"Kembali Ke Dasar Elektronika Digital ... "

  • IC Timer 555 yang Multifungsi

    IC timer 555 adalah sirkuit terpadu (chip) yang digunakan dalam berbagai pembangkit timer, pulsa dan aplikasi osilator. Komponen ini digunakan secara luas, berkat kemudahan dalam penggunaan, harga rendah dan stabilitas yang baik

  • Animasi LED Dengan IC 4017

    IC 4017 adalah IC 16-pin CMOS dekade counter dari seri IC CMOS 4000. Sangat berguna jika ingin membuat animasi lampu atau LED secara sederhana seperti led berjalan, tulisan berjalan , counter/timer dan masih banyak kegunaan lainnya

  • Bermain DOT Matrix - LOVEHURT

    Project Sederhana dengan Dot Matrix dan Attiny2313. Bisa menjadi hadiah buat teman atau pacarmu yang ulang tahun dengan tulisan dan animasi yang dapat dibuat sendiri.

  • JAM DIGITAL 6 DIGIT TANPA MICRO FULL CMOS

    Jika anda pencinta IC TTL datau CMOS maka project jam digital ini akan menunjukkan bahwa tidak ada salahnya balik kembali ke dasar elektronika digital , sebab semuanya BISA dibuat dengan teknologi jadul

  • BIKIN PCB SEDERHANA TAPI GA MURAHAN

    Bikin PCB itu ga susah kok..dengan software EAGLE CAD dan teknik sterika kamu dapat membuat PCB untuk berbagai project elektronika mu ...

Sabtu, 14 Juli 2012

Pemancar AM mini dengan IC 555

wew...ic 555 ternyata bisa digunakan sebagai pemancar AM juga looo
Prinsipnya adalah menumpangkan audio ke fungsi osilator dari rangkaian 555
Dari hasil googling menuntunku menuju ke  instructable.com dan memperoleh rangkaian sederhana seperti berikut ini :

Transistor bisa menggunakan 2N2222, 2N3904, BC317 dsb


Ternyata setelah dirangkai cukup susah menentukan frekuensi yg digunakan, karena yg dicari adalah harmonics dari rangkaian. Jadi putar tombol pesawat penerima pada frek MW 600khz kemudian di puter2 potensio/trimpot di pemancar sampe muncul suara tuitt tuitt....nah..saat ini boleh dimasukkan audio input. Berbeda dengan audio input pemancar fm 1 transistor, suara bas harus dikecilin, sebab prinsip AM adalah modulasi suara menjadi amplitudo (puncak) dari gelombang carier, jadi jika suara bas nya yg dominan, maka tedengar hanya suara puncak bas nya saja (brekk..brekk..jelek ).




Untuk memaksimalkan output dapat menggunakan antena yang lumayan panjang ( 2 meter cukup) yang dihubungkan dari kaki EMITER transistor, kemudian boleh dicoba menambahkan resistor <50 ohm (watt gede ) dan dihubungkan ke ujung antena yg satunya dan menuju ground. Dengan pengaturan yg pas, dan menjaga transistor tidak kepanasan, maka dapat diperoleh jangkauan lebih dan suara yg lebih jernih.

Sesuai prinsip harmonics dari osilator, maka siaran radio akan "meracuni" gelombang dengan jarak antara sekitar 1Mhz. Jadi jika Radiomu memiliki band SW1,2,3 dst  maka siaranmu dapat didengar diberbagai tempat.



Jika menginginkan pemancar AM yang lebih bagus dapat menggunakan rangkaian yang saya dapat di video youtube :





SELAMAT MENCOBA !


nb: kalo ada yg mau KIT & Komponennya bisa membeli ke yg punya blog 


Share:

Jumat, 06 Juli 2012

Menghitung RPM (TACHOMETER) dari Radiasi Kabel busi



RPM ( round per minute ) adalah angka yang menunjukkan banyaknya putaran suatu system dalam 1 menit. Biasanya dimanfaatkan sebagai penunjuk putaran mesin pada kendaraan bermotor, sehingga mempermudah dalam pengaturan tenaga dan bahan bakar. Alat pengukur ini lazim disebut TACHOMETER.

Pada sebuah kendaraan roda 2, putaran mesin dapat diperoleh dengan menghitung pulsa pada dinamo, tetapi hal ini susah karena harus membuka blok mesin. Cara paling mudah adalah dengan memanfaatkan radiasi dari CDI ke BUSI yang dapat dihitung jumlah pulsanya. Jadi dengan menggunakan prinsip radiasi elektromagnet, cukup dengan melilitkan kawat tembaga/email/enamel/kabel dinamo  ke kabel di dekat ujung tutup busi, maka tegangan yang konstan (pulsa) dapat diperoleh. Jumlah lilitan tidaklah penting, cukup dikira-kira saja sampai tegangan yg dihasilkan dapat mengaktifkan transistor sebagai switch penghitung.

Tidak perlu menunggu 1 menit untuk mengeluarkan nilai RPM, dengan memanfaatkan fasilitas counter pada microcontroller maka nilai RPM dapat diperoleh. Semisal kita melakukan sampling pengambilan data RPM per 1 detik. Maka RPM didapat melalui rumus :


RPM = Jumlah Pulsa  x 60

jika ingin lebih cepat, semisal 0,5 detik, maka nilai RPM didapat dengan mengalikan jumlah pulsa yg terjadi dengan angka 120.










Skematik dibawah ini memanfaatkan microcontroller attiny2313, dan menggunakan transistor sebagai switch pulsa.



klik biar lebih jelas




sedangkan scriptnya seperti berikut ini  (revised version):

#define F_CPU 1000000UL // frek clock internal
#include <avr/io.h>
#include <util/delay.h>
#include <avr/eeprom.h>
#include <avr/interrupt.h>
#include <avr/pgmspace.h> 

uint8_t angka1=10 ;
uint8_t angka2=10 ;
uint8_t angka3=10 ;
uint8_t angka4=10 ;
uint8_t segstep=0;

uint8_t kalibrasi=3;

int number=0;

void conv_segmen(uint8_t digit)//nampilin segmen

{
switch (digit) 
{

case 0 : 
{
PORTB &= ~_BV(PB0) & ~_BV(PB1) & ~_BV(PB2) & ~_BV(PB3) & ~_BV(PB4) & ~_BV(PB5);
PORTB |= _BV(PB6) ;
break;
}
case 1 :
{
PORTB &= ~_BV(PB1) & ~_BV(PB2) ;
PORTB |= _BV(PB0) | _BV(PB3) | _BV(PB4) | _BV(PB5) | _BV(PB6) ;
break;
}
case 2 : 
{
PORTB &= ~_BV(PB0) & ~_BV(PB1) & ~_BV(PB3) & ~_BV(PB4) & ~_BV(PB6) ;
PORTB |= _BV(PB2) | _BV(PB5) ;
break;
}
case 3 : 
{
PORTB &= ~_BV(PB0) & ~_BV(PB1) & ~_BV(PB2) & ~_BV(PB3) & ~_BV(PB6) ;
PORTB |= _BV(PB4) | _BV(PB5) ;
break;
}
case 4 :
{
PORTB &= ~_BV(PB1) & ~_BV(PB2) & ~_BV(PB5) & ~_BV(PB6) ;
PORTB |= _BV(PB0) | _BV(PB3) | _BV(PB4) ;
break;
}
case 5 : 
{
PORTB &= ~_BV(PB0) & ~_BV(PB2) & ~_BV(PB3) & ~_BV(PB5) & ~_BV(PB6) ;
PORTB |= _BV(PB1) | _BV(PB4) ;
break;
}
case 6 : 
{
PORTB &= ~_BV(PB0) & ~_BV(PB2) & ~_BV(PB3) & ~_BV(PB4) & ~_BV(PB5) & ~_BV(PB6) ;
PORTB |= _BV(PB1) ;
break;
}
case 7 : 
{
PORTB &= ~_BV(PB0) & ~_BV(PB1) & ~_BV(PB2) ;
PORTB |= _BV(PB3) | _BV(PB4) | _BV(PB5)| _BV(PB6) ;
break;
}
case 8 : 
{
PORTB &= ~_BV(PB0) & ~_BV(PB1) & ~_BV(PB2) & ~_BV(PB3) & ~_BV(PB4) & ~_BV(PB5) & ~_BV(PB6);
break;
}
case 9 : 
{
PORTB &= ~_BV(PB0) & ~_BV(PB1) & ~_BV(PB2) & ~_BV(PB3) & ~_BV(PB5) & ~_BV(PB6);
PORTB |= _BV(PB4) ;
break;
}
case 10 :
{
PORTB |= _BV(PB0) | _BV(PB1) | _BV(PB2) | _BV(PB3) | _BV(PB4) | _BV(PB5) | _BV(PB6) ;
break;
}
}
}



void init_ctr(void) //counter tampilan
{
TCCR0A |= (1 << WGM01); // Configure timer 0 for CTC mode
TIMSK |= (1 << OCIE0A); // Enable CTC interrupt
OCR0A = 50; // Set CTC compare value till blink disapear at 1MHz AVR clock, with a prescaler of 64
TCCR0B |= (1 << CS01)|(1 << CS00); // Start timer at Fcpu/64
}


void init_ctr1(void)//counter perhitungan 600ms sampling
{
TCCR1B |= (1 << WGM12); // Configure timer 1 for CTC mode
TIMSK |= (1 << OCIE1A); // Enable CTC interrupt 
OCR1A = 586; //compare the CTC A = 600ms =586
TCCR1B |= ((1 << CS10) | (1 << CS12)); // Start timer at Fcpu/1024
}


ISR(TIMER1_COMPA_vect) //timer capture RPM counter

{ uint16_t rpm;
switch(kalibrasi) { 
case 1 :{ 
rpm=number/100;
break; }

case 2 :{ 
rpm=number/10;
break; }

case 3 :{ 
rpm=number;
break; }

case 4 :{ 
rpm=number*10;
break; }

case 5 :{ 
rpm=number*100;
break; }
default: rpm=0;
}

angka1 = rpm%10;

if(rpm>9) angka2 = ((rpm%100) - (rpm%10)) /10 ;
else angka2=10;

if(rpm>99) angka3 = ((rpm%1000) - (rpm%100)) /100 ;
else angka3=10;

if(rpm>999) angka4 = ((rpm%10000) - (rpm%1000)) /1000 ;
else angka4=10;


number=0;
}

ISR(TIMER0_COMPA_vect) // timer pindah kolom
{
segstep++;
switch(segstep) { 
case 1 :{ conv_segmen(10);
PORTD |= _BV(PD0);
PORTD &= ~_BV(PD1) & ~_BV(PD4) & ~_BV(PD5) ;
conv_segmen(angka1);
break;
}

case 2 :{ conv_segmen(10);
PORTD |= _BV(PD1);
PORTD &= ~_BV(PD0) & ~_BV(PD4) & ~_BV(PD5) ;
conv_segmen(angka2);
break;
}
case 3 :{ conv_segmen(10);
PORTD |= _BV(PD4);
PORTD &= ~_BV(PD1) & ~_BV(PD0) & ~_BV(PD5) ;
conv_segmen(angka3);
break;
}
case 4 :{ conv_segmen(10);
PORTD |= _BV(PD5);
PORTD &= ~_BV(PD1) & ~_BV(PD4) & ~_BV(PD0) ;
conv_segmen(angka4);
segstep=0;
break; 
}
}
}


SIGNAL (SIG_INT0)
{
number++;

}

void tombol(void)
{

cli();
conv_segmen(10);

kalibrasi++;

if (kalibrasi == 6) kalibrasi=1;

eeprom_write_byte((uint8_t*)10, kalibrasi);


 _delay_ms(200); 
              sei();
}


void baca_eeprom(void)
{

kalibrasi = eeprom_read_byte((uint8_t*)10);

if(kalibrasi == 0xFF) kalibrasi=3;


}

int main(void)
{

GIMSK |= (1<<INT0); 
MCUCR |= (1<<ISC01)| (1<<ISC11); //fall edge 

DDRD |= _BV(PD0) | _BV(PD1) | _BV(PD4) | _BV(PD5) ; // seg select
                    DDRD &= ~_BV(PD3) ; // tombol
DDRB |= _BV(PB0) | _BV(PB1) | _BV(PB2) | _BV(PB3) | _BV(PB4) | _BV(PB5) | _BV(PB6) ; // seg a,b,c,d,e,f,g


init_ctr();
init_ctr1();
baca_eeprom();
sei();
while(1)

{
                    if(bit_is_clear(PIND, PD3) )
              {tombol;
                      } 
}
}


SELAMAT MENCOBA 
Share:

Selasa, 03 Juli 2012

Penemuan Xtal quartz sebagai penggerak "clock"






Penemuan xtal (quartz/kuarsa) oscillator pada awal abad 20 menjadi dasar pengembangan jam digital. Dengan berbagai aplikasi yg dapat dikerjakan oleh oscillator yg stabil ini membuat para produsen jam ingin memanfaatkannya sebagai oscillator pada jam.

Xtal Oscillator yg umumnya dipakai pada jam (yg dulunya selalu berlogo quartz) adalah memiliki frekuensi resonansi 32.768 hz. Nilai ini diperoleh dengan kompromi dunia BINER digital, dimana 2 pangkat 15 menghasilkan angka 32768. 

Piezoelektrik ditemukan oleh Jacques dan Pierre Curie pada tahun 1880. Paul Langevin pertama kali meneliti resonator kuarsa untuk digunakan dalam sonar selama Perang Dunia I. osilator kristal yang dikendalikan pertama, menggunakan kristal garam Rochelle, dibangun pada 1917 dan dipatenkan  pada tahun 1918 oleh Alexander M. Nicholson di Bell Telephone Laboratories, meskipun prioritasnya ditentang oleh Walter Guyton Cady . Cady dibangun osilator kristal kuarsa pertama tahun 1921. inovator awal lain dalam osilator kristal kuarsa termasuk GW Pierce dan Louis Essen.

Osilator kristal kuarsa dikembangkan untuk referensi frekuensi stabilitas tinggi selama tahun 1920-an dan 1930-an. Pada tahun 1926 kristal kuarsa digunakan untuk mengontrol frekuensi stasiun radio penyiaran dan populer pada operator radio amatir. Pada tahun 1928., Warren Marrison (dari Bell Telephone Laboratories) mengembangkan jam kristal kuarsa pertama. Penemuan ini menggantikan pelarian dan pendulum (sebagai referensi waktu), mengandalkan hanya pada getaran alami yang terjadi dalam kristal kuarsa sebagai osilator. Ini waktu perbaikan akurasi ke 1 detik dalam 30 tahun (atau 30 ms / tahun)  Memanfaatkan karya awal di Bell Labs, AT & T akhirnya mendirikan divisi Produk Frekuensi Kontrol yang dikenal hari ini sebagai Vectron Internasional.

Sejumlah perusahaan mulai memproduksi kristal kuarsa untuk digunakan elektronik selama ini. Menggunakan apa yang sekarang dianggap metode primitif, sekitar 100.000 unit kristal diproduksi di Amerika Serikat selama 1939. Selama Perang Dunia II, permintaan untuk kontrol frekuensi akurat radio militer dan angkatan laut dan radar mendorong perkembangan pesat industri manufaktur kristal kuarsa. Tipe yang sesuai dari kuarsa menjadi bahan yang langka sebelum ditemukan persedian yg banyak di Brasil.

Pada tahun 1968, Juergen Staudte menciptakan proses untuk pembuatan osilator kristal kuarsa saat bekerja di Amerika Utara Penerbangan (sekarang Rockwell). Staudte dipatenkan penemuannya, yang menggunakan proses photolithographic yang mirip dengan cara sirkuit terpadu yang dibuat. Pada tahun 1970 ia meninggalkan Amerika Utara Aviation untuk memulai perusahaannya sendiri, Statek, di Orange, California. Statek mulai memproduksi dan memasarkan osilator kuarsa pada tahun 1971.
Meskipun osilator kristal masih paling sering menggunakan kristal kuarsa, perangkat yang menggunakan bahan lain menjadi lebih umum, seperti resonator keramik.




(ada 3 part, sangat informatif )


Selanjutnya dengan perkembangan dunia elektronika yg sangat pesat di era 60-70 an , dimana microprocessor & chip semakin kecil dan terjangkau , jam tangan digital pertama diproduksi sekitar tahun 1968


Pada tahun 1972 Jam digital pertama dengan merek "PULSAR" keluar dipasaran dengan display berupa LED 7-segmen dan dinyatakan sebagai " the first all-electronic wristwatch"

 

Pada tahun 1974 Microma LCD wrist watch keluar yang bekerjasama dengan seiko , dan diklaim sebagai "The First System-On-Chip Integrated Circuit LCD watch" 






TIME LINE JAM DIGITAL

sumber : http://invention.smithsonian.org/cen...artz/timeline/


1880 
Pierre Curie discovers piezoelectricity.

1888 
Friedrich Reinitzer and Otto Lehmann discover liquid crystals

1927 
Warren Marrison invents the 1st quartz clock

1954
First watch batteries

1959 
Invention of the integrated circuit

1961-2 
Development of light-emitting diodes.

1967
The Beta 21 is the 1st quartz watch prototype

1968 
Development of Liquid crystal displays

1969 
Seiko introduces the Astron to the Japanese market

1970 
The Pulsar is the 1st digital watch

1976 
The 1st watch under $20

1983 
The Swiss introduce the Swatch
Share:

Kontak Langsung



12179018.png (60×60)
+628155737755

HP: 081331339072
Mail : ahocool@gmail.com

ANTI SPAM !



Blog Ini Mendukung Blogger Indonesia Yang Jujur dan Memberikan Informasi Sebenarnya, Bukan Menyampah Demi $Rp$ Yang Hanya Merendahkan Blogger Indonesia

Site View

Categories

555 (6) 7 segmen (3) adc (3) amplifier (1) analog (9) android (11) attiny (1) attiny2313 (16) blog (1) bluetooth (1) cmos (1) dasar (31) display (2) gcc (1) infrared (2) Input Output (3) jam (6) jualan (12) kereta api (1) keyboard (1) keypad (3) kios pulsa (2) kit (6) komponen (9) komputer (3) komunikasi (1) kontrol (2) lain-lain (8) lcd (2) led (9) led matrix (6) line tracer (1) lm35 (1) memory (1) metal detector (4) microcontroller (48) mikrokontroller (1) mikrotik (4) paket belajar (19) palang pintu otomatis (1) parabola (7) pcb (2) project (33) proyek (1) radio (3) remote (1) revisi (1) rfid (1) robot (1) rpm (2) rs232 (1) script break down (3) sdcard (3) sensor (1) sharing (2) sms (5) software (16) tachometer (2) telepon (7) televisi (31) transistor (1) troubleshoot (3) tulisan (36) tutorial (69) vu meter (1) vumeter (1) wav player (3) wayang (1) wifi (1)

Diskusi


kaskus
Forum Hobby Elektronika