Semua Tentang Belajar Teknologi Digital Dalam Kehidupan Sehari - Hari

  • IC Timer 555 yang Multifungsi

    IC timer 555 adalah sirkuit terpadu (chip) yang digunakan dalam berbagai pembangkit timer, pulsa dan aplikasi osilator. Komponen ini digunakan secara luas, berkat kemudahan dalam penggunaan, harga rendah dan stabilitas yang baik

  • Ayo Migrasi TV Digital

    Kami bantu anda untuk memahami lebih jelas mengenai migrasi tv digital, apa sebabnya dan bagaimana efek terhadap kehidupan. Jasa teknisi juga tersedia dan siap membantu instalasi - setting perangkat - pengaturan antena dan distribusi televisi digital ke kamar kos / hotel

  • Bermain DOT Matrix - LOVEHURT

    Project Sederhana dengan Dot Matrix dan Attiny2313. Bisa menjadi hadiah buat teman atau pacarmu yang ulang tahun dengan tulisan dan animasi yang dapat dibuat sendiri.

  • JAM DIGITAL 6 DIGIT TANPA MICRO FULL CMOS

    Jika anda pencinta IC TTL datau CMOS maka project jam digital ini akan menunjukkan bahwa tidak ada salahnya balik kembali ke dasar elektronika digital , sebab semuanya BISA dibuat dengan teknologi jadul

  • Node Red - Kontrol Industri 4.0

    Teknologi kontrol sudah melampaui ekspektasi semua orang dan dengan kemajuan dunia elektronika, kini semakin leluasa berkreasi melalui Node Red

Senin, 12 Agustus 2013

Hobby Microcontroller Itu Mahal ? Kreativitasmu Itu yg Mahal Gan !


Judul diatas saya kutip dari keluh kesah seorang pembaca yang meminta saya untuk menurunkan harga paket belajar yang dijual disini. Saya kemudian mencoba menanyakan apakah dia serius untuk belajar atau hanya mengetes kesabaran saya saja. Padahal paket belajar yang saya susun komponen beserta tutorialnya tidaklah mengambil untung margin komponen modul yang besar. Semangat saya dalam menyebarkan ilmu yg dulu saya dapatkan dengan perjuangan menghilangkan segala keinginan untuk mengeruk keuntungan.


KREATIVITASMU LEBIH MAHAL !

Lanjut ke cerita pembaca tadi, saya kemudian melakukan komunikasi via ym ke dia dan dalam percakapan saya menganjurkan agar dia menyicil membeli komponen. Tapi ada daya anak muda yang rasa ingin tahunya tinggi maka jika terpotong-potong maka rasa bosan dan tidak sabar muncul. Dan saya keluarkan ajian pamungkas saya dalam belajar microcontroller 10 tahun yang lalu dengan TANPA KELUAR UANG !


  1. Kuatkan niat, tebalkan mental (+ muka) kalo ga sanghup ya DISHANGGUP-SHANGGUPIN (ala the comment net. TV)
  2. Mencari incaran teman sekampus yang sekiranya tajir tapi rada bloon , atau mencari sekiranya kapan si teman yg mengambil matakuliah atau praktikum ini lulus kuliah microcontroller. Kamu tidak usah mengambil semester ini dan diganti semester berikut dengan harapan modul dan komponen microcontroller punya si teman sudah selesai dipakai dan bisa di "pinjem" atau paling apes diobral murah.
  3. Jika mengandalkan teman yang bloon, kita sok pinter aja.. (harusnya sih pinter beneran) kemudian menawarkan jasa untuk mengajari si bloon tentang microcontroller dengan jaminan semua tugasnya akan dibantu. Paling jitu lagi suruh aja si bloon liburan keluar negeri (kan tajir) kemudian tugas2nya kamu yang ngerjain. 
  4. Hunting modul belajar yang biasanya dimiliki oleh laboratorium, nah yang ini pengalaman penulis harus menjadi tukang bersih-bersih di LAB agar bisa meminjam modul belajar FPGA kesayangan milik dosen.
  5. Meng-Inden komponen bekas punya kakak kelas yang mau lulus skripsi. Karena Euforia kelulusan maka sang kakak kelas akan cenderung merelakan komponen yang sekotak besar itu ditinggal di LAB. Tungu sampe dia lupa mengambil (karena sudah diluar kota) atau main bersih dengan menawarkan jasa penitipan..."mas ..barang2 mas saya amankan ya..kapan2 bisa diambil di loker saya". Dijamin kakak kelas itu akan sibuk dengan urusan test dan wawancara kerja...(ini terjadi pada saya...)






Bagaimana jika kamu bukan mahasiswa dan belajar sendiri ? Ya tidak ada jurus lain selain menabung yang rajin. Tapi ini ada tips juga kok yang dinamakan TIPS BELAJAR SENDIRI DENGAN HEMAT.

  1. Rajin-rajin mantengin website-website elektronika (terutama produsennya) jaga-jaga ada penawaran komponen sample gratis. Penulis pernah mendapat sampel ic TTL 74xx lengkap hanya dengan mengisi survey. Bahasa inggris yang lumayan sangat dianjurkan.
  2. Inventaris semua komponen dari yang kecil sampai yang besar. Kumpulkan dalam box atau dengan plastik klip dan hitung jumlahnya pada sebuah catatan (di kertas boleh ..di HP aja aman..di komputer lebih lega). Tujuannya adalah menjaga kemungkinan terbelinya komponen yg berulang padahal masih ada stok. Penulis sangat kurang dalam hal catat mencatat makanya ada beberapa komponen yang tidak perlu tapi jumlahnya seabrek.
  3. Berburu ke tempat loakan, coba hunting mesin VCD lawas atau komputer bekas dan cari komponen yang sekiranya penting. Saran saya kumpulkan saja resistor dengan nilai antara (100-1K) cocok untuk tahanan LED , kemudian resistor (3K - 22K) cocok untuk pull up/down logic digital. Juga semikonduktor semacam Dioda , LED dan Transistor layak dikumpulkan. Selebihnya jangan diambil karena akan memenuhi tempat penyimpananmu. Kapasitor nilai dibawah 100nF pun bisa dikoleksi dari tukang loak, sedangkan untuk ELCO tidak disarankan karena biasanya semakin tua elektrolitnya bisa habis. Jangan sering menyimpan komponen induktor atau lilitan karena jarang berguna dan spacenya lumayan. Taukah kamu kalau HP bekas merek china didalamnya ada processor ARM yang opensource dan banyak sumber bacaan yang dapat digoogling


Nah....semua jurus sudah saya keluarkan, masih merasa mahal ? Kalau iya pertimbangkan saja untuk merubah jurusan kuliah atau mencari hobby lain seperti menjahit...Wah...mesin jahit mahal GAN ! Oooooppssss.....

Share:

Selasa, 06 Agustus 2013

Kreasi Pembaca: VU Meter Untuk Sound Level dengan ATMega8535 (Versi Digital)



Kreasi pembaca lanjutan dari tulisan sebelumnya merupakan penggabungan dari beberapa pembahasan mengenai penulisan ke lcd dan topik yang membahas tentang ADC (Analog To Digital Converter). Sinyal yang diterima oleh mic condenser kemudian dikuatkan dua kali oleh op-amp LM358 kemudian output yang berupa tegangan ini akan memberikan inputan menuju ADC port pada minimum system 8535. Sebelumnya alangkah baiknya kita ketahui dulu bagaimana response tegangan dengan suara yang tidaklah linear akan tetapi logaritmik.




Microcontroller 8 bit akan mengalami kesulitan jika dipaksakan berhitung di skala logarithmic (entah micronya yg bakal error atau kepala yg bikin script akan pusing hebat). Nah untuk itu kita akan mengambil sampling data sound level dari sebuah bunyi (tone generator) , kemudian kita ukur pada dbMeter yang difungsikan sebagai kalibrator. Pada saat yang bersamaan kita catat pula level pembacaan ADC yang keluar pada layar LCD minimum system. 

Karena sudah memakai minimum system maka rangkaian yg kita tampilkan hanya berupa penguat dari mic condenser.



Klik gambar untuk memperjelas gambar
*) VCC 5v tidak sebagai input, melainkan input dari supply 9-12v


Jika pembaca sudah terbiasa dengan pembahasan ADC ungkin akan sangat mudah tetapi tetap saja saya tempel scriptnya demi kemudahan bagi pembaca setia.


//Insisialisasi awal

#define F_CPU 4000000UL //frek minsys 8535 versi innovative
#include <string.h>
#include <avr/io.h>
#include <util/delay.h>
#include "lcd.h"

// silahkan baca pembahasan menulis di lcd
//fungsi untuk menulis angka ke ASCII LCD
void reverse(char s[]) 
{ 
   int c, i, j; 
    
   for (i = 0, j = strlen(s)-1; i < j; i++, j--){ 
      c = s[i]; 
      s[i] = s[j]; 
      s[j] = c; 
   } 
} 
void itoa(int n, char s[]) 
{ 
   int i, sign; 
    
   if ((sign = n) < 0) // record sign 
      n = -n;         // make n positive 
   i = 0; 
   do {   // generate digits in reverse order 
      s[i++] = n % 10 + '0'; // get next digit 
   } while ((n /= 10) > 0); // delete it 
   if (sign < 0) 
      s[i++] = '-'; 
   s[i] = '\0'; // add null terminator for string 
   reverse(s); 
}  


//insisialisasi ADC

void initADC()
{
ADMUX=(1<<REFS0);// Aref=AVcc;
ADCSRA=(1<<ADEN)|(1<<ADIE)|(7<<ADPS0);
MCUCR |= _BV(SE);  // Sleep Enable, jadi abis ini processor diturunkan loadnya
MCUCR |=_BV(SM0);  // mode ADC NOISE REDUTION
}


//Baca ADC, pilih pin portA yg diinginkan

uint16_t ReadADC(uint8_t ch)
{

   //Select ADC Channel ch must be 0-7
   ch=ch&0b00000111;
   ADMUX|=ch;

   //Start Single conversion

   ADCSRA|=(1<<ADSC);

   //Wait for conversion to complete
   while(!(ADCSRA & (1<<ADIF)));

   //Clear ADIF by writing one to it
   ADCSRA|=(1<<ADIF);

   return(ADC);

}


int main(void)
{


uint16_t baca,decimal,pecahan;
uint8_t a;

//inisialisasi port I/O 

//PORTC menuju LCD & BUzzer
//PC0=buzzer, dapat tidak digunakan
DDRC  |= (1<<PC0)|(1<<PC1)|(1<<PC2)|(1<<PC3)|(1<<PC4)|(1<<PC5)|(1<<PC6)|(1<<PC7);
//PC1=Rs PC2=R/W PC3= E PC4-PC7 = data lcd 4 bit
//inisialisasi LCD
lcd_init(LCD_DISP_ON);
lcd_clrscr();


initADC();
char dum; //dum = variabel sementara penyimpan angka


   while(1)
   {

      baca=ReadADC(1); //baca tegangan output op-amp
      lcd_clrscr();
      lcd_gotoxy(0,0);

    // baca merupakan binner 10 bit, range 0-5V
    // jadi binnernya 0-1023  
    
  // berikut ini untuk buat animasi level VU
 for(a=0; a< (baca/64); a++) 
    {

     if(a<16) lcd_putc(0xFF); //tulis kotak ke LCD sesuai level

 }

// yang ini penentuan level buzzer, gunakan sesuai keinginan 
    if(a>13) PORTC|=(1<< PC0);
 else PORTC &= ~(1<< PC0);

//buzzer dapat tidak digunakan

      
   decimal= (baca * 5)/1000 ;

   pecahan= ( ((baca * 5) - (decimal * 1000) ) /10);

// tampilan tegangan ke LCD
      lcd_gotoxy(0,1);
      lcd_puts("teg =");

      itoa(decimal,&dum);
   lcd_puts(&dum);
   lcd_putc(',');
      
       if(pecahan <10) lcd_putc('0');

      itoa(pecahan,&dum);
   lcd_puts(&dum);

   lcd_puts(" V    ");
  

      _delay_ms(100);  //delay pembacaan, ubah2 sesuai keinginan, makin cepet susah dibaca tapi makin realtime

   }


return 0;

}




Selanjutnya jika menginginkan perhitungan dB (desibel) dari level suara, maka kita buat tabel seperti contoh berikut :


dB P1 P2 P3 AVG BINER
45 2.09 2.22 2.12 2.14 429
50 2.12 2.25 2.19 2.19 437
47 2.15 2.27 2.21 2.21 442
48 2.18 2.31 2.22 2.24 447
49 2.25 2.32 2.23 2.27 453
51 2.28 2.34 2.24 2.29 457
52 2.32 2.35 2.26 2.31 462
53 2.36 2.37 2.27 2.33 467
55 2.41 2.39 2.29 2.36 473
56 2.47 2.42 2.31 2.40 480
58 2.53 2.44 2.33 2.43 487
59 2.56 2.46 2.34 2.45 491
61 2.57 2.48 2.35 2.47 493
62 2.59 2.49 2.37 2.48 497
65 2.60 2.53 2.41 2.51 503
67 2.62 2.54 2.43 2.53 506
68 2.63 2.56 2.44 2.54 509
70 2.66 2.58 2.47 2.57 514 



Dengan perolehan data seperti diatas maka dapat dilakukan pengambilan sample level db vs voltage(rata-rata) kemudian secara mudah dapat dilakukan menggunakan lookup array ataupun paling primitif menggunakan "IF ELSE" saja seperti contoh berikut:




  if( baca <= 429) lcd_puts("<45 dB");
  else if( baca > 429 && baca <= 437 ) lcd_puts(" 45 dB");
  else if( baca > 437 && baca <= 442 ) lcd_puts(" 50 dB");
  else if( baca > 442 && baca <= 447 ) lcd_puts(" 47 dB");
  else if( baca > 447 && baca <= 453 ) lcd_puts(" 48 dB");
  else if( baca > 453 && baca <= 457 ) lcd_puts(" 49 dB");
  else if( baca > 457 && baca <= 462 ) lcd_puts(" 51 dB");
  else if( baca > 462 && baca <= 467 ) lcd_puts(" 52 dB");
  else if( baca > 467 && baca <= 473 ) lcd_puts(" 53 dB");
  else if( baca > 473 && baca <= 480 ) lcd_puts(" 55 dB");
  else if( baca > 480 && baca <= 487 ) lcd_puts(" 56 dB");
  else if( baca > 487 && baca <= 491 ) lcd_puts(" 58 dB");
  else if( baca > 491 && baca <= 493 ) lcd_puts(" 59 dB");
  else if( baca > 493 && baca <= 497 ) lcd_puts(" 61 dB");
  else if( baca > 497 && baca <= 503 ) lcd_puts(" 62 dB");
  else if( baca > 503 && baca <= 506 ) lcd_puts(" 65 dB");
  else if( baca > 506 && baca <= 509 ) lcd_puts(" 67 dB");
  else if( baca > 509 && baca <= 514 ) lcd_puts(" 68 dB");
  else if( baca > 514 ) lcd_puts(">70 dB");



Hasilnya pada video berikut ...jangan terkejut alau kualitas video jelek dan ada suara latar yang sangat "menggetarkan hati..."





Dan seperti biasa kabar gembira muncul dari hasil bimbinganku ini, tugas akhir yang dibuat mahasiswi dari aceh ini mendapatkan nilai "A"  . Duh ...senangnya.....


SELAMAT MENCOBA
Share:

Senin, 05 Agustus 2013

Kreasi Pembaca: Vu meter Untuk Sound Level menggunakan IC LM 3914/5 (Versi Analog)



Masih ingat dengan kisah sukses mia dari aceh yang dibimbing penulis untuk tugas akhir ? Ternyata tidak hanya mia yang meminta saya untuk membimbing tugas akhirnya, ada seorang temannya mia yang juga meminta ide dari saya dan ide ini harus berhubungan dengan pengukuran suara. Awalnya saya terpikir untuk memberikan ide yang mudah saja karena jurusan kuliah yang mereka ikuti adalah jurusan fisika-mipa. Jadi kali ini saya hanya akan berkutat pada rangkaian analog. 

Teringat saya ketika saya SMA pernah membuat VUmeter dengan membeli kit jadi yang berbasiskan ic vu meter yang umum yaitu LM3914 atau LM3915. Ic ini cukup populer dikalangan penghobi elektronika karena dapat mempersingkat waktu desain dengan komponen yang sangat sedikit.



LM3914 umumnya digunakan pada display vu meter - led  untuk perangkat audio dan beberapa kreasi di google juga ada yg menggunakannya untuk mengukur tinggi air atau bahkan ada kreasi yang pernah saya baca digunakan sebagai pengukur isi tangki bensin kendaraan roda2. Kembali ke tugas akhir teman kita dari aceh ini, yang ingin diukur adalah level dari suara yang ditangkap oleh sebuah sensor. Sensor ini tidak lain adalah microphone dan yang saya pilih kali ini adalah microphone berjenis Mic Condenser.




Microphone jenis ini bersifat kapasitif dimana perubahan diafragma membran oleh gelombang suara akan menyebabkan kapasitansinya berubah-ubah. Untuk mengolah perubahan ini menjadi sinyal audio yang dapat diterima oleh ic LM3914 maka sinyal harus dikuatkan melalui transistor atau op-amp. Kali ini penulis memilih penguatan menggunakan op-amp LM358 (dual op-amp) yang cukup umum dipasaran walaupun response frekuensinya kurang bagus untuk diatas 5KHz.

LM358


Trus apa gunanya kalo hanya sebagai hiasan level suara dengan Led ? Ternyata rekan mahasiswi kita ini agak kebingungan karena ide yg pertama kali dia ingin capai adalah merancang alat sebagai alarm jika level suara tertentu dicapai. Semakin tidak masuk akal karena jika dilogikakan secara nalar anak SD ... apabila ada level suara yang melebihi batas itu pun sudah menjadi alarm tersendiri bagi telinga, betul tidak ? Telinga yang terhubung ke Otak merupakan sensor dan sistem alarm ciptaan Tuhan yang sangat sempurna....

Ahhh... tapi buat pembaca lainnya jangan dibuat bingung, alat ini cukup bagus kok apabila diletakkan di dekat speaker atau sound system, dengan kreasi Led warna-warni maka yang seperti di video youtube ini dapat juga dikreasikan dengan modal yang cukup murah.







Rangkaiannya cukup simple kok...ini nih saya kasi yaa...


(klik untuk memperbesar)


Kelanjutan dari tugas akhir teman dari aceh ini dilanjutkan dengan perubahan mendasar dengan menggunakan microcontroller. Yahhh..akhirnya barang yang powerful ini keluar juga karena si dosen pembimbing katanya tidak puas karena tidak ada penunjukan level dB dari suara pada suatu display. Mau tidak mau harus menggunakan microcontroller dan akan kita bahas pada tulisan selanjutnya.


SELAMAT MENCOBA
Share:

Senin, 29 Juli 2013

Tutorial: Jam 6 Digit + Kalender Dengan Attiny 2313




Siapkan bahan-bahan  seperti berikut:

Attiny 2313 + downloader isp
Bagian power supply

  •     Trafo AC atau Adaptor yang dapat diatur tegangannya
  •     Jika menggunakan Trafo AC, maka ubah-ubah terminal sekunder trafo untuk V Segmen
  •     7805 untuk menurunkan tegangan ke 5V
  •     Baterai backup 3v - 4.5 v

Dioda 1N4002 (4 + 1 )atau Dioda Bridge sebagai penyearah jika memakai Trafo AC
Capasitor 1000uF/25v , 100nF, 22pF (2buah) atau Varco 0-50pF
Resistor 10K (3 buah), 1K 2Buah
Led 4 buah sebagai pembatas digit
ULN 2003
OptoIsolator PC817 atau 4N25 atau yang sejenis (6 buah)
Xtal 4MHz atau sesuai keinginan
Push Buton tactile (2 buah)
7 segment common Anoda ukuran terserah (6 buah)


SKEMATIK




klik untuk memperjelas

Keterangan:


  1. Gunakan power supply berbeda (yang dapat diubah-ubah) untuk V SEGMEN sehingga dapat mengatur kecerahan dari 7 segmen
  2. Untuk mengkompensasi ketidak akuratan xtal, maka salah satu load cap dari xtal dibuat variabel
  3. Nilai Xtal yang digunakan disesuaikan dengan xtal yg tersedia dipasaran, jika berbeda maka silahkan baca pembahasan mengenai counter/timer disini.
  4. Baterai backup akan mencatu attiny jika listrik mati (tanpa display) sehingga time keeping tetap jalan.


SCRIPT


#define F_CPU 4000000UL //sesuaikan xtal yg dipakai
#include <avr/io.h>
#include <util/delay.h>
#include <avr/eeprom.h>
#include <inttypes.h>
#include <avr/interrupt.h>
#include <string.h>

uint8_t jam,menit,detik,bulan,tanggal,tahun,clock,menu,mode,blink; 
uint8_t a = 0;
char bul_max[12]={31,28,31,30,31,30,31,31,30,31,30,31} ;





//tampilan 7 digit 7 segmen dan animasi

void segmen(uint8_t digit)

{
    switch (digit)        
          {

  case 0 :  
     {

   PORTB &= ~_BV(PB1) & ~_BV(PB2) & ~_BV(PB3)  & ~_BV(PB4) 
            & ~_BV(PB5)  & ~_BV(PB6);

            PORTB |= _BV(PB7);
   
   break;
           }
  case 1 :
     {
      
   PORTB &= ~_BV(PB2) & ~_BV(PB3);

            PORTB |= _BV(PB1)|  _BV(PB4)|  _BV(PB5)|  _BV(PB6)|  _BV(PB7);
   
   break;
           }
  case 2 : 
     {
   PORTB &= ~_BV(PB1) & ~_BV(PB2) & ~_BV(PB7) & ~_BV(PB5) & ~_BV(PB4);

            PORTB |= _BV(PB3)|  _BV(PB6) ;
   
      break;
           }  
  case 3 : 
      {

   PORTB &= ~_BV(PB1) & ~_BV(PB2) & ~_BV(PB3) & ~_BV(PB4) & ~_BV(PB7);

            PORTB |= _BV(PB5)|  _BV(PB6) ;
        
   break;
           }
  case 4 :
     {
      
   PORTB &= ~_BV(PB6) & ~_BV(PB2) & ~_BV(PB3) & ~_BV(PB7) ;

            PORTB |= _BV(PB4)|  _BV(PB5) |  _BV(PB1);
   
   break;
           }
  case 5 : 
     {

   PORTB &= ~_BV(PB1) & ~_BV(PB3)  & ~_BV(PB4) & ~_BV(PB7)  & ~_BV(PB6);

            PORTB |= _BV(PB2) |  _BV(PB5);
   
   break;
           }
  case 6 : 
     {

   PORTB &= ~_BV(PB1) & ~_BV(PB3)  & ~_BV(PB4) & ~_BV(PB7)  & ~_BV(PB6) & ~_BV(PB5);

            PORTB |= _BV(PB2) ;
   
      break;
           }
  case 7 : 
     {

   PORTB &= ~_BV(PB1) & ~_BV(PB2) & ~_BV(PB3);

            PORTB |=  _BV(PB4)|  _BV(PB5)|  _BV(PB6)|  _BV(PB7);
   
      break;
           }  
  case 8 : 
     {
   PORTB &= ~_BV(PB1) & ~_BV(PB2) & ~_BV(PB3)  & ~_BV(PB4) 
            & ~_BV(PB5)  & ~_BV(PB6)  & ~_BV(PB7);

      break;
           }
  case 9 : 
     {

   PORTB &= ~_BV(PB1) & ~_BV(PB2) & ~_BV(PB3)  & ~_BV(PB4) 
             & ~_BV(PB6)  & ~_BV(PB7);

   PORTB |= _BV(PB5); 

      break;
           }
  case 10 :
     {
         PORTB |= _BV(PB1) |  _BV(PB2) |  _BV(PB3) |  _BV(PB4)|
                _BV(PB5) | _BV(PB6) |  _BV(PB7) ;

      break;
           }
  case 11 :
     {
         PORTB &= ~_BV(PB1);

      PORTB |=  _BV(PB2) |  _BV(PB3) |  _BV(PB4)|
                _BV(PB5) | _BV(PB6) |  _BV(PB7) ;
                

      break;
           }
  case 12 :
     {
         PORTB &= ~_BV(PB4);

      PORTB |=  _BV(PB2) |  _BV(PB3) |  _BV(PB1)|
                _BV(PB5) | _BV(PB6) |  _BV(PB7) ;
                

      break;
           }

  case 13 :
     {
         PORTB &= ~_BV(PB2);

      PORTB |=  _BV(PB4) |  _BV(PB3) |  _BV(PB1)|
                _BV(PB5) | _BV(PB6) |  _BV(PB7) ;
                

      break;
           }

  case 14 :
     {
         PORTB &= ~_BV(PB3);

      PORTB |=  _BV(PB2) |  _BV(PB4) |  _BV(PB1)|
                _BV(PB5) | _BV(PB6) |  _BV(PB7) ;
                

      break;
           }
  case 15 :
     {
         PORTB &= ~_BV(PB5);

      PORTB |=  _BV(PB2) |  _BV(PB3) |  _BV(PB1)|
                _BV(PB4) | _BV(PB6) |  _BV(PB7) ;
                

      break;
           }
  case 16 :
     {
         PORTB &= ~_BV(PB6);

      PORTB |=  _BV(PB2) |  _BV(PB3) |  _BV(PB1)|
                _BV(PB5) | _BV(PB4) |  _BV(PB7) ;
                

      break;
           }

      }

         PORTB =  _BV(PB0) | ~PORTB; //khusus memakai uln2003


}


//posisi scan digit

void posisi(uint8_t pos)

{
    switch (pos)   
    {
    case 0 :  
     {

            PORTD &=  ~_BV(PD0) & ~_BV(PD1) & ~_BV(PD4) & ~_BV(PD5)  & ~_BV(PD6) ;
   
   PORTB &= ~_BV(PB0);
               
   break;
           }

    case 1 :  
     {

            PORTD |= _BV(PD0);

            PORTD &= ~_BV(PD1) & ~_BV(PD4) & ~_BV(PD5)  & ~_BV(PD6) ;
   
   PORTB &= ~_BV(PB0);
               
   break;
           }

    case 2 :  
     {

            PORTD |= _BV(PD1);

            PORTD &= ~_BV(PD0) & ~_BV(PD6) & ~_BV(PD4)  & ~_BV(PD5) ;
   
   PORTB &= ~_BV(PB0);
               
   break;
           }

    case 3 :  
     {

            PORTD |= _BV(PD4);

            PORTD &= ~_BV(PD1) & ~_BV(PD0) & ~_BV(PD5)  & ~_BV(PD6) ;
   
   PORTB &= ~_BV(PB0);
               
   break;
           }


    case 4 :  
     {

            PORTD |= _BV(PD5);

            PORTD &= ~_BV(PD0) & ~_BV(PD1) & ~_BV(PD4)  & ~_BV(PD6) ;
   
   PORTB &= ~_BV(PB0);
               
   break;
           }

    case 5 :  
     {

            PORTD |= _BV(PD6);

            PORTD &= ~_BV(PD0) & ~_BV(PD1) & ~_BV(PD4)  & ~_BV(PD5) ;
   
   PORTB &= ~_BV(PB0);
               
   break;
           }


    case 6 :  
     {

            PORTB |= _BV(PB0);

            PORTD &= ~_BV(PD0) & ~_BV(PD1) & ~_BV(PD4) & ~_BV(PD5)  & ~_BV(PD6) ;
   
               
   break;
           }
         }

}


void animasi(void) //animasi pindah jam-kalender

{
     posisi(1);
     segmen(11);
  _delay_ms(50);
     posisi(2);
     segmen(11);
  _delay_ms(50);
     posisi(3);
     segmen(11);
  _delay_ms(50);
     posisi(4);
     segmen(11);
  _delay_ms(50);
     posisi(5);
     segmen(11);
  _delay_ms(50);

     posisi(6);
     segmen(11);
  _delay_ms(50);
     segmen(13);
  _delay_ms(50);
     segmen(14);
  _delay_ms(50);

     posisi(5);
     segmen(12);
  _delay_ms(50);
     posisi(4);
     segmen(12);
  _delay_ms(50);
     posisi(3);
     segmen(12);
  _delay_ms(50);
     posisi(2);
     segmen(12);
  _delay_ms(50);

     posisi(1);
     segmen(15);
  _delay_ms(50);
     segmen(16);
  _delay_ms(50);

}


void tulis(void) //tulis ke 7 segmen

{

     posisi(1);
 
 if(menu == 1 && TCNT1 < 20000) segmen(10); //edit jam
 else    segmen((jam/10));
  _delay_ms(1);
     segmen(10);


     posisi(2);
 if(menu == 1 && TCNT1 < 20000) segmen(10); //edit jam
 else  segmen((jam%10));
  _delay_ms(1);
     segmen(10);

 
 
     posisi(3);
 if(menu == 2 && TCNT1 < 20000) segmen(10); //edit menit
 else    segmen((menit/10));
  _delay_ms(1);
     segmen(10);


     posisi(4);
 if(menu == 2 && TCNT1 < 20000) segmen(10); //edit menit
 else    segmen((menit%10));
     _delay_ms(1);
     segmen(10);

     
  posisi(5);
 if(menu == 3 && TCNT1 < 20000) segmen(10); //edit detik
 else     segmen((detik/10));
  _delay_ms(1);
     segmen(10);

    
  posisi(6);
 if(menu == 3 && TCNT1 < 20000) segmen(10); //edit detik
 else    segmen((detik%10));
  _delay_ms(1);
     segmen(10);


}

void tanggalan(void)

{

     posisi(1);
  if(menu == 4 && TCNT1 < 20000) segmen(10); //edit tgl
 else   segmen((tanggal/10));
  _delay_ms(1);
     segmen(10);


     posisi(2);
  if(menu == 4 && TCNT1 < 20000) segmen(10); //edit tgl
 else    segmen((tanggal%10));
  _delay_ms(1);
     segmen(10);

     posisi(3);
  if(menu == 5 && TCNT1 < 20000) segmen(10); //edit bulan
 else    segmen((bulan/10));
  _delay_ms(1);
     segmen(10);


     posisi(4);
  if(menu == 5 && TCNT1 < 20000) segmen(10); //edit bulan
 else    segmen((bulan%10));
     _delay_ms(1);
     segmen(10);

     
  posisi(5);
  if(menu == 6 && TCNT1 < 20000) segmen(10); //edit tahun
 else    segmen((tahun/10));
  _delay_ms(1);
     segmen(10);

    
  posisi(6);
 if(menu == 6 && TCNT1 < 20000) segmen(10); //edit tahun
 else     segmen((tahun%10));
  _delay_ms(1);
     segmen(10);


}


//INTERUPT 1 DETIK

ISR(TIMER1_COMPA_vect) 

{ 


detik++;
clock++;


if(detik == 60)

{  
   detik=0;
   menit++;

if(menit == 60)

     { menit=0; 
       jam++;
     }

if (jam == 24) 

{ tanggal++; jam = 0 ; }

       
    if(tahun%4 == 0) bul_max[1]=29;
       else bul_max[1]=28; 

if (tanggal > bul_max[bulan-1]) {bulan++; tanggal =1 ;}

if (bulan > 12) {tahun++;  bulan=1; }



}




}


void tombol(void)
{

if(bit_is_clear(PIND, PIND2)) 
   { 

if(menu == 0) menu =1;

else if (menu == 1) menu=2;

else if (menu == 2) menu=3; 

else if (menu == 3) menu=4; 

else if (menu == 4) menu=5; 

else if (menu == 5) menu=6; 

else if (menu == 6) menu=0; 

 
_delay_ms(200);

 }




else if(bit_is_clear(PIND, PIND3)) 
   { 

if(mode==0 && menu == 0)
{ animasi();  
  mode=1; 
  clock=0; }

else if(mode ==1 && menu ==0)
{mode=0;
clock=0;
}


if(menu == 1) 
{ jam ++;
  if (jam == 24) jam =0;
}

else if(menu == 2) 
{ menit ++;
  if (menit == 60) menit =0;
}

else if(menu == 3) detik = 0;

else if(menu == 4) 
{ tanggal++;
  if (tanggal == 32) tanggal =1;
}

else if(menu == 5) 
{ bulan++;
  if (bulan == 13) bulan =1;
}

else if(menu == 6) 
{ tahun++;
  if (tahun == 100) tahun=0;
}


_delay_ms(200);

}


}

int main(void)
{



 
 DDRD |= _BV(PD0) | _BV(PD1) | _BV(PD4) | _BV(PD5) | _BV(PD6) ; //scan digit
 DDRB |= _BV(PB0) | _BV(PB1) | _BV(PB2) | _BV(PB3) | _BV(PB4) | _BV(PB5) | _BV(PB6) | _BV(PB7) ; //segment
 DDRD &= ~_BV(PD2) & ~_BV(PD3); //tombol
  

// ------------ini untuk xtal 4Mhz----------------------
   TCCR1B |= (1 << WGM12); 
   TIMSK |= (1 << OCIE1A); 
   OCR1A  = 62499;
   TCCR1B |= (1 << CS11)|(1 << CS10); 
//------------------------------------------------------

 

jam = 0;
menit= 0;
detik=0;
tanggal=1;
bulan=1;
tahun=11;
clock=0; //perpindahan animasi jam dan kalender
mode=0;
menu=0;

sei();



 while(1)
 {
     
     if(clock == 40 && mode == 1 && menu == 0)
    { animasi();}

  else if(clock > 40 && clock <50 && mode == 1 && menu == 0) 
       {
        
        tanggalan();
    }
     else if(clock == 50 && mode == 1 && menu == 0)

   { animasi(); clock =0; }
  
  else if(menu == 0)
  { tulis(); }

  else if(menu > 3)
  { tanggalan(); }

  else 
  { tulis(); }

         
tombol();   

    }
return 0;
}




ALTERNATIF UNTUK 7 SEGMEN LEBIH BESAR

Optoisolator PC817 mempunyai kekurangan yaitu dayanya kecil sehingga arus yg dapat dialirkan kecil saja. Hal ini akan menyebabkan 7 segmen besar menjadi redup sehingga perlu ditambahkan transistor yg memiliki daya lebih dan dengan rangkaian common Emiter menggunakan transistor PNP seperti BD140  dan PC817 sebagai control base nya (bisa juga transistor NPN 2N3906/2222)  dengan contoh rangkaian pengganti sebagai berikut:





HASIL




SELAMAT MENCOBA
Share:

Kontak Penulis



12179018.png (60×60)
+628155737755

Mail : ahocool@gmail.com

Site View

Categories

555 (8) 7 segmen (3) adc (4) amplifier (2) analog (19) android (12) antares (10) arduino (26) artikel (11) attiny (3) attiny2313 (19) audio (5) baterai (5) blog (1) bluetooth (1) chatgpt (2) cmos (2) crypto (2) dasar (46) digital (11) dimmer (5) display (3) esp8266 (26) euro2020 (13) gcc (1) iklan (1) infrared (2) Input Output (3) iot (62) jam (7) jualan (12) kereta api (1) keyboard (1) keypad (3) kios pulsa (2) kit (6) komponen (17) komputer (3) komunikasi (1) kontrol (8) lain-lain (8) lcd (2) led (14) led matrix (6) line tracer (1) lm35 (1) lora (10) MATV (1) memory (1) metal detector (4) microcontroller (70) micropython (6) mikrokontroler (1) mikrokontroller (14) mikrotik (5) modbus (9) mqtt (3) ninmedia (5) ntp (1) paket belajar (19) palang pintu otomatis (1) parabola (88) pcb (2) power (1) praktek (2) project (33) proyek (1) python (7) radio (28) raspberry pi (4) remote (1) revisi (1) rfid (1) robot (1) rpm (2) rs232 (1) script break down (3) sdcard (3) sensor (2) sharing (3) signage (1) sinyal (1) sms (6) software (18) solar (1) solusi (1) tachometer (2) technology (1) teknologi (2) telegram (2) telepon (9) televisi (167) television (28) transistor (2) troubleshoot (3) tulisan (93) tutorial (108) tv digital (6) tvri (2) vu meter (2) vumeter (2) wav player (3) wayang (1) wifi (3)

Arsip Blog

Diskusi


kaskus
Forum Hobby Elektronika