"Kembali Ke Dasar Elektronika Digital ... "

Senin, 20 Juli 2020

Televisi Digital & Satelit [Seharusnya] Menjadi Solusi Kelas Jarak Jauh Saat Pandemi



Pernahkah anda membayangkan sebelumnya apa yg kini terjadi di 2020 ? Ekonomi morat-marit , banyak korban virus berjatuhan, ambulance meraung dijalan dengan sopir yang berpakaian astronot. Ahh saya terlalu dramatis dan akan diserang para pendukung mereka yg menganggap kalau corona itu HOAX ! Tapi ada satu hal yang sangat nyata dihadapi para orang tua yang memiliki anak usia sekolah mulai Paud sampai tingkat mahasiswa, masalahnya sama yaitu : KUOTA INTERNET ! Gak usah mikirin korona hoax setingan amerika-china -iluminati dan sebagainya..ini nih jeritan nyata para orang tua di tahun ajaran baru 2020/2021.




Jawaban normatif akan diberikan oleh rata-rata guru ketika para ortu murid protes, umumnya di kota yang jaringan internetnya merata, dimana para ortu teriak lantang anaknya gak bisa mengikuti akibat miskin kuota.  Guru pasti menyarankan untuk mencari sumber internet gratis di tetangga, taman, balai RW dan sebagainya. Memang sih penulis sempat juga menjadi surveyor di wifi.id milik telkom dimana dulu itu banyak titik keramaian dan public area yg ada hotspot gratis disediakan oleh telkom. Tapi saat pandemi ini telkom menggenjot di pemasangan indihome ke rumah-rumah dan ndak tahu lagi nasib wifi.id, namun demi CSR kepada masyarakat seharusnya wifi.id mengikuti penetrasi Indihome yang semakin masive. Cerita akan menjadi ironi ketika dipelosok yang jaringan telpon sekelas 2G pun gak sampai, jadi kalau masalah jangkauan internet kurang merata ya saya siapa kok berani protes ? hehehehe


- Perhitungan Kuota Perbulan

  




Mari kita hitung yuk berapa sih kira-kira kuota yang dihabiskan untuk kelas online ? Kita asumsikan kelasnya dilakukan di youtube dengan resolusi video paling standar bisa dilihat enak di mata yaitu 240p dengan perhitungan dari wikipedia sekitar 180-250 MB. Kita ambil tengahnya yaitu 200MB per jam. Jika per-hari siswa mengikuti kelas online sebanyak maximal 2 jam maka sebulan...


200 MB x 2 (jam) x 5 (hari) x 4 (minggu) = 8 GB 


Glekk glekk..hhoekkk ..itu baru seorang anak yg culun dan gak maen game , jangan dikira iklan nongol diyutub gak makan quota apa? Terus searching jawaban dari tugas guru, tulis status IG yg videonya seabrek , maen tiktok, video call untuk tatap muka ke guru dan itu tuh..PUBG dan FF akan susah untuk dikontrol ..apalagi rata-rata anak terbiasa mencari ini nih seperti gambar dibawah...




Hanya bisa geleng-geleng saya , niat baik TVRI dan Kemdikbud untuk mengatasi permasalahan kuota dan infrastruktur internet di daerah terluar dan terdepan Indonesia, menjadi ternoda oleh ulah para "Budak Adsense" yang sudah menyediakan seolah-olah "kunci jawaban" ( jauh sebelum acara kelas tvri dimulai) , dengan harapan menjaring viewer saat kelas tvri selesai dan terdapat tugas untuk dikerjakan dirumah. Sepertinya kesalahannya ada pada TVRI telah menyediakan jadwal dan kisi-kisi yang akan dibahas, dan para yutubers ini entah mendapat ide dari mana akan telah menyediakan bank soalnya. Dan benar saja saat selesai TVRI  memutar satu kelas maka dipublish lah video yang sesuai dan view dari video youtube ini menjadi melonjak drastis. Luar biasa ! Youtube menjadi kebanjiran pengunjung dari anak-anak sekolah, operator telco mendapatkan penghasilan penjualan pulsa quota internet dan yutuber mendapatkan berkah dari adsense. Orang tua siswa hanya bisa menggaruk kepala karena bayar SPP tetap jalan begitu juga Kuota internet yang 2 minggu dijamin sudah lenyap !


- TV DIGITAL SEHARUSNYA MENJADI SOLUSI



Harapan muncul saat membaca artikel viral diatas pada sebuah postingan di Facebook dimana sekolah di padang berusaha merelay LAN sekolahnya via WiFi ke lokasi disekitar sekolah sehingga siswa mendapatkan sinyal yg terhubung dengan server sekolah. Saya awalnya lumayan salut dengan ide yang sebenarnya saya pernah liat pada website luar negeri beberapa tahun yang lalu, tapi gak apa-apa namanya juga meniru sah sah saja. Yang menjadi permasalahan yg mengusik sanubari adalah "kenapa harus selalu pakai jaringan IP sih? "  Bukannya lebih mudah kalau pake sistem broadcast seperti radio dan televisi ? Masih ingat penulis pernah membuat alat pemancar TV sekampung untuk menyebar pengajian ke rumah-rumah (baca disini) ? 



Jadi ide sederhana ini sudah terbukti bisa menjadi solusi di pelosok daerah yang terbebas dari scanner BALMON kominfo, kalau dikota besar ya jangan gunakan ide ini ya pasti di tutup langsung ! Daripada susah-susah narik kabel LAN atau menaikkan tiang PTP wifi dari sekolah menuju titik berkumpulnya murid kenapa tidak dibagikan materinya melalu FLASHDISK saja ? atau guru burning VCD video pelajaran tiap minggu dan seninnya diambil siswa , jumat tugas dari dalam video tadi dikumpulkan. Syarat tanpa kontak langsung guru  ke peserta didik pun menjadi terpenuhi.






Indonesia merupakan pelopor "distance learning " pertama di negara ASEAN ketika TPI - Televisi Pendidikan Indonesia muncul pada tahun 1991. Saat itu penulis rajin menonton pembelajaran tiap pagi dan siang hari dimana produksi acara dilakukan oleh pustekom depdikbud saat itu. Kini TPI menjadi MNC tv dan pustekom telah mendirikan siaran TV satelit TV Edukasi yang mengudara via satelit Palapa. Dulu TVE sempat mengudara melalui UHF analog tapi karena suatu dan lain hal turun tayang kalah dengan tv komersial. Nah inilah seharusnya peran penyiaran sekolah diambil oleh TV DIGITAL yang menyediakan banyak kemudahan.


Gambar diatas merupakan siaran DISTANCE LEARNING TV dari satelit thaicom 8 yang kemudian dapat diterima di daerah thailand dan sekitarnya. Juga satelit ini berfungsi sebagai sumber siaran pemancar digital UHF di seluruh negeri gajah putih. Dengan teknologi digital satelit DVB-S2 maupun DVB-T2 melalui teresterial UHF maka 1 kanal frekuensi yang kalau siaran analog hanya 1 siaran bersemut dan berbayang, dengan tv digital dapat ditingkatkan menjadi 10 siaran kualitas HD. Saya membayangkan jika migrasi digital kita mengikuti jadwal ASO - Analog Switch OFF tepat jadwalnya di 2018  maka permasalahan kuota internet pada orang tua murid bisa sedikit ditekan dengan siaran televisi pendidikan yang beragam channelnya.

Sebagai penutup marilah kita ikuti teleconfrence Bapak Presiden SOEHARTO saat meresmikan siaran TELEVISI PENDIDIKAN INDONESIA tahun 1991.



by : nyoman yudi kurniawan
pencinta elektronika dan tv satelit
ahocool@gmail.com

Share:

2 komentar:

Kontak Penulis



12179018.png (60×60)
+628155737755

HP: 081331339072
Mail : ahocool@gmail.com

Site View

Categories

555 (6) 7 segmen (3) adc (4) amplifier (2) analog (10) android (11) antares (3) arduino (14) attiny (1) attiny2313 (17) blog (1) bluetooth (1) cmos (2) crypto (2) dasar (35) display (3) esp8266 (3) gcc (1) iklan (1) infrared (2) Input Output (3) iot (16) jam (6) jualan (12) kereta api (1) keyboard (1) keypad (3) kios pulsa (2) kit (6) komponen (12) komputer (3) komunikasi (1) kontrol (4) lain-lain (8) lcd (2) led (9) led matrix (6) line tracer (1) lm35 (1) memory (1) metal detector (4) microcontroller (55) mikrokontroller (7) mikrotik (5) ninmedia (1) ntp (1) paket belajar (19) palang pintu otomatis (1) parabola (29) pcb (2) praktek (2) project (33) proyek (1) python (1) radio (3) raspberry pi (4) remote (1) revisi (1) rfid (1) robot (1) rpm (2) rs232 (1) script break down (3) sdcard (3) sensor (1) sharing (3) signage (1) sms (6) software (18) tachometer (2) telepon (7) televisi (58) television (2) transistor (1) troubleshoot (3) tulisan (55) tutorial (78) tvri (1) vu meter (2) vumeter (2) wav player (3) wayang (1) wifi (3)

Arsip Blog

Diskusi


kaskus
Forum Hobby Elektronika