebenarnya untuk penggunaan speaker aktif di 6 titik pada pura ini bisa  tanpa splitter, namun untuk menjaga kemungkinan penambahan audio system atau tambahan speaker baru dikemudian hari maka alat ini mungkin dianggap perlu oleh pendesain awal. Terdapat 6 output yang dapat disambungkan ke perangkat audio selanjutnya.


3. Speaker Aktif



Speaker aktif Huper 15 inch ini merupakan standar tertinggi untuk audio sistem kondangan maupun rapat. Terbukti dijemur dan kehujanan bertahun-tahun di pura perak surabaya ( hanya ditutup dengan penutup seperti tutup mobil ) kualitasnya saya dapatkan masih cukup bagus. Kendala suara kemresek dan kadang mencuit ditemukan saat survey dan ini ciri khas adanya masalah pada sambungan perkabelannya.


 4. Microphone kabel dan wireless

Terdapat beberapa microphone ( yg berharga cukup  mahal ) namun sayang kondisinya mengenaskan karena terpapar cuaca lembab, sehingga memiliki tampilan yg buruk. Ketika dicoba suaranya masih bagus dan menggelegar, namun sempat bikin saya terkejut karena mendapatkan sengatan listrik yg cukup membuat saya secara reflek melempar mic ini. Ini menandakan kurangnya grounding pada kelistrikan di lokasi pura. Mic wirelessnya tidak bernasib lebih baik dan hanya bisa terselamatkan beberapa buah saja.


5. Automatic Voltage Regulator / Stavolt



Untuk kota besar sekelas Surabaya sebenarnya kelistikan PLN sudah cukup stabil. Namun karena sumbangan terdahulu menyertakan stavolt yg bagus (menggunakan servo motor) maka ya tetap dimanfaatkan agar tidak mubazir. 


Bagaimana kemudian proses perbaikan yang Aisi555 lakukan dan bagaimana hasil kualitas audio system yang dicapai ? Nantikan pada tulisan selanjutnya ( disini ).


*) Sumber gambar : FB Pandita Istri Sekar Arum, google earth dan beberapa sumber lainnya

Share:

Selasa, 05 April 2022

ASO dan Migrasi Televisi Digital Yang Membingungkan Masyarakat Awam - TV Via Satelit Sudah Migrasi Sejak 1999 lhoo

 



Wew.. jadul banget tampilan web legendaris rujukan para peng-Hobby tv parabola lyngsat.com. Gambar diatas merupakan hasil dari web archive, snapshot kembali ke masa lalu jaman internet baru saja lahir. Waktu itu website untuk mencari parameter tv satelit ada 3 seingat saya yaitu lyngsat, satcodx dan apsattv. Jika era parabola analog cukup dengan memutar tombol tuning sambil perhatikan layar tv apakah semut atau ada raster gambar burem (artinya ada siaran di TP itu)  lalu puter skew polaritas servo dikit-dikit sampai muncul gambar dan suara jernih. Ini tidak menjadi lebih mudah di-era satelit digital ketika receiver atau STB jaman itu masih harus memasukkan parameter frakuensi transponder, bitrate dan sid secara manual.  




Nah ini nih receiver legendaris yang hadir di tahun 1992 dan kemudian membuat geger ketika semua siaran tv nasional lewat parabola melakukan migrasi dari transmisi analog menjadi digital yang dimulai pada tahun 1999. Banyak suara konsumen parabola (yang sumbang) tampil di media cetak maupun elektronik saat itu. Maklumlah waktu itu kita baru saja keluar dari krismon dan televisi menjadi satu-satunya hiburan (di daerah tanpa jangkauan tv uhf) ditengah himpitan ekonomi yg menyebabkan harga bensin premium dari 700 rupiah menjadi 2500 per liter. Hasilnya banyak parabola yang di "tumbangkan" sampai beberapa tahun saat harga receiver DVB-S mulai terjangkau.



Blog ini mengkuti terus perkembangan digitalisasi televisi, sampai akhirnya di tahun 2008 saat olimpiade beijing berlangsung, TVRI melakukan launching pertama kalinya TV digital dan diresmikan oleh pak menteri M Nuh (dosen saya kuliah) serta disaksikan presiden SBY waktu itu. Memang saya sudah mengetahui negara maju seperti australia dan amerika serikat sudah melakukan ASO sejak 2003 dan 5 tahun telat ya gpp lah. Namun seperti cerita yg pernah saya tulis di blog ini, terjadi kegaduhan di 2012 saat teknologi tv digital lewat antena UHF yang sebelumnya menggunakan standar DVBT di upgrade menjadi teknologi DVBT2. Banyak peng-import STB digital yg harus gigit jari barangnya gak bisa dijual.


Hubungi kami jika anda terkendala seting TV digital di wilayah Surabaya dan sekitarnya :

TV Digital Pasti Jernih

Jl. Ikan Mujaer No.7 P, Perak Bar., Kec. Krembangan, Kota SBY, Jawa Timur 60177

0815-5737-755 

https://g.co/kgs/No6JmP



Bahkan hebohnya tambah lagi, saat muncul keanehan pada baliho sosialisasi migrasi tv digital yang lebih besar porsi gambar selfie dari pak menteri Tifatul Sembiring (hampir 80%) dibandingkan sosialisi siarta waktu itu. Kehebohan gak berhenti disini karena migrasi ini digagalkan pihak TV jaringan terbesar di negeri ini dan mux digital banyak yg ikutan turun dari udara di tahun 2014. Ribut-ribut migrasi tv ini akhirnya berhenti juga namun muncul kembali saat UU cipta karya OMNIBUS LAW meng-gas-kan kembali ASO karena negara kita mendapat teguran dari ITU (lembaga pbb bidang telekomunkasi). 


 


Duhh kok senengnya bikin heboh ya ? Apakah ini disengaja karena ada yang akan diuntungkan dengan keadaan serba tidak jelas ? Seperti tangkapan pada layar whatsapp saya kemarin malam.




Kebingungan yang sama terjadi pada keluarga saya di bali utara yg juga pengguna parabola, sama persis dengan chat dari rekan pembaca blog dari Sulawesi Barat. Jadi saya rangkum kesalahan sosialisasi yg awam ditemukan di masyarakat.





1.  TV digital bukan TV streaming atau youtube



Ini jelas diakibatkan karena proses migrasi tv digital di Indonesia  yg sangat telat sehingga masyarakat yg sudah lebih dulu mengenal youtube atau layanan streaming, sudah terlanjur mengangap cara menonton televisi mereka sudah "digital". Hal ini tidak terjadi di negara lain dikarenakan proses migrasi tv digital di negara mereka sudah dilaksanakan sebelum penetrasi TV platform OTT lewat smartphone menjamur di masyarakat. 

Bahkan saat saya ikut meeting lewat zoom mengenai sosialisasi migrasi TV digital, ada oknum nara sumber dari kementrian terkait yang dengan entengnya menyebut " Era tv digital akan menumbuhkan banyak konten kreator dan akan memudahkan masyarakat melakukan belanja secara online". Begitu membagongkannya bapak eslon 2 yg hampir pensiun itu, ya maklumlah kurang mendapatkan informasi yang benar di kementriannya.


2. Televisi Digital tetap menggunakan antena UHF biasa



Kehebohan migrasi ini ditunggangi oleh spekulan penjual antena TV dengan embel-embel "DIGITAL READY" bahkan dengan iklan di media sosial menampilkan tayangan tv berbayar macan CNN dan Sky Sport akan dapat ditangkap oleh tv anda jika menggunakan antena indoor tipis yang mereka jual. Ini penipuan karena untuk mrnonton TV Digital tetap saja menggunakan antena UHF standar yang digunakan sebelumnya dan diharapkan jangan menggunakan antena indoor yang tipis dan kecil karena itu hanya untuk mereka yang berada di lokasi perkotaan (jarak max pemancar 5 km).


3. Pastikan ada berada pada jangkauan pemancar / Mux TV Digital terdekat



 

Jangan terburu-buru membeli STB DVB-T2 atau TV LED genersi terbaru sebelum mengecek apakah tetangga sekitar kamu sudah mendapatkan sinyal digital di televisi mereka. Gunakan aplikasi android diatas yg cukup membantu masyarakat untuk melihat jangkauan tv digital di daerah sekitar. Namun cara termudah adalah tetap menggunakan akal sehat, cari teknisi tukang televisi atau orang pintar, guru, pejabat setempat dan tanyakan : " Bapak..apakah sudah ada sinyal tv digital ke desa kami ?"  Jangan lupakan juga ada program bagi-bagi STB ke masyarakat kurang mampu dari pemerintah dan tentu saja perangkat desa sudah mendapatkan sosialisasi dari pemerintah. 


4.  BAGI PENGGUNA PARABOLA  TV ANDA SUDAH DIGITAL SEJAK 1999 , JANGAN TERGIUR BELI STB TV DIGITAL DARI ONLINE




Bagi mereka yang tidak terjangkau siaran tv UHF dan menggunakan parabola untuk menonton TV, JANGAN PANIK ! Televisi bapak dan ibu, kakak adik diseluruh pelosok nusantara yang menggunakan parabola itu sudah DIGITAL. Siaran TV nasional yg beberapa tahun belakangan hilang dari channel parabola (gelap / diacak) murni karena bisnis semata dan diharapkan menggunakan receiver terbaru seperti contoh pada gambar. Jadi jangan ganti dengan STB Digital lagi ya, cari informasi yang benar pada teknisi parabola terdekat anda.


Ini menjadi PR yang mungkin berat bagi kementrian terkait untuk menggiatkan kembali sosialisasi ASO - Migrasi TV digital. Diharapkan selain petugas sosialisai mendapatkan SPJ untuk jalan-jalan ke pelosok,  ya gak ada salahnya membantu masyarakat untuk lebih memahami migrasi TV digital. Kepuasan anda bekerja akan lebih nikmat walau hanya dengan hal sepele,  melihat senyum kepuasan masyarakat pelosok mendapatkan hiburan TV yang jernih dan acaranya beragam, yang terpenting TANPA di ACAK saat program favoritnya ditayangkan.

Share:

Kontak Penulis



12179018.png (60×60)
+628155737755

Mail : ahocool@gmail.com

Site View

Categories

555 (8) 7 segmen (3) adc (4) amplifier (2) analog (19) android (12) antares (11) arduino (26) artikel (11) attiny (3) attiny2313 (19) audio (5) baterai (5) blog (1) bluetooth (1) chatgpt (2) cmos (2) crypto (2) dasar (46) digital (11) dimmer (5) display (3) esp8266 (26) euro2020 (13) gcc (1) iklan (1) infrared (2) Input Output (3) iot (68) jam (7) jualan (12) kereta api (1) keyboard (1) keypad (3) kios pulsa (2) kit (6) komponen (17) komputer (3) komunikasi (1) kontrol (8) lain-lain (8) lcd (2) led (14) led matrix (6) line tracer (1) lm35 (1) lora (11) MATV (1) memory (1) metal detector (4) microcontroller (70) micropython (6) mikrokontroler (1) mikrokontroller (14) mikrotik (5) modbus (9) mqtt (3) ninmedia (5) ntp (1) paket belajar (19) palang pintu otomatis (1) parabola (88) pcb (2) power (1) praktek (2) project (33) proyek (1) python (8) radio (28) raspberry pi (9) remote (1) revisi (1) rfid (1) robot (1) rpm (2) rs232 (1) script break down (3) sdcard (3) sensor (2) sharing (3) signage (1) sinyal (1) sms (6) software (18) solar (1) solusi (1) tachometer (2) technology (1) teknologi (2) telegram (2) telepon (9) televisi (167) television (28) transistor (2) troubleshoot (3) tulisan (93) tutorial (108) tv digital (6) tvri (2) vu meter (2) vumeter (2) wav player (3) wayang (1) wifi (3) yolo (7)

Arsip Blog

Diskusi


kaskus
Forum Hobby Elektronika